Dahulu, halaman di sekitar rumah menjadi tempat belajar yang sangat dekat bagi anak. Di sana mereka dapat merasakan tanah, mengamati hewan kecil, mengenal berbagai tanaman, serta melihat orang tua merawat bunga dan tumbuhan. Pengalaman sederhana seperti itu sebenarnya menjadi awal bagi anak untuk mengenal dan menyayangi lingkungan.

Namun, kesempatan tersebut semakin berkurang. Banyak ruang terbuka berubah menjadi bangunan atau permukaan yang tertutup, sementara perhatian anak juga sering tersita oleh perangkat digital. Akibatnya, sebagian anak lebih akrab dengan dunia permainan di layar daripada dengan tumbuhan dan lingkungan yang ada di sekitar.

Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya dikenalkan melalui penjelasan.
Anak membutuhkan pengalaman langsung agar dapat memahami maknanya. Karena itu, guru dan orang tua dapat menghadirkan kembali kegiatan sederhana yang memungkinkan anak berinteraksi dengan alam, baik di rumah maupun di sekolah.

Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah mengenalkan anak pada sisa bahan dari dapur. Kulit pisang, kulit telur, dan daun kering dapat dibawa ke kelas untuk diperkenalkan sebagai bahan yang dapat dipilah dan dimanfaatkan. Anak dapat belajar membedakan sampah organik dan sampah yang tidak mudah terurai dengan bahasa yang sederhana dan sesuai dengan usia mereka. Kegiatan tersebut dapat dibuat lebih menarik melalui pengolahan sampah organik menjadi
kompos. Anak-anak dapat membantu meremas daun kering atau menghancurkan kulit telur dengan pendampingan guru. Mereka mungkin pulang dengan tangan yang kotor, tetapi dari pengalaman itu mereka memahami bahwa sesuatu yang dianggap sampah masih dapat memiliki manfaat apabila dikelola dengan tepat. Di sinilah sikap bertanggung jawab mulai dikenalkan.

Kegiatan lain yang sederhana adalah memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk merawat satu tanaman. Tanaman tidak harus mahal atau sulit ditemukan; anak dapat membawa tanaman dari rumah. Setiap pagi, mereka diberi kesempatan menyiram dan mengamati perkembangannya sebelum memulai kegiatan belajar.

Dari rutinitas tersebut, anak belajar bertanggung jawab melalui pengalaman nyata.
Mereka dapat melihat bahwa tanaman membutuhkan air dan perhatian. Ketika tanaman kurang dirawat, daunnya dapat terlihat layu, sedangkan perawatan yang baik dapat mendorong munculnya pertumbuhan baru. Satu kegiatan sederhana sekaligus dapat mengenalkan sains, kesabaran, kepedulian, dan empati.

Kepedulian terhadap lingkungan juga dapat dibangun melalui suasana kelas. Hiasan kelas tidak harus selalu menggunakan bahan baru atau barang yang dibeli. Guru dan anak dapat memanfaatkan barang bekas, seperti botol, kardus, dan daun kering, untuk menghasilkan karya. Pewarna alami dari bahan yang mudah ditemukan, misalnya kunyit atau daun tertentu, juga dapat digunakan dalam kegiatan seni.

Melalui kegiatan tersebut, anak memahami bahwa barang yang sudah digunakan belum tentu harus langsung dibuang. Botol dapat diubah menjadi karya, sedangkan kardus dapat dimanfaatkan menjadi alat bermain. Anak pun belajar melihat barang dari sudut pandang yang lebih kreatif sekaligus mengenal kebiasaan menggunakan kembali benda yang masih dapat dimanfaatkan.

Sekolah juga dapat membuat kebiasaan sederhana untuk mengurangi sampah plastik. Misalnya, anak dibiasakan membawa makanan menggunakan wadah dari rumah dan membawa botol minum yang dapat diisi kembali. Pada awalnya mungkin ada anak yang merasa kurang nyaman, tetapi kebiasaan tersebut dapat menjadi lebih mudah ketika dilakukan secara bersama-sama dan disertai contoh dari orang dewasa.

Menumbuhkan kepedulian lingkungan pada anak usia dini bukan berarti menuntut mereka menjadi ahli atau aktivis lingkungan. Tujuan utamanya adalah membangun kepekaan melalui kebiasaan sehari-hari. Anak belajar bahwa air perlu digunakan secukupnya, tanaman harus dirawat, sampah perlu ditempatkan sesuai jenisnya, dan barang yang digunakan perlu dikembalikan ke tempat semula.

Karakter tersebut tumbuh dari tindakan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Guru dan orang tua dapat mengajak anak memilah sampah, merawat tanaman, menjaga kebersihan kelas, serta mengurangi penggunaan barang sekali pakai. Jika kebiasaan itu dilakukan bersama dan konsisten, nilai kepedulian akan semakin melekat dalam kehidupan anak.

Pada akhirnya, pendidikan lingkungan sejak usia dini bukan hanya tentang menjaga
kebersihan hari ini. Lebih jauh, kegiatan tersebut membantu anak memahami bahwa lingkungan adalah bagian dari kehidupan yang harus dihargai dan dijaga. Dengan membiasakan anak peduli sejak sekarang, kita sedang membantu menyiapkan generasi yang mampu merawat bumi dengan penuh tanggung jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *