Menenun Adab di Bulan Suci Ramadhan

Ramadhan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Udara terasa lebih lembut, hati lebih mudah tersentuh, dan langkah-langkah kecil terasa lebih berarti. Di bulan suci ini, SD Al Muslim tidak hanya mengajarkan anak-anak tentang puasa dan ibadah, tetapi juga tentang adab—yang ditenun pelan-pelan melalui pengalaman nyata. Salah satu kegiatan yang paling berkesan adalah Berbagi Takjil On The Road, sebuah aksi sederhana yang menyimpan pelajaran besar.

Pagi hari di sekolah, wajah-wajah kecil itu sudah tampak bersemangat. Mereka datang dengan membawa paket takjil yang telah disiapkan bersama orang tua. Ada yang membawa kurma, roti, air mineral, hingga makanan ringan yang tertata rapi. Namun, yang paling indah bukan hanya isi takjilnya, melainkan niat yang dibawa: belajar memberi, tanpa menunggu kaya.

Sebelum berangkat, para guru mengumpulkan siswa di aula. Anak-anak diarahkan untuk memahami tujuan kegiatan ini. Guru tidak hanya berkata, “Kita akan berbagi takjil,” tetapi juga mengingatkan, “Kita sedang belajar adab.” Adab saat bertemu orang lain, adab saat memberi, adab saat berbicara, adab saat berjalan bersama teman, dan adab saat membawa nama baik sekolah.

Dalam pengarahan itu, anak-anak belajar bahwa berbagi bukan ajang pamer. Tidak ada yang boleh berebut ingin terlihat paling baik. Tidak ada yang boleh memilih-milih siapa yang layak menerima. Mereka diajarkan bahwa tangan yang memberi harus lebih halus dari kata-kata yang diucapkan. Bahkan, senyum pun menjadi bagian dari sedekah.

Menjelang sore, rombongan bergerak menuju lokasi pembagian takjil. Anak-anak memakai seragam rapi, beberapa membawa tas kecil berisi paket takjil. Mereka berdiri berbaris, tidak melompat-lompat, tidak berteriak-teriak, meski rasa senang jelas sulit disembunyikan. Di jalan, mereka melihat kendaraan berlalu-lalang, para pekerja yang masih sibuk, dan pengendara yang mungkin belum sempat membeli makanan berbuka.

Saat waktu pembagian dimulai, anak-anak mulai melangkah. Dengan didampingi guru, mereka menyodorkan takjil kepada pengendara motor, tukang ojek, pedagang kecil, hingga pejalan kaki. “Silakan, Pak.” “Ini untuk berbuka, Bu.” “Semoga berkah ya.” Kalimat-kalimat itu keluar dari mulut kecil yang biasanya lebih sering berkata tentang permainan, tugas, atau jajanan. Kali ini, mereka berbicara dengan bahasa yang lebih dewasa: bahasa kepedulian.

Ada satu momen yang membuat banyak guru menahan haru. Seorang siswa memberikan takjil kepada seorang bapak yang tampak lelah. Bapak itu tersenyum, mengucapkan terima kasih berkali-kali. Anak itu pun menjawab pelan, “Sama-sama, Pak. Semoga puasanya lancar.” Sederhana, tetapi begitu dalam. Di situ, terlihat jelas bahwa adab bukan hanya teori di buku pelajaran, tetapi hidup dalam tindakan.

Anak-anak juga belajar tentang kesabaran. Tidak semua orang berhenti, tidak semua orang menerima. Ada yang terburu-buru, ada yang hanya mengangguk. Namun, anak-anak tidak kecewa. Mereka tetap tersenyum, tetap rapi, tetap menjaga sikap. Mereka belajar bahwa memberi bukan soal balasan, melainkan soal keikhlasan.

Lebih dari itu, mereka belajar tentang kebersamaan. Tidak ada yang berjalan sendiri. Mereka saling menunggu, saling mengingatkan, saling membantu membawa paket. Bahkan, saat ada teman yang terlihat malu, temannya yang lain merangkul dan berkata, “Ayo bareng-bareng.” Di sanalah adab juga ditenun: adab terhadap teman, adab saling menguatkan, adab bekerja sama.

Kegiatan berbagi takjil ini mungkin hanya berlangsung satu sore. Namun, jejaknya bisa bertahan jauh lebih lama. Anak-anak pulang bukan hanya dengan rasa lelah, tetapi dengan hati yang penuh. Mereka membawa pulang pelajaran bahwa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga melatih diri untuk peduli.

Di SD Al Muslim, adab tidak hanya diajarkan lewat kata-kata, tetapi lewat pengalaman yang menempel di ingatan. Berbagi takjil on the road menjadi benang kecil dalam kain besar pendidikan karakter. Dan di bulan suci Ramadhan, benang itu ditenun menjadi sesuatu yang indah: anak-anak yang bukan hanya pintar, tetapi juga beradab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *