Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa yang kedatangannya disambut dengan penuh suka cita oleh seluruh umat muslim di dunia. Begitupun dengan seluruh warga Yayasan Al Muslim Tambun yang menyambut gembira bulan nan suci ini. Bukan tanpa alasan, bulan Ramadhan begitu dirindukan karena di dalamnya bertabur keberkahan yang tidak ditemukan di bulan-bulan lainnya.

Rasulullah bersabda : Telah datang bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (HR Ahmad). Keistimewaan inilah yang menjadikan Ramadhan bukan sekadar ibadah menahan lapar dan haus, melainkan momentum besar untuk memperbaiki diri.

Di lingkungan Al Muslim, Ramadhan dimaknai sebagai Madrasah Karakter—ruang pembinaan yang menanamkan nilai-nilai akhlak mulia secara menyeluruh. Puasa tidak hanya dipahami sebagai ibadah menahan lapar dan haus, tetapi juga latihan pengendalian diri. Siswa belajar menjaga lisan dari perkataan sia-sia, menahan emosi, serta mengendalikan sikap, baik dalam interaksi langsung maupun di ruang digital.

Di era digital, tantangan pembentukan karakter semakin kompleks. Gadget dan media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan peserta didik. Di sini, guru memegang peran penting sebagai nahkoda dan figur penting yang mencontohkan bagaimana lisan dan ibu jari di media sosial harus dijaga. Di bawah bimbingan guru, peserta didik diajarkan bahwa puasa tidak hanya menahan haus dan lapar, tetapi juga berpuasa dari konten negatif dan komentar yang tidak bermanfaat agar ibadah puasa di bulan yang teramat istimewa ini tidak sia-sia.

Hal ini selaras dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah bersabda : Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan hausnya saja. Berapa banyak orang yang bangun malam, tidak mendapat pahala kecuali hanya bangun malamnya saja (H.R. Baihaqi dan Hakim). Lebih lanjut, diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda : Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum saja, puasa adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan keji (H.R. Hakim).

Oleh karena itu, aktivitas digital siswa perlu diarahkan agar tidak mengurangi atau menghilangkan pahala dan kebaikan puasa yang telak dilalui karena hal tersebut termasuk sangat merugi. Dan sekali lagi, guru memegang peran besar sebagai fasilitator yang mengubah tantangan gadget dan media sosial menjadi peluang menebar dan memperoleh kebaikan. Guru menunjukkan bagaimana bermedia sosial dengan santun, menyaring konten dengan bijak, serta menjadikan teknologi sebagai sarana menebar kebaikan. Melalui arahan guru, siswa diajak memanfaatkan gadget untuk membaca Al-Qur’an, hafalan Al-Qur’an dengan asisten digital, mengikuti kajian daring, membuat konten Inspiratif, membuat dan mengerjakan kurikulum ramadhan, mengingatkan amalan ramadhan melalui media sosial, mengasah bakat menggunakan gadget, hingga sedekah digital. Dengan demikian, teknologi menjadi lebih bermanfaat, bermakna, serta berubah menjadi ladang amal.

Di samping itu, penumbuhan akhlak mulia juga tak luput dan menjadi fokus utama. Guru menanamkan pentingnya integritas, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Setiap momen Ramadhan dimanfaatkan untuk melatih kemandirian siswa, mulai dari disiplin waktu shalat berjamaah hingga menjaga kebersihan lingkungan sekolah sebagai bentuk syukur atas nikmat menuntut ilmu. Lebih jauh lagi, aspek empati diasah melalui aksi nyata yang menggembirakan. Guru membimbing siswa untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama melalui program berbagi takjil atau santunan, sehingga rasa syukur tersebut mewujud dalam kepedulian sosial yang tulus. Melalui interaksi ini, siswa belajar bahwa tangan di atas lebih mulia dan kebahagiaan sejati justru hadir saat kita mampu memberi manfaat bagi orang lain.

Nilai-nilai tersebut diperkuat melalui refleksi diri, agar perubahan yang terjadi tidak berhenti di bulan suci saja, tetapi terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya, melalui sinergi antara pembinaan spiritual dan literasi digital yang bijak, Ramadhan di Al Muslim menjadi proses transformasi yang nyata. Dari sinilah lahir generasi yang tidak hanya unggul secara akademis dan cakap teknologi, tetapi juga kokoh iman serta mulia akhlaknya dan siap menjadi pribadi yang membawa kebaikan bagi masyarakat dan masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *