“Bu, halaman berapa?”

“Bu, saya ayat berapa kemarin?”

Pertanyaan seperti itu hampir selalu saya dengar saat masuk ke kelas Tilawati maupun Tahfizh. Ada anak yang sudah siap dengan buku Tilawati di tangannya, ada juga yang masih mencari halaman atau asyik mengobrol dengan teman di sebelahnya. Biasanya saya cukup mengingatkan, “Ayo, kita mulai.”

Begitulah keseharian saya sebagai guru Al-Qur’an di Al Muslim. Dalam sehari, terutama hari Rabu, saya berpindah dari satu jenjang ke jenjang lainnya: mengajar SMP kelas 7 (Tilawati Remaja Jilid 4), anak TK (Tilawati Jilid 1), kelas 3 SD (Tilawati Jilid 4), kelas 5 SD (Tilawati Jilid 5), dan ditutup siswa SMP kelas 8 pada pembelajaran Tahfizh.

Setiap jenjang punya tantangannya sendiri. Anak TK yang mudah terdistraksi. Anak SD mulai dituntut lebih teliti. Sementara siswa SMP diarahkan untuk lebih mandiri dan bertanggung jawab. Dari kelas-kelas ini, saya melihat satu kebiasaan yang terus dilatih: menyimak, membaca, mengingat, dan memperhatikan. Dari sinilah literasi tumbuh dari keseharian anak.

Belajar dari Mendengar

Mengajar anak TK punya cerita tersendiri. Baru beberapa menit membaca, ada yang matanya melihat ke mana-mana atau tiba-tiba ingin bercerita. Karena itu, saya tidak bisa menuntut mereka langsung lancar.

Saya membaca, mereka mendengarkan. Saya mencontohkan, mereka menirukan. Di Tilawati Jilid 1, mereka belajar mengenali huruf dan membaca dengan benar. Saat menghafal Surah An-Naba, mereka belajar mendengarkan ayat dan mengingat urutannya. Ketika ada yang lupa atau tertukar ayatnya, saya ajak mengulang bersama. Bagi saya, proses sederhana ini sudah menjadi bagian dari literasi: sebelum bisa membaca dengan baik, anak perlu belajar mendengar dan memperhatikan.

Belajar Membaca dengan Teliti

Di kelas 3 dan 5 SD, anak-anak sudah lebih mandiri membaca Tilawati. Tapi, mereka perlu belajar melihat tulisan dengan lebih teliti. Ada huruf, tanda baca, panjang-pendek, dan hukum tajwid yang harus diperhatikan. Kadang ada siswa yang merasa sudah hafal sehingga membaca terlalu cepat. Saat itu saya biasanya mengingatkan, “Pelan-pelan. Lihat dulu tulisannya.”

Di sini mereka belajar bahwa membaca itu bukan lomba cepat-cepatan menghabiskan halaman, tapi soal ketelitian. Kebiasaan melihat detail ini ternyata sangat membantu mereka di pelajaran lain. Anak-anak jadi terbiasa membaca soal atau petunjuk tugas sampai tuntas, tidak cuma asal tebak karena membaca sekilas.

Dari Hafalan, Anak Belajar Bertanggung Jawab

Di SMP, proses belajarnya sedikit berbeda. Pada siswa kelas 7 (Tilawati Remaja Jilid 4), saya mendorong mereka mengenali kesalahan bacaannya sendiri. Saat ada bagian yang kurang tepat, saya cukup bilang, “Coba ulangi, bagian tadi diperhatikan lagi.” Mereka pun membaca kembali dan mencari bagian yang keliru.

Di kelas 8 (Tahfizh), saat setoran mereka harus mengingat urutan ayat, menjaga kelancaran, dan memperhatikan ketepatan bacaan. Ketika setoran berhasil, rasa lega terlihat jelas di wajah mereka. 

Momen seperti itu mengingatkan saya bahwa belajar Al-Qur’an bukan cuma tentang membaca dan menghafal. Anak juga belajar fokus, menghadapi kesulitan, memperbaikinya, dan bertanggung jawab.

Banyak orang mengira literasi identik dengan buku cerita atau kegiatan menulis. Tapi buat saya sebagai guru Al Quran, melihatnya dari sisi yang lebih sederhana: anak TK belajar menyimak, anak SD belajar membaca teliti, dan anak SMP belajar menjaga hafalan serta mengevaluasi bacaannya.

Dalam pembelajaram Al Qur’an, kreativitas guru juga tidak selalu diukur dari media canggih yang digunakan, tapi dari cara menyesuaikan metode sesuai perkembangan anak, mulai dari melatih kepekaan nada dengan membaca peraga dinding secara bersama di jenjang TK, metode baca simak di SD, hingga tantangan muroja’ah mandiri untuk anak SMP. Bahasa yang saya gunakan di kelas juga jadi jembatan penting untuk menyampaikan instruksi dengan santun, sehingga anak-anak dari berbagai latar belakang bisa merasa nyaman. Ketika ada yang salah, kalimat sederhana seperti “Coba ulangi lagi, ya” memberi mereka keberanian untuk mencoba tanpa takut dimarahi.

Saya semakin yakin kalau budaya literasi itu tidak perlu menunggu gerakan-gerakan besar. Literasi tumbuh dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari: dari anak yang mau menyimak, satu halaman Tilawati yang dibaca dengan teliti, keberanian memperbaiki kesalahan, hingga hafalan yang disetorkan

Di kelas Al-Qur’an Sekolah Al Muslim, kebiasaan itu tumbuh sedikit demi sedikit dari rutinitas harian. Hari ini mereka mungkin hanya belajar membaca satu halaman atau satu ayat dengan benar. Namun kelak, kebiasaan untuk fokus, teliti, dan pantang menyerah akan terus mereka bawa sampai dewasa. Dari kebiasaan kecil di dalam kelas inilah, budaya literasi yang sesungguhnya benar-benar hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *