Catatan seorang guru Matematika tentang literasi, keberanian bersuara, dan cara sederhana merawat persatuan dari ruang kelas.
“Bu Naz, kalau matematika, memang harus banyak baca juga?”
Pertanyaan sederhana itu pernah membuat saya terdiam sejenak.
Di kepala saya, pertanyaan itu justru membuka percakapan yang lebih besar. Selama ini, ketika mendengar kata literasi, mungkin yang terbayang adalah buku, perpustakaan, membaca cerita, atau menulis sebuah karangan. Sementara matematika identik dengan angka, rumus, hitungan, dan jawaban benar atau salah.
Padahal, bukankah sebelum menghitung kita harus membaca?
Membaca situasi. Membaca informasi. Membaca tabel. Membaca grafik. Membaca persoalan. Bahkan membaca makna di balik angka.
Sebagai guru Matematika di SMP Al Muslim, saya semakin menyadari bahwa kemampuan siswa dalam matematika tidak cukup hanya diukur dari seberapa cepat mereka menemukan jawaban. Ada kemampuan lain yang jauh lebih penting, dianataranya, apakah mereka memahami pertanyaan, mampu menjelaskan cara berpikirnya, berani mengemukakan pendapat, dan dapat menghubungkan matematika dengan kehidupan di sekitarnya.
Dari situlah saya mulai mencoba menghadirkan literasi dengan cara yang lebih dekat dengan dunia siswa.
Saya tidak ingin setiap pembelajaran berhenti pada kalimat, “Gunakan rumus berikut, lalu hitung!”
Saya ingin siswa bertanya, “Mengapa?”
Saya ingin mereka berdiskusi, “Menurutmu bagaimana?”
Saya ingin mereka berani mengatakan, “Saya punya cara yang berbeda.”
Salah satu cara yang saya lakukan adalah membawa data yang dekat dengan kehidupan mereka ke dalam pembelajaran. Siswa diajak mengamati lingkungan sekitar, menemukan informasi, mencatat data, kemudian menyajikannya dalam bentuk tabel, diagram, grafik, atau representasi matematika lainnya.
Awalnya, tidak semua siswa langsung percaya diri.
Ada yang lebih banyak diam ketika berdiskusi. Ada yang sebenarnya memiliki ide, tetapi ragu menyampaikannya. Ada pula yang terbiasa mencari satu jawaban dari guru dan merasa selesai ketika jawabannya sudah ditemukan.
Di sinilah saya belajar bahwa tugas guru bukan sekadar memberikan jawaban, tetapi menciptakan ruang agar siswa berani menemukan dan menyampaikan jawabannya sendiri.
Dalam kelompok kecil, mereka mulai berbagi tugas. Ada yang mencari data, ada yang mencatat, ada yang menghitung, ada yang membuat tampilan, dan ada yang mempresentasikan hasilnya. Perlahan, matematika yang awalnya terasa penuh angka berubah menjadi percakapan.
Mereka membaca. Mereka menulis. Mereka bertanya. Mereka menjelaskan.
Dan yang paling penting, mereka belajar mendengarkan.
Bagi saya, inilah salah satu bentuk sederhana dari pendidikan tentang “satu bahasa dan satu bangsa”. Bahasa bukan hanya alat untuk menyampaikan kata-kata, tetapi jembatan untuk saling memahami. Ketika siswa belajar mengungkapkan pendapat dengan bahasa yang baik, mendengarkan teman yang berbeda pemikiran, kemudian bekerja bersama untuk menyelesaikan masalah, sebenarnya mereka sedang belajar menjadi bagian dari masyarakat.
Matematika menjadi pintu masuknya.
Saya semakin yakin bahwa literasi tidak mengenal batas mata pelajaran. Guru Matematika pun memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan budaya literasi.
Sebab, seorang anak yang mampu menghitung tetapi tidak mampu memahami informasi akan kesulitan menghadapi dunia. Sebaliknya, anak yang mampu membaca, berpikir kritis, menjelaskan alasan, dan menggunakan angka untuk memahami persoalan akan memiliki bekal yang lebih kuat untuk menghadapi kehidupan.
Teknologi pun saya manfaatkan bukan sekadar agar pembelajaran terlihat modern. Perangkat digital saya gunakan sebagai alat untuk mencari informasi, mengolah data, membuat representasi, dan menyampaikan gagasan. Siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi belajar menjadi pencipta dan pemecah masalah.
Di tengah derasnya informasi hari ini, saya ingin mereka memiliki kemampuan untuk berhenti sejenak dan bertanya: Apakah informasi ini benar? Dari mana datanya? Apa maknanya? Bagaimana saya bisa menjelaskannya kepada orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu mungkin tidak langsung terlihat hasilnya.
Namun saya percaya, pendidikan memang sering bekerja dengan cara yang sunyi.
Hari ini kita mengajarkan seorang anak untuk berani berbicara. Besok mungkin ia berani menyampaikan pendapat di hadapan banyak orang.
Hari ini kita membiasakannya membaca sebuah persoalan dengan teliti. Kelak mungkin ia akan lebih bijak ketika membaca informasi yang beredar di masyarakat.
Hari ini kita mengajaknya bekerja sama dengan teman yang berbeda cara berpikir. Suatu hari nanti, ia akan hidup bersama masyarakat yang jauh lebih beragam.
Pada akhirnya, saya tidak hanya ingin siswa saya menjadi anak-anak yang pandai mengerjakan soal matematika.
Saya ingin mereka menjadi manusia yang mampu membaca dunia, memahami persoalan, menyampaikan gagasan, menghargai perbedaan, dan menggunakan pengetahuan untuk memberi manfaat.
Karena mungkin, budaya literasi tidak selalu dimulai dari halaman pertama sebuah buku.
Kadang, ia dimulai dari sebuah pertanyaan kecil di kelas matematika:
“Bu Naz, kalau matematika, memang harus banyak baca juga?”
Dan hari itu saya menjawab dalam hati, “Iya. Karena untuk menghitung masa depan, kita terlebih dahulu harus mampu membaca kehidupan.”
Mungkin itulah cerita kecil saya sebagai guru.
Sebuah cerita tentang angka yang berubah menjadi kata, kata yang berubah menjadi gagasan, dan gagasan yang perlahan tumbuh menjadi keberanian.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang membuat anak tahu lebih banyak, tetapi tentang membuat mereka mampu menggunakan apa yang mereka tahu untuk memahami dunia dan menjadi bagian yang baik di dalamnya.
