Kalau kita bicara tentang apa yang menyatukan bangsa Indonesia, jawaban yang paling mudah tentu Bahasa Indonesia. Sejak sekolah, kita sudah hafal semboyan Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Bahkan mungkin sebagian dari kita masih ingat bagaimana dulu harus menghafalkannya untuk upacara atau tugas sekolah.

Namun, kalau kita melihat kehidupan sehari-hari di lingkungan Al Muslim, rasanya ada hal menarik yang layak kita ceritakan. Sebab, selain Bahasa Indonesia, ada kosakata lain yang cukup akrab di telinga kita. Mulai dari afwan, syukran, jazakumullah, sampai barakallahu fiik. Kadang-kadang, belum selesai satu kalimat, sudah bercampur dengan bahasa Arab dan bahasa daerah.

Coba saja perhatikan percakapan di antara warga Al Muslim. Ada yang sudah lancar menggunakan istilah Arab dalam obrolan sehari-hari. Ada yang masih sesekali berhenti untuk mengingat artinya. Ada pula yang kalau mendengar kata afwan langsung menjawab, “Sama-sama,” meskipun sebenarnya belum tentu konteksnya begitu. Tidak apa-apa, namanya juga proses belajar.

Justru di situlah letak serunya. Kita boleh berbeda dalam cara berbicara, tetapi tetap bisa merasa dekat satu sama lain.

Lihat saja suasana kantin sekolah saat jam istirahat. Ada yang berbicara dengan logat Sunda yang kental, ada yang medok Jawanya masih terasa, dan ada pula yang gaya bicaranya khas Betawi. Kalau semuanya sedang asyik mengobrol, suasananya bisa ramai sekali. Kadang, untuk memahami satu kalimat saja, kita perlu bertanya dua kali.

Namun, ketika azan Zuhur berkumandang, suasana perlahan berubah. Obrolan berhenti, anak-anak bersiap mengambil wudu, dan langkah kaki mulai menuju tempat salat. Tidak ada lagi urusan siapa yang logatnya paling khas atau siapa yang paling fasih berbahasa Arab. Semua memenuhi panggilan yang sama.

Barangkali, itulah salah satu makna sederhana dari persatuan. Kita tidak harus berbicara dengan cara yang sama untuk bisa berjalan menuju satu tujuan.

Di Al Muslim, bahasa Arab tentu bukan sekadar pelengkap percakapan atau supaya terdengar lebih Islami. Ada nilai yang ingin ditanamkan di dalamnya. Bahasa Arab membantu kita memahami Al-Qur’an, mengenal doa-doa, dan mendekatkan diri pada ajaran Islam. Lebih dari itu, bahasa juga menjadi jembatan untuk saling mengenal.

Bayangkan kalau suatu hari kita sedang berada di Tanah Suci. Kita mungkin tidak mengenal orang-orang yang berpapasan dengan kita. Namun, ketika terdengar sapaan assalamu’alaikum, hati terasa lebih tenang. Lalu, ketika tahu bahwa orang di depan kita sama-sama berasal dari Indonesia, percakapan pun biasanya menjadi lebih akrab. Bisa jadi ujung-ujungnya malah membicarakan harga makanan yang mahal atau mencari tempat membeli oleh-oleh.

Hal-hal kecil seperti itu menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya soal susunan kata. Ada rasa akrab, rasa percaya, bahkan ada perasaan bahwa kita tidak sendirian.

Lingkungan Al Muslim sendiri, kalau dipikir-pikir, merupakan gambaran kecil dari keberagaman Indonesia. Dalam satu kelas, kemampuan anak-anak tentu berbeda. Ada yang hafalannya sudah beberapa juz, ada yang masih berusaha melancarkan bacaan. Ada yang selalu percaya diri saat tampil di depan kelas, ada juga yang harus didorong berkali-kali supaya berani mengangkat tangan.

Belum lagi urusan keseharian. Ada anak yang perlengkapan sekolahnya selalu lengkap, ada yang hampir setiap pekan kehilangan sesuatu. Kadang kaus kaki sebelah, kadang alat tulis, kadang botol minum yang entah tertinggal di mana.

Tetapi, ketika mereka berdiri bersama saat upacara, mengikuti kegiatan sekolah, atau melantunkan doa, perbedaan itu tidak menjadi penghalang untuk merasa sebagai bagian dari satu keluarga besar.

Saya jadi berpikir, mungkin selama ini kita terlalu sibuk membicarakan perbedaan, sampai lupa bahwa ada banyak hal yang sebenarnya sudah menyatukan kita.

Salah satunya adalah bahasa doa.

Coba perhatikan percakapan di grup WhatsApp orang tua murid. Gaya bahasanya macam-macam. Ada yang menulis pesan panjang dan lengkap, ada yang cukup membalas “Siap, Ustazah”, ada pula yang langsung mengirimkan jempol sebagai tanda setuju. Cara menyampaikannya berbeda, tetapi harapannya sering kali sama: semoga anak-anak diberi kemudahan dalam belajar, tumbuh menjadi pribadi yang baik, dan mendapatkan keberkahan dalam setiap langkahnya.

Doa-doa sederhana itu mungkin terlihat biasa. Namun, di baliknya ada perhatian, kepedulian, dan harapan yang tidak sedikit.

Tentu saja, menjadi bagian dari Al Muslim bukan berarti kita sudah sempurna. Masih ada yang terlambat datang, lupa membawa perlengkapan, atau perlu diingatkan berkali-kali untuk menunaikan tanggung jawab. Guru pun tentu punya tantangan sendiri dalam mendampingi anak-anak dengan karakter yang beragam. Namanya juga manusia, selalu ada ruang untuk belajar dan memperbaiki diri.

Justru karena itulah, kebersamaan perlu terus dirawat. Bukan dengan menuntut semua orang menjadi sama, melainkan dengan belajar menghargai perbedaan dan saling membantu ketika ada yang kesulitan.

Saya teringat anak-anak yang baru belajar mengucapkan kata syukran. Ada yang pengucapannya sudah cukup jelas, ada yang masih terdengar lucu di telinga. Tetapi, bukankah setiap orang pernah berada di tahap belajar? Tidak ada yang langsung pandai sejak pertama mencoba.

Di sinilah kesabaran seorang guru menjadi penting. Ketika anak keliru mengucapkan sesuatu, ia dibimbing. Ketika belum paham, ia dijelaskan kembali. Kadang perlu diulang berkali-kali, tetapi dengan pendampingan yang baik, sedikit demi sedikit mereka akan berkembang.

Barangkali, cara kita memperlakukan orang yang sedang belajar itulah yang menunjukkan seberapa jauh kita memahami makna persatuan. Sebab, menyatukan orang tidak cukup hanya dengan mengajarkan kata-kata yang sama. Kita juga perlu membangun sikap saling menghormati dan memberi ruang bagi setiap orang untuk bertumbuh.

Lalu, apa arti “Satu Bahasa, Satu Bangsa” bagi keluarga besar Al Muslim?

Menurut saya, ini bukan tentang membuat semua orang memiliki logat yang sama, menguasai kosakata Arab yang sama, atau mempunyai kemampuan yang seragam. Ini tentang memiliki nilai yang ingin dijaga bersama dan tujuan baik yang hendak dicapai bersama.

Kita menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi, belajar bahasa Arab untuk memahami agama, dan belajar bahasa hati agar lebih mudah mengerti satu sama lain.

Sebab, percuma fasih berbicara kalau kita sulit mendengarkan. Percuma pandai memilih kata kalau kita masih mudah merendahkan orang lain. Bahasa yang baik seharusnya tidak hanya terdengar indah, tetapi juga terasa manfaatnya bagi orang di sekitar kita.

Pada akhirnya, semangat Satu Bahasa, Satu Bangsa tidak cukup hanya ditulis di spanduk atau dibacakan saat peringatan hari besar. Semangat itu hidup dalam keseharian: ketika anak-anak saling menyapa di pagi hari, ketika guru membimbing dengan sabar, ketika orang tua saling mendoakan, dan ketika kita bersedia membantu tanpa sibuk menghitung perbedaan.

Mungkin, salah satu pemandangan paling sederhana sekaligus paling menghangatkan hati adalah ketika anak-anak Al Muslim mengucapkan salam sebelum memulai kegiatan. Suaranya kadang belum serempak, ada yang terlalu keras, ada yang pelan, bahkan mungkin ada yang masih sibuk merapikan barisan. Namun, semuanya sedang belajar melakukan hal yang sama: menyapa dengan baik dan memulai hari dengan doa.

Jadi, kalau suatu saat ada yang bertanya tentang bahasa persatuan di Al Muslim, jawabannya boleh sederhana: Bahasa Indonesia menyatukan kita sebagai bangsa, bahasa Arab mendekatkan kita pada Al-Qur’an, dan bahasa hati membantu kita menjaga persaudaraan.

Karena pada akhirnya, yang membuat kita benar-benar satu bukanlah keseragaman cara berbicara, melainkan kesediaan untuk saling memahami dan melangkah bersama dalam kebaikan.

Dan kalau celotehan ini terasa agak panjang, anggap saja seperti obrolan di warung kopi. Kadang pembahasannya ke mana-mana, tetapi mudah-mudahan ada satu dua hal yang bisa kita bawa pulang.

Afwan kalau ada kata yang kurang berkenan. Jazakumullahu khairan atas waktunya. Semoga Allah menjaga kebersamaan kita dan menjadikan keluarga besar Al Muslim sebagai lingkungan yang terus menumbuhkan ilmu, akhlak, dan persaudaraan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *