Abad 21 penuh dengan tantangan dan sekaligus kemudahan untuk manusia, AI salah satu kecerdasan intelijen yang diciptakan oleh manusia modern, AI menjadi media yang banyak diandalkan manusia di seluruh penjuru bumi ini, platform ini terbukti mampu memberikan kecepatan atas segala pekerjaan manusia, sehingga banyak yang terbantukan dengan kehadiran AI tersebut. Walaupun demikian AI juga bisa berdampak buruk bagi proses manusia itu sendiri, diantara salah satunya ialah bagi perkembangan nalar kritis murid di sekolah.
Kehadiran AI di tengah-tengah masyarakat tidak bisa dihindarkan, semua orang bisa mendapatkan informasi dengan super cepat tanpa harus mencari jurnal penelitian yang terkait terlebih dahulu. Memberikan informasi super realistis dan mampu melampaui kecerdasan manusia secara umum. Salah satu yang menjadi pengguna aktif dari fitur ini adalah murid-murid yang ada di sekolah, kenapa demikian terjadi dikarenakan tugas-tugas yang tadinya teramat sulit apabila dikerjakan secara manual namun akan menjadi sangat mudah apabila meminta bantuan kepada AI.
Sudah menjadi fenomena umum terkait contoh diatas, bahkan sekedar memberikan pandangan sederhana saja murid dengan mudahnya menyerahkan tugas tersebut kepada AI. Bukankah merupakan sesuatu yang janggal, pun sama halnya yang dilakukan oleh guru dalam menunjang proses pembelajaran di kelas yang menggunakan AI sebagai alat bantu. Hal demikian seperti sudah menjadi suatu alat bantu dalam dunia pendidikan lebih-lebih sekolah yang menjadikan fasilitas teknologi dalam menunjang proses belajar mengajar di kelas.
Ini bukan lagi menjadi sebuah momok melainkan menjadi suatu kebiasaan baru yang harus dimaklumi, ini bukan suatu fenomena melainkan bentuk dari kemajuan peradaban manusia. Kita sebagai manusia modern apabila menolak keberadaan kecerdasan tersebut sama saja kita sebagai manusia dengan pola pikir yang kolot tak mau menerima dari evolusi teknologi. Dahulu mungkin manusia banyak yang menolak kehadiran handphone layar sentuh, tetapi seiring berjalannya waktu mampu menerima dan beradaptasi bahkan saat ini hampir seluruh manusia menggunakan handphone layar sentuh.
Sama halnya dengan AI tersebut, kedepan kita akan menjadikannya suatu kebutuhan hidup. Namun bukan berarti ini adalah suatu kecerdasan yang tidak memiliki dampak negatif, tentu saja apabila dilihat dari sudut yang berbeda banyak sekali dampak negatif yang bisa diberikan kepada manusia dan yang lebih memprihatinkan manusia tersebut tidak menyadari bahwa itu bukan merupakan dampak negatif dalam artian ini adalah hal biasa saja dan lumrah di kalangan umum.
Murid tidak pernah merasa bosan menggunakan AI, semakin memudahkannya justru semakin memanfaatkannya, namun yang sering menjadi keluhan para pengajar yaitu apabila murid diminta untuk mengutarakan isi pikirannya, bukannya berpikir melainkan dengan spontan membuka AI dan langsung mengetik prompt seperti apa yang ditanyakan oleh guru. Bagaimana perasaan guru tersebut apabila hal ini menjadi suatu kebiasaan dan menjadi budaya baru bagi para murid. Bukankah hal ini sangat miris dan inilah contoh nyata dari dampak negatif langsung dari AI.
Guru tidak melarang murid untuk menggunakan AI sebagai penunjang pembelajaran, tetapi apabila tidak diterapkan norma-norma maka tidak akan ada esensi dari pendidikan itu sendiri. Jikalau menjadikan AI salah satu sumber belajar atau mungkin menjadikannya solusi untuk meningkatkan kreativitas siswa sudah barang tentu dimaklumi. Dampak dari penggunaan AI tergantung pada penggunanya, bisa berdampak positif atau bahkan berdampak negatif.
Selanjutnya yang menjadi pertanyaan ialah apabila terdapat murid yang menjadikan AI sebagai sumber utama bukan sebagai sumber bantu apakah ini sepenuhnya kesalahan murid atau guru yang bertanggung jawab dalam kasus tersebut, apakah guru dalam hal ini gagal dalam mendidik murid, disinilah peran guru sangat dibutuhkan dalam menanamkan nilai-nilai karakter baik kepada seluruh murid. Tentunya guru ikut bertanggung jawab atas perlakuan murid tersebut namun perlu menerapkan treatment yang sesuai.
Penganalogian yang baik dan benar sangat dibutuhkan, mengetahui latar belakang kenapa murid melakukan kesalahan, dan memberikan gambaran dampak negatif kedepannya. Tentunya nalar kritis yang timbul dari isi kepala sangat dibutuhkan serta keberanian untuk mengemukakan pendapat amat penting, maka dalam metode pembelajaran ada yang bernama pembelajaran berbasis pemecahan masalah, bukan berarti AI yang harus memecahkan masalahnya tetapi pola pikir itu sendiri.
Proses pembatasan AI sangat dibutuhkan dan penggunaan secukupnya, maka dari itu stimulus berpikir kritis bisa dilatih dengan diskusi dengan rutin antara guru dan murid maka keniscayaan akan murid yang memiliki pikiran yang kreatif, kritis, dan inovatif akan tercapai. Ketika tantangan itu datang maka guru harus siap mengadaptasikan kedalam bentuk yang positif bukan justru sebaliknya, kerjasama dan kesepakatan antar guru murid juga sangat diperlukan dikarenakan dengan demikianlah proses pembelajaran akan berjalan sesuai dengan keinginan.
Penulis: M. Aris, S.Pd.
