Belajar Karakter Lewat Kegiatan Mengaji di Al MuslimDi pagi yang cerah, siswa kelas 2 berjalan dari ruang kelas menuju gazebo tempat mereka biasa mengaji. Mereka berjalan bersama-sama dengan wajah yang ceria. Setelah semua berkumpul, anak-anak duduk di lantai gazebo dengan rapi membentuk huruf U. Mereka pun sudah membawa buku jilid Tilawati untuk belajar. Suasana pagi itu terasa tenang.

Sebelum pelajaran dimulai, anak-anak diingatkan bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Mereka diajak memahami bagaimana sikap seorang anak yang soleh dalam mempersiapkan diri menyambut bulan suci. Saat itu anak-anak mendengarkan dengan baik, duduk rapi, dan berusaha tenang. Tidak ada yang berlarian, walaupun masih ada satu dua anak yang sesekali bercanda, tetapi kegiatan tetap berjalan dengan tertib.
Kegiatan mengaji tidak hanya tentang belajar membaca Al Qur’an, tetapi juga menjadi ruang untuk menanamkan adab dan kebiasaan baik. Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar duduk dengan tertib, menunggu giliran membaca, serta mendengarkan ketika temannya sedang membaca.
Dalam prosesnya, terlihat bagaimana anak-anak belajar bersabar. Tidak semua anak langsung lancar membaca. Ada yang masih harus mengulang beberapa kali,dan ada pula yang suaranya masih pelan karena merasa kurang percaya diri. Pada saat seperti itu, bacaan dibenarkan secara perlahan agar anak tetap merasa nyaman dan berani mencoba kembali.
Selain belajar bersabar, anak-anak juga dilatih untuk fokus. Mereka belajar duduk di tempatnya dan memperhatikan bacaan, meskipun godaan untuk bercanda tetap ada. Perlahan, anak-anak belajar mengendalikan diri dan memusatkan perhatian pada kegiatan yang sedang berlangsung.
Nilai-nilai seperti kesabaran dan pengendalian diri semakin ditekankan dalam suasana menyambut Ramadhan. Anak-anak dibiasakan untuk tidak menyela bacaan teman dan menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung. Kebiasaan ini menjadi bagian dari latihan sikap yang dilakukan secara konsisten.
Dalam kegiatan mengaji, peran guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping. Peran pendamping dalam kegiatan ini bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menjaga suasana belajar tetap kondusif. Ketika ada anak yang kurang fokus, pengingat diberikan dengan cara yang baik. Arahan disampaikan tanpa membuat suasana menjadi tegang. Dari interaksi sehari-hari inilah anak-anak belajar bahwa sikap santun dapat dicontohkan dalam tindakan nyata.

Tantangan dalam menumbuhkan karakter tentu selalu ada. Setiap anak memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang mudah diarahkan, ada juga yang memerlukan pengingat berulang kali. Dalam kondisi seperti ini, pendampingan dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan anak, sehingga proses belajar tetap berjalan dengan nyaman.
Kegiatan mengaji juga menjadi ruang untuk menanamkan adab terhadap Al Qur’an. Anak-anak dibiasakan memegang buku dengan baik dan tidak meletakkan sembarangan. Kebiasaan ini terus diingatkan agar menjadi bagian dari keseharian, sehingga anak-anak belajar menghargai apa yang sedang mereka pelajari.
Menjelang Ramadhan, kegiatan mengaji menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan anak-anak secara perlahan. Mereka belajar menenangkan diri, belajar mendengarkan, dan belajar bersikap tertib. Semua itu dilakukan sebelum Ramadhan benar-benar dimulai.
Dalam proses tersebut, pembelajaran tidak hanya dirasakan oleh anak-anak, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi pendidik. Setiap pertemuan menghadirkan tantangan sekaligus pembelajaran, yang dijalani bersama dalam suasana sederhana.
Melalui kegiatan mengaji, peserta didik tidak hanya belajar membaca Al Qur’an , tetapi juga dibimbing untuk memiliki sikap yang baik. Disiplin, kesabaran dan sikap saling menghormati tumbuh melaui kebiasaan yang dilakukan secara berulang.
Kegiatan mengaji di Al Muslim menjadi salah satu ruang pembelajaran karakter yang berjalan apa adanya. Dari duduk di lantai gazebo, membaca bersama, hingga saling mendengarkan, semua menjadi bagian dari proses pendidikan. Dari kegiatan sederhana ini terlihat bagaimana anak-anak perlahan membangun disiplin, kesabaran, dan rasa saling menghormati, menunjukkan bahwa Al Muslim bukan hanya mengajarkan ilmu , tetapi juga menanamkan karakter positif.
