“Pernahkah mata kita sejenak memandang sudut kecil di belakang atau halaman rumah tak hanya sekadar tempat yang tersisa, namun juga sebagai ruang kehidupan bertumbuh?”

Sudut Halaman Rumah

Mungkin hanya ada sebidang tanah, beberapa pot tanaman dari galon bekas, daun-daun jatuh berserakan, atau sisa buah dan sayuran dari dapur yang bersatu padu dalam wadah sampah. Kadang sudut area tersebut sering luput dari perhatian kita. Jika kita berhenti sejenak dan melihat lebih dekat lagi, sudut kecil itu sebenarnya menyimpan begitu banyak pelajaran tentang kehidupan. Misal dari tanaman yang tumbuh di atas tanah, anak dapat belajar tentang pertumbuhan serta bagaimana cara merawatnya. Dari dedaunan yang jatuh berserakan, ia dapat belajar bahwa sesuatu yang terlihat selesai ternyata dapat memberikan manfaat. Bahkan dari sisa makanan yang dikonsumsi seperti sisa buah dan sayuran, ia dapat belajar bahwa tak semua yang dianggap sebagai sampah benar-benar tidak ada manfaatnya lagi.

Dari area sederhana seperti itulah kita dapat menyemaikan benih kepedulian terhadap lingkungan. Sehingga tepatlah sebuah frasa yang mengungkapkan “rumah adalah sekolah pertama” bagi seorang anak. Sebelum mengenal buku dan akrab dengan situasi ruang kelas, anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari dari orangtuanya di rumah. Anak memperhatikan bagaimana orangtuanya menjaga kebersihan, menggunakan air secukupnya, merawat tanaman, atau tidak membuang sampah sembarangan. Dari beragam aksi nyata yang diteladani dari orangtuanya, anak sebenarnya sedang belajar tentang arti sebuah tanggung jawab. Nilai tersebut mungkin tak tertulis secara nyata di papan tulis, namun perlahan akan tertanam melalui keteladanan dan kebiasaan sehingga jika terus dipelihara akan tumbuh menjadi sebuah karakter.

Di sekolah, kepedulian terhadap lingkungan tidak semata berhenti sebatas teori dalam sebuah materi pelajaran. Anak-anak tidak cukup sekadar mengetahui bahwa sampah dapat mencemari lingkungan ataupun tentang tumbuhan yang membutuhkan air, tanah, dan cahaya untuk tumbuh. Mereka perlu mengalami sendiri sehingga menyadari bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan akan memiliki arti atau manfaat.

Salah satu langkah sederhana yang sudah dilakukan para siswa di lingkungan Yayasan Al Muslim adalah memilah sampah. Sekolah memfasilitasi wadah yang terlihat jelas dan mudah dijangkau oleh siswa untuk memudahkan dalam proses pemilahan sampah. Ketika anak sudah mengenal perbedaan antara sampah organik dan anorganik, sejatinya mereka sedang belajar bertanggung jawab atas apa yang mereka hasilkan. Sisa makanan, kulit buah, daun kering, dan bahan organik lainnya dapat dipisahkan dari plastik, botol, kertas, dan kemasan.

Karakter peduli yang tidak dapat terbentuk begitu saja hanya karena satu kali nasihat. Ia tertanam dan tumbuh dengan baik mulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara berulang, dari pengalaman yang dirasakan, dan dari aksi nyata yang memberi makna.

Oleh karena itu, setelah belajar cara memilah sampah dan mengolah sampah organik menjadi kompos, anak-anak kelas 7 di semester gasal ini melalui mata pelajaran Green Education diajak melangkah lebih jauh melalui sebuah kegiatan sederhana: Menanam Benih Tanaman Menggunakan Wadah dari Botol Bekas.

Proses Menanam Benih di Wadah Botol Bekas

Botol plastik bekas yang sebelumnya hanya dipandang sebagai sampah, kini diubah menjadi wadah untuk menghadirkan kehidupan yang baru. Melalui tangan mereka sendiri, siswa secara berkelompok membersihkan dan menyiapkan botol bekas, mengisinya dengan media tanam, kemudian menanam benih dan merawatnya. Setiap hari mereka belajar dengan mengamati perubahan kecil yang terjadi. Dimulai dari  benih yang mulai berkecambah, tunas yang perlahan muncul, hingga daun-daun kecil yang perlahan tumbuh. Kegiatan ini memang sederhana, namun memiliki makna pembelajaran yang dalam. Anak belajar bahwa barang bekas tidak selalu harus berakhir sebagai sampah, dengan sentuhan kreativitas dan kepedulian, barang yang sudah tidak digunakan diberi kesempatan untuk memiliki fungsi baru.

Kegiatan menanam benih tidak hanya sekadar memanfaatkan botol bekas, lebih dari itu semua, anak belajar tentang tanggung jawab dan kesabaran. Benih yang mereka tanam tidak akan tumbuh hanya karena sekali disiram. Air, cahaya, perhatian, dan perawatan secara terus-menerus pun sangatlah diperlukan. Dari sinilah anak belajar bahwa kehidupan membutuhkan sikap peduli yang konsisten.

Mungkin melalui tugas GE tersebut, yang baru mereka lihat hanyalah sebuah botol bekas berisi tanah dan benih kecil. Namun ternyata di balik itu semua terdapat proses pendidikan yang jauh lebih besar maknanya. Mereka sedang belajar bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal yang terdekat dan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Bahkan dari sebuah botol bekas dan sebutir benih pun dapat menjadi awal dari sebuah kehidupan. Ketika suatu saat nanti benih itu tumbuh menjadi tanaman yang lebih besar, anak-anak akan melihat sesuatu yang lebih dari sekadar hasil kegiatan yang dinilai oleh guru. Di sana, anak-anak akan menyaksikan jejak kepedulian yang tumbuh dari tangan dan perhatian mereka sendiri.

Dari botol bekas, tumbuh benih sebuah tanaman.
Dari sebuah tanaman, tumbuhlah rasa tanggung jawab.
Dari rasa tanggung jawab, tumbuh kepedulian terhadap lingkungan.

Dari sini, pendidikan lingkungan menjadi lebih nyata: bukan sekadar apa yang dibaca dalam buku, tetapi apa yang dilakukan, dirawat, dan dirasakan sendiri oleh anak.

Kegiatan Menanam Benih yang Dilaksanakan Siswa Secara Berkelompok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *