Pernahkah kita memperhatikan cara siswa menggunakan waktu saat mereka memegang ponsel cerdas? Beberapa tampak asyik menonton video, membaca interaksi di media sosial, bermain permainan, atau mencari informasi terkait minat mereka. Dari kebiasaan ini, sebenarnya ada kesempatan yang dapat dimanfaatkan oleh para guru untuk menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah. Literasi tidak selalu harus dimulai dengan membaca buku tebal atau menulis karya panjang. Memahami informasi dengan seksama, menyerap pesan dari sebuah video, membandingkan beberapa sumber informasi, serta menyampaikan pendapat dengan jelas juga termasuk dalam aktivitas literasi.
Sebagai pendidik, saya menyadari bahwa tantangan kita saat ini bukan hanya mengajak siswa untuk membaca, tapi juga membantu mereka mengerti pentingnya membaca dan menulis. Siswa perlu merasa bahwa literasi bukan sekadar tugas sekolah, melainkan persiapan untuk memahami dunia dan menyampaikan ide-ide mereka kepada orang lain. Dalam konteks Indonesia, aktivitas literasi memiliki makna yang lebih luas. Bahasa Indonesia tidak hanya sekadar pelajaran atau alat untuk menyusun kalimat. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai jembatan yang memungkinkan orang dari berbagai daerah saling memahami, berbagi pemikiran, dan membangun rasa persatuan sebagai bangsa.
Di tengah berbagai perbedaan itu, bahasa Indonesia memiliki peran yang signifikan sebagai penghubung antar daerah. Melalui bahasa yang dimengerti bersama, siswa dari berbagai latar belakang dapat berdiskusi, berkolaborasi, dan saling tahu tanpa kehilangan identitas budaya asal mereka. Nilai patriotisme yang ada pada Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 sebagai pemersatu tali kebangsaan dan persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Semangat ini tetap relevan untuk diterapkan di dalam kelas saat ini. Salah satu cara untuk melaksanakannya adalah dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menceritakan budaya daerah mereka menggunakan bahasa Indonesia yang jelas dan mudah dipahami. Bagi saya, budaya literasi akan lebih bermakna jika siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga belajar untuk menghargai perbedaan dan memahami makna persatuan. Di tengah berbagai perbedaan itu, bahasa Indonesia memiliki peran yang signifikan sebagai penghubung antar daerah.
Melalui bahasa yang dimengerti bersama, siswa dari berbagai latar belakang dapat berdiskusi, berkolaborasi, dan saling tahu tanpa kehilangan identitas budaya asal mereka. Semangat ini tetap relevan untuk diterapkan di dalam kelas saat ini. Salah satu cara untuk melaksanakannya adalah dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menceritakan budaya daerah mereka menggunakan bahasa Indonesia yang jelas dan mudah dipahami. Siswa dapat diajak membuat tulisan berdasarkan hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti makanan favorit dari daerah asal, permainan yang diwariskan secara turun-temurun, kesenian setempat, sosok inspiratif di lingkungan sekitar, maupun kenangan bersama keluarga. Melalui tulisan tersebut, mereka berkesempatan mengenal latar belakang dan kebiasaan teman-temannya. Pengalaman ini dapat menumbuhkan sikap saling menghargai sekaligus menyadarkan siswa bahwa keberagaman yang ada di sekitar mereka merupakan kekayaan yang patut dijaga bersama. Memperkuat budaya membaca dan menulis ialah tentang mendukung siswa dalam mengembangkan koneksi yang lebih baik dengan pengetahuan, bahasa, dan orang-orang di sekeliling mereka, membaca memperkenalkan mereka pada beragam gagasan, menulis memungkinkan mereka untuk menyampaikan pemikiran, sementara berdiskusi melatih mereka untuk memahami perspektif yang berbeda. Melalui pembelajaran yang menarik dan beragam, kegiatan literasi dapat menjadi bagian yang menyenangkan dari proses belajar siswa. Mereka membaca bukan hanya untuk menjawab soal, tetapi juga untuk menambah wawasan dan memahami kehidupan di sekitarnya.
Begitu pula dengan menulis, yang dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pemikiran, menuangkan kreativitas, dan membagikan informasi kepada orang lain. Semangat persatuan melalui bahasa Indonesia perlu terus ditanamkan dalam keseharian di sekolah. Hal ini dapat dimulai dari kegiatan sederhana, seperti membaca kisah inspiratif, menuliskan pengalaman, menghargai pendapat teman, hingga membuat karya yang mengenalkan beragam tradisi dan budaya Indonesia. Dengan kemampuan literasi yang baik, mereka juga diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab dan menggunakannya untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
