Masa usia dini, khususnya rentang usia emas (golden age), merupakan periode dimana otak anak berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Pada usia 3-4 tahun, seorang anak ibarat emas spons yang mampu menyerap informasi dari lingkungannya tanpa filter yang rumit. Di masa inilah, pengenalan huruf hijaiyah menjadi sebuah investasi spiritual yang sangat berharga. Fenomena anak usia dini yang sudah mampu membaca dan mengenal huruf hijaiyah bukanlah sekedar prestasi akademis, melainkan sebuah bentuk kedekatan emosional antara anak, guru, orang tua dan Al Qur’an.
Salah satu metode yang terbukti efektif adalah stimulasi auditori melalui lagu atau nada. Anak usia dini memiliki kemampuan pendengaran yang sangat tajam terhadap ritme dan irama. Dengan menyanyikan urutan alif, ba, ta hingga ya dengan nada yang ceria, anak akan menghafal urutan tersebut tanpa merasa sedang belajar. Memori pendengaran ini kemudian diperkuat dengan pengenalan visual. Misalnya ketika menyebut “Ba”, anak akan diperlihatkan bentuk huruf yang menyerupai perahu dengan satu titik dibawahnya. Ini membuat anak semakin mengenal dan mengetahui tentang huruf hijaiyah.
Asosiasi bentuk dengan benda-benda nyata di sekitar mereka sangat membantu anak dalam mengklasifikasikan simbol-simbol abstrak tersebut di dalam memori jangka panjangnya. Selain aspek kognitif, ada dimensi emosional yang sangat kuat dalam proses ini. Ketika seorang anak tiga tahun berhasil melafalkan satu huruf dengan benar dan mendapatkan apresiasi berupa pujian dari orang tua bahkan dari guru nya itu menjadikan dopamin dalam otaknya akan terlepas, menciptakan rasa bahagia dan ketagihan untuk belajar lebih lanjut. Inilah yang disebut dengan membangun “hubungan positif” dengan literasi agama. Anak tidak merasa terpaksa, melainkan merasa bahwa mengenal huruf hijaiyah adalah aktivitas yang menyenangkan dan membuat orang-orang tercintanya bangga.
Keberhasilan anak yang dapat mengenal huruf hijaiyah tentu tidak terjadi secara instan. Hal ini merupakan hasil dari konsistensi, kasih sayang dan metode yang tepat. Pada anak usia dini, dunia anak adalah dunia bermain. Oleh karena itu, pengajaran tentang huruf hijaiyah tidak bisa dilakukan dengan metode ceramah yang kaku atau tekanan yang membebani. Sebaliknya metode “belajar seraya bermain” menjadi kunci utama. Di Sekolah PG-TK Al Muslim program pembelajaran yang digunakan adalah Tilawati PAUD, program ini dirancang khusus untuk anak usia dini dengan pendekatan yang menyenangkan dan sistematis. Metode ini menggunakan nada rost agar anak-anak lebih mudah menghafal dan melafalkan huruf hijaiyah melalui nyanyian. Program ini tidak hanya fokus pada pengenalan huruf , akan tetapi juga mencakup materi penunjang seperti dalam berbentuk kartu warna warni agar anak tidak hanya mengenal huruf hijaiyah, tetapi mereka juga mengenal warna-warna.
Sebagai kesimpulan bahwa kemampuan anak usia dini yang dapat mengenal huruf hijaiyah adalah bukti nyata betapa dahsyatnya potensi otak manusia jika distimulasi dengan cara yang tepat dan benar. Peran guru sebagai pendidik sangatlah penting, dengan menciptakan lingkungan yang suportif, menyediakan media yang kreatif dan memberikan kasih sayang yang tulus, kita sedang membantu anak membangun pondasi yang kokoh untuk masa depan mereka. Huruf-huruf hijaiyah yang mereka hafal hari ini adalah benih-benih cahaya yang kelak akan menerangi jalan hidup mereka di masa depan.
