Beberapa hari yang lalu kita semua tentunya membaca atau mendengar berita di berbagai platform digital tentang aksi tak terpuji yang dilakukan oleh beberapa siswa di salah satu SMA di Purwakarta dengan mengacungkan jari tengah ke guru mereka sendiri. Tentu saja kejadian ini membuat kita sebagai pendidik merasa prihatin dan kecewa dengan kelakuan beberapa siswa tersebut. Apalagi di jawa barat sedang melaksanakan kampanye pendidikan karakter melalui kegiatan panca waluya. menurut praktisi pendidikan, dikutip dari metrotvnews.com, Agus Muharam berpendapat bahwa kejadian ini adalah dampak karena perlindungan guru kurang diperhatikan, guru bersalah sedikit dilaporkan kepada kepolisian. menurutnya, sekarang bukan murid yang takut guru tetapi guru yang takut oleh murid.

Kejadian viral di salah satu SMA di Purwakarta tersebut merupakan fenomena gunung es dari tantangan pendidikan karakter di era digital saat ini. siswa mungkin lebih mahir menggunakan teknologi, -misalnya dalam hal membuat konten – daripada gurunya sendiri. namun, mereka gagal memahami batas etika dan konsekuensi dari tindakan mereka. Padahal adab harus lebih tinggi daripada ilmu, sesuai dengan pepatah arab “ Al Adabu Fauqol ilmi” yang artinya adab lebih tinggi daripada ilmu. Percuma saja siswa kita cerdas-cerdas, tapi kalau adabnya kurang tentu hal ini tidak bisa kita terima. Kecerdasan tanpa karakter hanya akan melahirkan perilaku yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Siswa sekarang haus akan validasi, kecenderungan remaja saat ini adalah mereka melakukan tindakan provokatif demi mendapatkan perhatian media sosial, tanpa memikirkan harga diri guru dan dampak sosialnya.

Pendidikan sering terjebak pada angka dan nilai akademis saja. Dalam Praktik pendidikan yang ideal, sekolah seharusnya menjadi tempat dimana nilai-nilai karakter dijunjung tinggi. Menanamkan karakter yang baik kepada siswa tentu bukan hal yang mudah bagi guru, guru tidak hanya memberikan motivasi dan ceramah tentang pentingnya karakter, tapi juga harus menjadi contoh yang baik bagi siswanya. Dalam ekosistem yang sehat, guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi berperan sebagai fasilitator pembelajaran kontekstual yang mampu menyentuh sisi humanisme siswa. Keberhasilan guru dan sekolah tidak hanya diukur dari prestasi angka dan lomba, melainkan dari peningkatan perilaku dan kesadaran kolektif warga sekolah. Ketika karakter siswa menguat, mereka akan memiliki keterampilan hidup yang baik dan menanamkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupannya. Kasus di salah satu SMA di Purwakarta tersebut seharusnya menjadi alarm bagi kita sebagai pendidik dan seluruh orang tua maupun praktisi pendidik. kita harus kembali ke akar pendidikan yang bertujuan membentuk manusia seutuhnya, yakni menjadi manusia yang Cageur (Sehat): Sehat secara jasmani dan rohani, Bageur (Baik): Berakhlak baik, berperilaku terpuji, dan peduli, Bener (Benar/Jujur): Jujur, tepat, dan sesuai aturan, Pinter (Pintar): Cerdas, berwawasan, dan kompeten, dan Singer, (Terampil/Gesit): Terampil, cekatan, dan mampu mengelola diri. Tentu saja transformasi pendidikan yang berkelanjutan hanya bisa terlaksana jika ada komitmen satuan pendidikan saling berkolaboratif menanamkan adab di atas ilmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *