Ramadhan selalu datang dengan cara yang lembut. Ia mengetuk hati, mengajak manusia berhenti sejenak dari hiruk pikuk rutinitas, lalu bertanya: sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih baik? Dalam dunia pendidikan, Ramadhan bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender Hijriah, melainkan momentum untuk menata kembali tujuan pembelajaran yang sesungguhnya, membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan mulia dalam akhlak. Bulan suci menghadirkan ruang belajar yang melampaui buku dan ruang kelas; ia menyentuh rasa, menumbuhkan empati, dan menghidupkan nilai-nilai kebaikan dalam keseharian siswa.
Siang itu, Aula Kholid terasa lebih khidmat dari biasanya. Usai Salat Jumat, para siswa memasuki ruangan dengan tertib, membawa antusiasme yang berpadu dengan ketenangan. Wajah-wajah mereka memancarkan harapan, seolah memahami bahwa Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Kegiatan yang dipandu oleh Ustadz Asdi Supardi, M.Ag berlangsung hangat dan komunikatif, menampilkan suasana kebersamaan yang tulus. Dalam momen sederhana tersebut, tampak bahwa pendidikan karakter tumbuh melalui keteladanan, kedekatan, dan sentuhan hati yang nyata.
Nuansa spiritual kian menguat ketika lantunan ayat suci Al-Qur’an dibacakan dengan penuh penghayatan oleh Muhammad Abid dari kelas 6 Sholahuddin, disusul tilawah merdu Faradilla dari kelas 6 Harun. Keheningan yang tercipta memunculkan keteduhan yang menenangkan hati seluruh hadirin. Pada saat itu, siswa tidak hanya mendengarkan, tetapi belajar tentang keberanian, tanggung jawab, dan adab dalam memuliakan Al-Qur’an. Ketika anak-anak diberi ruang untuk berperan, mereka belajar bahwa kepercayaan adalah bagian penting dari proses pembentukan karakter.
Kebersamaan semakin terasa saat lantunan shalawat menggema, dibawakan oleh Ghaly Al Fahrizy dari kelas 5 Kholid bersama Bapak Sobary, S.Pd. Suara siswa dan guru menyatu dalam pujian kepada Allah SWT dan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Sekat antara guru dan siswa seakan luluh, digantikan oleh rasa kebersamaan yang sederhana namun mendalam. Di sinilah pendidikan karakter hadir secara nyata, nilai penghormatan, kebersamaan, dan kecintaan pada akhlak mulia tersebar melalui pengalaman spiritual yang dirasakan bersama.
Puncak kegiatan diisi dengan tausiyah oleh Ustadz Henny Purniato, S.Hum., dengan tema “Be a Super Muslim: Puasaku Hebat, Akhlakku Kuat.” Melalui penyampaian yang hangat dan dekat dengan dunia anak-anak, siswa diajak memahami bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan mengendalikan diri, menjaga lisan, serta memperbaiki sikap dalam kehidupan sehari-hari. Pesan yang sederhana, berbicara dengan sopan, menghargai teman, dan menaati nasihat guru serta orang tua, menjadi pengingat bahwa akhlak mulia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan kesadaran.

Doa bersama menjadi penutup yang sarat makna. Dalam keheningan, tangan-tangan kecil terangkat, memohon kekuatan agar mampu menjalani Ramadhan dengan keikhlasan. Pada saat itu, pendidikan karakter tidak lagi menjadi konsep yang diajarkan, melainkan pengalaman batin yang dirasakan bersama. Kegiatan kemudian ditutup dengan musofahah antara siswa dan guru. Satu per satu siswa bersalaman, memohon maaf, dan menerima doa. Momen sederhana ini menyebarkan pelajaran tentang kerendahan hati dan pentingnya memperbaiki hubungan sebelum memasuki bulan suci, pelajaran yang mungkin tak selalu tertulis dalam kurikulum, tetapi membekas dalam ingatan.

Rangkaian Tarhib Ramadhan ini menegaskan bahwa guru bukan hanya penyampai ilmu, melainkan arsitek pembentukan karakter. Ketika siswa melihat guru terlibat langsung dalam ibadah, doa, dan kebersamaan, mereka belajar dari teladan yang nyata. Nilai hormat, disiplin, empati, dan religiusitas tumbuh perlahan melalui pembiasaan yang dilakukan bersama, hingga menjadi bagian dari diri mereka.
Pada akhirnya, Ramadhan benar-benar hadir sebagai madrasah karakter, ruang tempat jiwa ditempa dan akhlak diperkuat. Dari lantunan ayat suci, kebersamaan dalam shalawat, hingga jabat tangan penuh makna, seluruh rangkaian Tarhib menjadi langkah awal perjalanan spiritual selama sebulan penuh. Dan mungkin, inilah hakikat pendidikan yang sesungguhnya: ketika ilmu menyentuh hati, ketika ibadah melahirkan kepedulian, dan ketika sekolah menjadi tempat tumbuhnya manusia-manusia yang tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga lembut bersikap.
Semoga semangat Tarhib ini tidak berhenti ketika Ramadhan usai. Sebab akhlak yang ditanam dengan keteladanan akan terus hidup, tumbuh, dan mengalir dalam setiap langkah kehidupan. Di sanalah Ramadhan menemukan maknanya, bukan hanya sebagai bulan yang datang dan pergi, tetapi sebagai cahaya yang menetap dalam diri, membimbing generasi menuju masa depan yang lebih beradab dan penuh kebaikan.
