Pada suatu pagi yang cerah, halaman sebuah sekolah dasar dipenuhi oleh siswa-siswi yang mengenakan pakaian ihram. Kegiatan hari itu adalah praktik manasik haji, sebuah pembelajaran yang bertujuan mengenalkan tata cara pelaksanaan ibadah haji sejak dini.
Para siswa tampak antusias meskipun sebagian dari mereka masih merasa asing dengan pakaian yang dikenakan. Bpk Ibu guru pembimbing manasik memulai kegiatan dengan memberikan penjelasan singkat tentang makna ibadah haji sebagai rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan bagi yang mampu. Ia menekankan bahwa manasik haji bukan sekadar praktik gerakan, tetapi juga sarana memahami nilai kesabaran, keikhlasan, dan ketaatan kepada Allah.
Kegiatan dimulai dengan niat ihram. Para siswa berdiri rapi sambil mengikuti arahan guru, melafalkan niat dengan penuh kesungguhan. Setelah itu, mereka diajak berjalan mengelilingi miniatur Ka’bah yang telah dibuat di tengah lapangan sekolah. Dengan tertib, mereka melaksanakan tawaf sebanyak tujuh putaran, meskipun beberapa di antaranya masih kebingungan menghitung putaran.
Selanjutnya, mereka melaksanakan sa’i, yaitu berjalan bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah yang disimulasikan dengan dua titik di lapangan. Di sinilah suasana menjadi semakin hidup, karena beberapa siswa mulai berlari kecil, meniru gerakan yang telah dicontohkan oleh guru. Tawa dan semangat terlihat jelas, namun tetap dalam suasana pembelajaran yang terarah.
Kegiatan berlanjut dengan wukuf di Arafah. Para siswa diminta duduk dengan tenang sambil mendengarkan penjelasan tentang pentingnya berdoa dan merenungkan diri. Meskipun masih anak-anak, mereka berusaha mengikuti dengan khidmat, menciptakan suasana yang berbeda dari biasanya.
Tahap terakhir adalah melempar jumrah yang disimulasikan dengan melempar bola kecil ke arah tiang yang telah disediakan. Kegiatan ini menjadi bagian yang paling menarik bagi siswa, karena melibatkan aktivitas fisik yang menyenangkan. Namun, guru tetap mengingatkan bahwa makna dari melempar jumrah adalah simbol melawan godaan setan.
Setelah seluruh rangkaian selesai, Bpk Ibu guru pembimbing mengajak siswa untuk berkumpul dan melakukan refleksi. Ia bertanya apa yang mereka pelajari dari kegiatan tersebut. Salah satu siswa menjawab bahwa ibadah haji membutuhkan kesabaran dan kerja sama. Siswa lain menambahkan bahwa mereka menjadi lebih memahami tata cara haji secara langsung.
Kegiatan manasik haji hari itu tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai spiritual yang penting. Para siswa pulang dengan membawa pemahaman baru, bahwa ibadah haji adalah perjalanan suci yang memerlukan kesiapan fisik, mental, dan keimanan.

