“Bu,hari ini kita mau belajar apa?”

Pertanyaanitu sering sekali terdengar Ketika guru masuk kelas. Maklum, kalau mendengar kata belajar,  yang terbayang biasanya  buku, pulpen, dan duduk rapi di dalam kelas. Tapi kali ini berbeda. Bu Guru memberi tahu bahwa besok kami akan belajar literasi di luar kelas.

“Serius, Bu? Belajarnya ke mana?”

Bu Guru tersenyum. “Kita akan mengunjungi Situ Cibeureum”

Wah, mendengar nama Situ Cibereum, kami langsung ramai. Ada yang bertanya, “Di sana ada apa?” Ada juga yang langsung membayangkan bisa jalan-jalan dan bermain. Kami memang senang, tetapi Bu Guru mengingatkan bahwa kunjungan ini bukan sekedar jalan-jalan. 

“Kalian akan menjadi penulis cilik. Nanti kalian mengamati, bertanya, mencatat, lalu membuat tulisan.”

Mendengar itu, kami mulai berfikir. Ternyata belajar bisa dilakukan di mana saja!

hari yang ditunggu akhirnya tiba. Kami kami berangkat bersama teman-temean dan guru. Sepanjang perjalanan suasana sangat ramai. 

Sesampai di Situ Cibereum, kami langsung melihat suasana yang berbeda. Di depan mata terbentang air danau yang cukup luas. Pepohonan tumbuh di sekitarnya. Udara terasa lebih segar. kami pun mulai menyadari bahwa tempat yang selama ini mungkin hanya kami dengar namanya ternyata menyimpan banyak cerita. 

Bu Guru mengajak kami duduk sebentar.

“Coba lihat sekeliling kalian. Apa yang kalian lihat?

kami mulai menyebutkan satu persatu.

“Air, Bu!”, “Pohon!”, “Perahu!”

“Orang sedang memancing!”

“Ada burung juga!”

Bu guru kemudian bertanya, “Nah, itulah awal dari literasi. Literasi bukan hanya membaca buku, kalian juga bisa membaca lingkungan.”

kami mulai paham,  ternyata membaca tidak selalu berarti membaca tulisan. kami bisa “membaca” alam, membaca keadaan sekitar, dan membaca kehidupan masyarakat. 

“Anak-anak, sekarang kita dengarkan penjelasan dari kakak Pemandu tentang Situ Cibereum, ya. Kita akan belajar mengenal sejarah, asal usul nama, keindahan alam, serta cerita menarik yang ada di sini. jangan lupa mencatat informasi penting dan siapkan pertanyaan jika ada yang ingin kalian ketahui. Pengalaman ini bisa menjadi bahan menarik untuk membuat buku antologi kelas. 

Awalnya kami agak bingung mau bertanya apa. tetapi dengan berdiskusi, pertanyaan mulai bermunculan.

“Pak Situ Cibereum sudah ada sejak kapan?”

“Kenapa namanya Situ Cibereum?”

“Biasanya masyarakat melakukan  kegiatan apa di sini?”

Kami belajar bertanya dengan sopan. kami juga belajar mendengarkan jawaban dengan baik. Semua informasi yang kami dapat tidak boleh langsung di lupakan. kami harus mencatatnya. ada  teman yang mencatat di tab, ada yang mengambil foto untuk dokumentasi.  pokoknya, kami seperti wartawan kecil yang sedang mencari berita. 

Ternyata mengumpulkan informasi itu seru. Kadang kami menemukan hal yang tidak kami duga. dari kunjungan ini , kami belajar bahwa Situ Cibereum bukan hanya tempat yang memiliki pemandangan indah. tempat ini juga memiliki sejarah, cerita masyarakat, dan lingkungan yang perlu di jaga. 

setelah kegiatan selesai, kami kembali kesekolah. Nah, bagian yang tidak kalah seru di mulai. Bu Guru berkata” sekarang semua hasil pengamatan kalian akan diolah menjadi tulisan.”

“Bu Guru mengajak anak-anak untuk membukan konten pelajaran yang ada di digislamic, di sana Bu Guru sudah menyiapkan judul  untuk bahan tulisan, setiap anak mendapatkan satu judul tulisan sesuai urutan absen yang sudah disediakan. sebelum mulai menulis anak-anak di minta untuk mengamati “panduan salasabu jelajah literasi Situ Cibereum” agar ketika mereka menulis tidak keluar dari panduan tersebut. 

kelas kembali rama. bedanya, kali ini keramaiannya karena kami sednag mencari ide.

kami mulai menulis. ada yang tulisannya langsung panjang, ada juga yang baru menulis judul. ada yang bingung memilih kata. Bahkan ada yang sudah menulis, lalu menghapusnya lagi karena merasa kalimatnya kurang jelas.

Bu Guru tidak menyuruh kami menulis harus langsung sempurna. kami diberi kesempatan untuk menulis, membaca kembali, memperbaiki, dan menulis lagi.

“Jangan takut salah. penulis hebat juga belajar dari kesalahan, “ kata Bu Guru 

kalimat itu membuat kami lebih percaya diri.

Sedikit demi sedikit, tulisan kami mulai jadi. Ada tulisan keindahan Situ Cibereu, ada tulisan tentang sejarah dan asal usul namanya. Ada tulisan tentang kegiatan masyarakat. Ada juga cerita pengalaman pribadi selama kunjungan. 

Dari satu tempat yang sama, ternyata bisa lahir banyak cerita berbeda.

Saat membaca tulisan teman, kami juga menemukan hal menarik. ternyata setiap orang punya cara bercerita yang berbeda. ada yang lucu, ada yang serius, ada yang penuh dengan pengalaman, dan ada yang membuat kami ingin ikut pergi ke Situ Cibereum. Dari situlah kami belajar bahwa bahasa dapat menyatukan banyak perbedaan. walaupun setiap anak mempunyai ide dan cara menulis yang berbeda, kami tetap bisa menghasilkan karya bersama. 

Bu Guru kemudian memberikan sebuah kejutan.

“Anak-anak ibu sudah membuat cover untuk buku antologi tulisan kalian, lho! sekarang, kalian tinggal menyiapkan tulisan terbaik tentang Situ Cibereum. Yuk, tuangkan pengalaman dan pengetahuan yang sudah kalian dapatkan menjadi cerita yang menarik. Semoga buku ini menjadi kenangan indah dan kebanggaan kita bersama!”

kami langsung bersorak

“Wah, kami semaknin semangat. kami mulai membayangkan nama kami tercantum di dalam buku. Rasanya bahagia sekali. Tulisan yang awalnya ada di buku tulis ternyata bisa menjadi bagian dari sebuah buku antologi. 

Kami kemudian belajar apa itu buku antologi. Ternyata antologi adalah kumpulan tulisan dari beberapa penulis yang disatukan menjadi satu buku. Jadi, buku yang kami buat merupakan kumpulan cerita dari teman-teman satu kelas. 

Ternyata literasi itu tidak membosankan.

Literasi bisa dimulai dari rasa ingin tahu. Literasi bisa dilakukan dengan melihat, bertanya, mendengar, membaca, mencatat, lalu menulis. Bahkan sebuah perjalanan sederhana bisa menjadi cerita yang berharga.

Kunjungan ke Situ Cibereum juga mengajarkan kami untuk mencintai lingkungan. Kami belajar bahwa tempat di sekitar kita bisa menjadi sumber ilmu. Kita tidak harus selalu pergi jauh untuk menemukan sesuatu yang menarik. Kadang, tempat yang dekat dengan kehidupan kita justru menyimpan cerita yang luar biasa. Dan yang paling menyenangkan, kami berhasil membuat sesuatu. Satu kelas, satu buku.

Buku itu bukan hanya kumpulan tulisan. Buku itu adalah kumpulan ide, pengalaman, kerja sama, dan kenangan kami.

Dari satu bahasa, kami belajar menyampaikan cerita. Dari satu bangsa, kami belajar untuk saling menghargai . Dari satu kelas, kami belajar bahwa jika bekerja bersama, banyak hal yang bisa kami hasilkan. 

Jadi, siapa bilang belajar itu harus selalu duduk dian di dalam kelas?

Kami sudah membuktikan bahwa belajar bisa sambil melihat alam, bertanya kepada orang lain, berjalan bersama teman, menulis cerita, dan menghasilkan sebuah karya. 

Satu Bahasa, satu Bangsa, Banyak Cerita

Dan cerita kami dimulai dari Situ Cibereum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *