Tahun ajaran 2025-2026 adalah tahun pertama kali saya mengejar di kelas 1 tepatnya 1 Abu Bakar Ash-Shidiq SD Al Muslim. Hari pertama masuk sekolah terasa istimewa sekaligus menegangkan. Anak-anak yang baru saja bertransisi dari TK ke SD memiliki energi dan emosi yang sangat beragam. Saat MPLS dimulai, banyak anak meneteskan air mata. Mereka enggan berpisah dengan orang tua, takut dengan lingkungan baru, bahkan ada yang pipis di celana karena cemas. Sebagai guru baru di kelas 1, perasaan saya campur aduk antara gurup dan penuh antusias. Di balik senyum saya tersimpan harap agar saya bisa menjadi pelindung sekaligus pemandu bagi anak-anak kelas 1 Abu Bakar. Melihat keadaan itu, saya menahan haru sekaligus berusaha tersenyum memberi semangat agar mereka tidak semakin ketakutan.

Minggu-minggu pertama sangat berat. Saya ingat betapa sulitnya membujuk Almeer yang setiap pagi sampai siang menangis keras memanggil mamahnya. Saya mencoba menenangkan Almeer dengan membawanya duduk dipangkuan, perlahan mengenalkan ruang kelas sedikit demi sedikit sambil menunjukkan mainan edukatif sederhana. Walau masih dalam suasana hati yang sedih beberapa saat kemudian tangis nya mereda, dan akhirnya Almeer mau bermain belajar di kelas bersama teman-teman. Begitu juga dengan Ayman, yang setiap saat selalu menangis dan berkata“Aku cape, mau pulang 😓”. Saya duduk bersama nya di pojok baca, mengambil buku cerita dan membacakan cerita untuk Ayman. Ayman mendengarkan cerita yang saya bacakan dengan antusias. Perlahan Ayman berhenti menangis dan ikut membaca buku, tertawa saat membaca cerita yang lucu. Dari situ Ayman mulai lebih tenang menjalani pembelajaran di kelas.

Memasuki semester dua, saya melihat perubahan yang mengharukan pada anak-anak kelas 1 Abu Bakar. Mereka yang dulu kebingungan mengakses alat belajar (tablet) sendirian kini sudah siap berkarya di bangku masing-masing. Arsy berani maju ke papan tulis menuliskan jawaban dengan baik padahal semester satu ia menangis saat diminta membaca satu kata. Almeer yang dulu selalu menangis memegang erat tangan mamahnya di depan kelas sekarang berani mencium tangan mamahnya di halaman luar sekolah dan berkata “Mah, aku sekolah ya” lalu berjalan sendiri ke kelas sambil melambaikan tangan. Saya tersenyum melihat Allea, si pemalu yang dulu enggan bicara, kini berani bercerita. Anak-anak lain juga menunjukkan keberanian baru di sudut kelas, Claraza terlihat lebih percaya diri saat menyebutkan jawaban di depan saya.

Tantangan di kelas 1 memang tak mudah.  Di balik setiap tangis dan tawa mereka, tersimpan pelajaran berharga bagi kita semua. Ada momen ketika saya harus sabar menjelaskan bahwa mereka bisa melakukan lebih banyak dari yang mereka kira, atau saat saya harus tegas menghadapi anak yang sulit duduk diam. Semua itu menemoa karakter saya juga. Saya belajar mendidik dengan hati, bukan hanya otak. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa setiap guru adalah pembelajar seumur hidup. Setiap anak disini mengajarkan saya arti kesabaran dan kreativitas dalam mengajar. Saya menyusun kegiatan yang menyenangkan, bermain puzzle edukatif, bernyanyi bersama, menari bersama, dan games edukatif lainnya. Anak-anak menjadi lebih antusias dan tanpa sadar mereka melatih konsentrasi, kerja sama, kemandirian, dan keberanian.

Kisah kami ini saya ingat sebagai bagian kecil perjalanan panjang SD Al Muslim menuju emas. Sebentar lagi Al Muslim genap berusia 47 tahun. Sekolah ini melahirkan banyak generasi yang gigih berprestasi dan rendah hati. Saya merasa bangga menjadi salah satu pelanjut tradisi itu. Refleksi 47 tahun ini mengingatkan saya bahwa penantian dan perjuangan selalu berbuah manis. Setiap tetes keringat saat membimbing anak membaca huruf abjad, atau detik-detik hati berdebar ketika berdiri di depan kelas sambil mendengat celoteh polos mereka, semua itu saya ingatt sebagai bukti bahwa proses panjang itu berarti. Dari kelas sederhana inilah saya merangkai harapan bahwa setiap anak dengan karakter dan kompetensi yang kami bina, siap melangkah menuju masa depan gemilang. Bersama mereka, saya yakin Al Muslim akan melahirkan generasi emas bangsa.

Saat menulis cerita ini, saya merasa setiap langkah yang kami tempuh layak dibagikan.  Kelas 1 Abu Bakar bukan sekedar kelas baru bagi saya, melainkan saksi bagaimana tangis berubah menjadi tawa keberhasilan, rasa takut beralih menjadi keberanian. Menuju Al Muslim Emas berarti bahwa proses panjang yang menguatkan karakter dan menjamkan kompetensi. Saya bersyukur bisa ikut melukis harapan itu bersama murid-murid saya. Semoga cerita sederhana ini menjadi cermin bahwa perjaalanan Pendidikan, betapa pun sulitnya, menumbuhkan karakter tangguh dan kompetensi unggul pada anak-anak. Besar harapan saya agar semangat ini menular ke guru dan orang tua, demi masa depan Al Muslim yang semakin cerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *