Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali kita mengajak anak-anak memegang tanah tanpa takut kotor?
Sekarang ini, jangankan memegang tanah, nemu tanah di sekitar rumah saja rasanya makin susah. Kebanyakan halaman sudah ditutup semen atau keramik agar rapih dan tidak becek. anak-anak semakin akrab dengan gawai yang licin dan dingin, tapi asing dengan tekstur tanah yang subur, gembur dan lembab. Padahal dari tanah itulah kehidupan bermula.
Awalnya mungkin iseng. suatu sore, setelah makan buah semangka dan mangga bijinya tidak langsung dibuang ke tempat sampah.” Adek, coba deh biji ini di taruh di dalam pot bekas, terus disiram pakai air sisa cuci beras.”
Anak kecil itu penasaran. tiap pagi, hal pertama yang di cari bukan lagi kartun di TV, tapi melihat pot hitam di belakang rumah. “Bunda, udah ada hijau-hijau kecil keluar!’ teriaknya girang, padahal baru tunas seukuran kuku.
Saat itulah, tanpa perlu ceramah panjang lebar soal ekosistem, si anak sudah belajar satu hal penting: menghargai proses kehidupan. Dia faham jika tanaman itu butuh minum, butuh sinar matahari, dan butuh disayang agar tidak layu dan mati.
Pelajaran dari belakang rumah ini sifatnya personal. Anak belajar rasa tanggung jawab. Jika dia lupa menyiram, tanamannya akan layu. dari situ dia belajar sebab akibat. ketika pelajaran ini dibawa ke ruang kelas, suasananya menjadi beda.
Bapak dan ibu guru di sekolah tidak perlu lagi setengah mati menjelaskan konsep “fotosintesis “ atau “pentingnya pepohonan.” Anak-anak yang sudah akrab dengan tanah di rumah akan langsung mengerti. di ruang kelas, teori dari buku pelajaran hanya mempertegas apa yang sudah mereka rasakan dan sentuh dengan tangan mereka sendiri. Ruang kelas menjadi tempat mengikat pengalaman praktis menjadi sebuah pemahaman yang lebih luas.
Tapi, apakan belajar kepedulian lingkungan hanya berhenti di halaman belakang rumah dan dinding ruang kelas ? tentu tidak.
Pengalaman dari tanah sempit di rumah dan teori di kelas itu ibarat bahan bakar. Puncaknya adalah ketika anak-anak di ajak turun langsung kealam nyata, melihat betapa luasnya dampak yang bisa mereka buat.
Nah bicara soal aksi nyata, tanggal 8 September 2026 lalu, anak-anak siswa kls 5 SD Al Muslim berkunjung ke Situ Cibereum Tambun Selatan.
Untuk yang sering mendengar namanya, Situ Cibereum itu salah satu danau alami yang menjadi tempat yang sangat penting di tengah kepungan pembangunan. Tempat ini butuh perhatian ekstra agar tidak semakin kritis. tidak pendangkalan, dan tetap asri.

Foto 1 : kunjungan ke danau Situ Cibereum Tambun
Bayangkan suasana pagi di Situ Cibereum. 99 siswa kelas 5 SD Al Muslim dengan memakai kaos seragam, kumpul bareng di pinggir danau. Tangan mereka tidak lagi memegang pulpen atau gawai, tetapi memegang sekop kecil dan bibit-bibit pohon yang tingginya baru sepinggang mereka.
Hari itu, mereka punya misi besar: gerekan menanam seribu pohon! Awalnya ada anak yang merasa ragu.” Hiiy, becek! Ada cacingnya engga?” atau “aduh, sepatuku jadi kotor”
Tapi begitu melihat temannya heboh menggali tanah sambil bercanda dan tertawa, rasa geli itu langsung berubah menjadi keseruan. Muka mereka kotor terkena cipratan lumpur, baju belepotan terkena tanah, kepanasan, tapi senyumnya lebar. ada yang menanam pohon mahoni, ada yang menanam pohon mangga, ada juga tanaman peneduh lainnya.
Anak-anak bahu membahu. yang satu memegang bibit agar berdiri tegak, yang satu lagi menimbun tanahnya dengan tangan, dan di tepuk-tepuk pelan agar semakin kuat.

Foto 2 : kunjungan ke danau Situ Cibereum Tambun
Di momen ini, benih kepedulian yang dulu hanya seukuran pot di belakang rumah, langsung mekar menjadi aksi nyata. Di pinggir Situ Cibereum, anak-anak itu belajar kalau satu pohon yang mereka tanam hari ini adalah nafas untuk masa depan mereka sadar, jika pohon-pohon ini tumbuh besar nanti, akarnya akan menahan air danau agar tidak banjir saat hujan, dan tidak kekeringan saat musim kemarau.
“Nanti kalau aku sudah besar, aku akan kembali lagi ke Situ Cibereum untuk melihat pohonku sudah setinggi apa,” celetuk salah satu anak sambil menulis namanya di papan kayu kecil yang diikat di batang bibitnya.
Kalimat sederhana itu rasanya menohok sekali. Itu bukti jika menanam pohon bukan Cuma kegiatan seremonial atau sekedar menggugurkan kewajiban tugas sekolah. Ada ikatan emosional yang terbangun antara si anak dan alam sekitarnya. pohon itu jadi “teman” tumbuh mereka.
Proses dari belakang rumah, lalu dipahami di ruang kelas, dan akhirnya dipraktikkan di tempat seperti Situ Cibereum adalah jalur pendidikan karakter yang paling alami. Kita tidak bisa menuntut generasi muda untuk cinta lingkungan kalau mereka tidak pernah bersentuhan langsung dengan alam. Kita tidak bisa menyalahkan mereka jika tidak peduli dengan isu pemanasan global kalau kita sendiri tidak pernah mengenalkan indahnya menanam sepucuk daun.
Menyemaikan kepedulian lingkungan sejak dini sama dengan proses menanam pohon itu sendiri. Tidak bisa instan. Butuh waktu, butuh ketelatenan, dan harus di mulai dari langkah terkecil.
Tidak perlu tunggu punya lahan berhektar-hektar atau tunggu ada dana besar. mulai saja dulu dari teras atau belakang rumah.biarkan anak-anak kita mengotori tangannya dengan tanah, membiarkan cacing lewat di dekat kaki mereka, dan merasakan keajaiban melihat biji kecil berubah jadi daun hijau.
Dari belakang rumah yang sempit kepedulian itu tumbuh di ruang kelas, pemikiran itu di bentuk. Dan ditempat seperti Situ Cibereum, lewat seribu pohon yang ditanam oleh tangan-tangan mungil itu, masa depan bumi kita sedang diselamatkan.
