Menjadi guru membuat saya sering melihat siswa seperti tunas pada tumbuhan. Dalam Biologi, tunas tumbuh dari bagian tanaman yang aktif membelah dan berkembang menjadi organ baru. Namun, pertumbuhannya tidak selalu sama. Ada tunas yang cepat muncul, ada yang membutuhkan waktu lebih lama, dan ada yang baru berkembang ketika mendapat cukup air, cahaya, dan kondisi lingkungan yang mendukung. Begitu pula dengan siswa. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang perlu lebih banyak pendampingan, dan ada juga yang sebenarnya memiliki banyak potensi tetapi belum berani menunjukkannya. Karena itu, bagi saya tugas guru bukan hanya menyampaikan materi. Guru perlu menciptakan lingkungan belajar yang membantu setiap “tunas” tumbuh, melalui kegiatan membaca, menulis, berdiskusi, bertanya, dan menyampaikan gagasan dengan percaya diri.

Seperti tunas yang membutuhkan lingkungan yang tepat untuk tumbuh, siswa juga membutuhkan ruang belajar yang mendukung agar potensinya berkembang. Karena itu, sebagai guru Biologi dan Green Education di SMA Al Muslim, saya berusaha membangun pembelajaran yang tidak berhenti pada hafalan konsep. Saya ingin siswa tidak hanya membaca buku, tetapi juga belajar membaca gambar, video, data, fenomena, dan persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka. Dari proses itu, mereka belajar memahami informasi, menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki, lalu menyampaikan kembali pemikirannya dengan bahasa mereka sendiri. Bagi saya, literasi bukan sekadar kemampuan mengenali kata, tetapi juga kemampuan memahami, menalar, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab.

Salah satu kegiatan yang saya lakukan adalah saat mengajar materi virus. Saya tidak ingin siswa hanya menghafal bagian-bagian virus, ciri-cirinya, atau macam-macam virus. Saya lebih suka memulai dari hal yang dekat dengan kehidupan mereka. Saya tampilkan gambar, video singkat, infografis, atau contoh penyakit yang disebabkan oleh virus. Dari situ, biasanya mulai muncul pertanyaan. Ada yang bertanya mengapa virus harus hidup di dalam sel inang, ada yang penasaran bagaimana virus bisa menular, dan ada juga yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi ketika virus masuk ke tubuh. Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu membuat suasana kelas jadi lebih hidup. Siswa mulai mencari informasi, berdiskusi dengan teman, membandingkan sumber yang mereka temukan, lalu mencoba menjelaskan kembali dengan bahasa mereka sendiri. Bagi saya, di situlah literasi mulai tumbuh. Mereka tidak hanya membaca karena ada tugas, tetapi membaca karena ingin menemukan jawaban dari sesuatu yang benar-benar membuat mereka penasaran.

Dari proses itu, saya mulai melihat perubahan kecil di kelas. Siswa yang biasanya hanya menunggu penjelasan mulai lebih sering bertanya. Ada yang sebelumnya diam, lalu mulai ikut menyampaikan pendapat saat diskusi. Beberapa siswa yang awalnya ragu berbicara juga mulai lebih percaya diri setelah berdiskusi dalam kelompok kecil dan mempresentasikan hasilnya bersama teman. Hal yang paling terasa bagi saya adalah perubahan cara mereka membaca. Membaca tidak lagi sekadar tugas yang harus selesai. Mereka mulai mencari informasi karena memang ingin menemukan jawaban dari pertanyaan yang muncul selama pembelajaran. Saat itu saya merasa, literasi tumbuh bukan karena siswa disuruh membaca, tetapi karena mereka punya alasan untuk membaca.

Perubahan itu semakin terasa karena pembelajaran di SMA Al Muslim sudah didukung teknologi digital. Setiap siswa menggunakan tablet Samsung dalam kegiatan belajar, termasuk membuka materi, mengerjakan LKPD, dan berdiskusi melalui Samsung Notes. Dari sini, siswa tidak hanya belajar mencari informasi, tetapi juga belajar memilih mana yang benar-benar bisa dipercaya. Mereka mulai terbiasa membandingkan sumber, mencatat hal penting, lalu menuliskannya kembali dengan bahasa sendiri. Bagi saya, teknologi cukup menjadi alat bantu; yang paling penting adalah siswa tahu cara menggunakannya dengan bijak dan bertanggung jawab.

Dari kebiasaan menggunakan teknologi secara bijak, saya juga mengajak siswa melihat bahwa belajar bisa sekaligus menjadi bagian dari kepedulian terhadap lingkungan. Melalui Green Education, penggunaan bahan digital membantu mengurangi kertas dan membiasakan siswa memilih cara belajar yang lebih ramah lingkungan. Di kelas, perbedaan karakter dan cara berpikir justru menjadi kekuatan. Bahasa Indonesia menjadi penghubung ketika mereka berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan menanggapi gagasan teman. Dari proses sederhana ini, siswa belajar bahwa literasi bukan hanya soal membaca, tetapi juga memahami, berbicara, dan menghargai perbedaan.

Itulah yang kemudian saya maknai sebagai TUNAS (Tumbuh, Ungkap, Nalar, Aksi, dan Suara Siswa). Bagi saya, setiap siswa perlu diberi kesempatan untuk tumbuh, berani mengungkapkan pendapat, menggunakan nalar, melakukan aksi, dan menemukan suaranya sendiri. Hasilnya memang tidak selalu terlihat cepat. Kadang cukup dari satu siswa yang mulai berani bertanya, satu kelompok yang berdiskusi lebih serius, atau satu anak yang akhirnya percaya diri saat menyampaikan hasil kerja. Dari hal-hal kecil itu saya belajar bahwa budaya literasi tumbuh ketika siswa merasa perlu membaca, berpikir, dan berbicara. Jika kebiasaan ini terus dirawat, saya percaya tunas-tunas kecil di kelas hari ini akan tumbuh menjadi generasi yang kritis, peduli, santun, dan mampu memberi arti bagi bangsanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *