SYIAR

Manusia adalah makhluk ketergantungan, dalam arti manusia sebagai makhluk yang
lemah sudah tentunya perlu memiliki sandaran diri, dalam hal ini tidak lain agamalah
yang menjadi sandaran utama untuk menuju ketenangan raga dan jiwa. Berkaitan erat
dengan agama, dalam hal lain sebagai manusia yang beragama seseorang justru
mendalaminya dalam bentuk frekuensi yang berbeda. Sebut saja orang tersebut
dengan nama fato, dalam hal ini tentunya fato tidak serta merta menemukan jati
dirinya yang sesungguhnya melainkan perlu perjalanan panjang untuk mencapai ke
titik dari banyaknya titik yang ada.

Fato adalah anak yang cerdas, kecerdasannya tersebut tidak datang begitu saja
namun bersumber dari orang tua nya. Berbicara dalam perspektif agama fato memiliki
orang tua yang memahami agama dalam hal ini tepatnya ayah fato adalah pemuka
agama yang gemar menyampaikan konsep-konsep pemikirannya yang berlandaskan
agama kepada manusia lain. Demikian juga dalam kehidupan masa kecil fato sering
sekali dan bahkan sangat sering mendapatkan pendidikan non formal dari ayahnya.
Tidak memilih contoh baik atau buruk ayah fato menyampaikan ilmu agama apa
adanya dan sebenar-benarnya.

Tentunya awal pertama fato mendapatkan pelajaran agama yang diberikan oleh
ayahnya langsung, dia tidak bisa langsung memahami makna dan manfaat ilmu ini,
tetapi diwajarkan saja. Begitu mungkin fikir ayahnya yang mumpuni dalam keilmuan
agamanya tersebut, tetapi biar bagaimanapun yang namanya orang tua orang lain
saja diajarkan rasa-rasa nya buah hati sendiri tidak mungkin tertinggal, lebih-lebih ilmu
ini adalah ilmu agama yang mana menjadi hal yang sangat penting dalam menjalani
hidup di dunia dan kelak di akhirat nanti.

Seiring berputarnya waktu pun dengan fato yang semakin bertumbuhnya raga dan
pemikirannya, dia mulai memahami makna vital dalam konteks agama islam, disitulah
fato rutin menjalani kehidupan sehari-hari dengan kegiatan yang berkaitan dengan
agama dan bahkan dia mengenyang pendidikan formal yang berlatar belakang
agama. Dalam masa ini tidak ada rasa terkejut dalam benak fato terkait proses yang
dijalani, hal demikian dikarenakan sedari dini dia sudah mendapatkan stimulus yang
langsung diturunkan oleh ayahnya. Hari-hari fato dijalani dengan riang dan gembira
disisipkan dengan sedikit karakter iseng, fato sesekali usil ke teman-teman
sebayanya.

Pada masa remaja fato tetap teguh dalam menjalani pendidikan formal, contohnya dia
bahkan melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas, dalam konteks demikian fato
tidak hanya berfokus mengenyang pendidikan agama namun juga berfokus pada
pendidikan formal. Untuk mengelaborasi dua fokus tersebut fato mengambil
penjurusan agama, tidak serta merta tentunya dan fato tetap ingin mempelajari ilmu
agama di tingkat perguruan tinggi. Pun pada saat di dunia perkuliahan fato
menjalaninya dengan penuh riang dan selayaknya dengan para mahasiswa lainnya.

SYAIR

Seiring berjalannya pembelajaran di dunia kampus rupanya fato mulai menekuni
dunia musik, dalam arti musik yang ditekuni ini merupakan elaborasi dengan latar
belakang fato, tentu saja dalam hal ini musik yang ditekuni fato adalah musik nuansa
islam (gambus). Karena fato adalah anak yang cerdas ketika dia memiliki minat dan
bakat musik sudah tentu fato cepat untuk beradaptasi dan memahami dunia barunya
tersebut. Dalam perjalanannya menuju sarjana tidak hanya dunia musik yang ditekuni
fato melainkan dia bertekad untuk meminang wanita pilihannya.

Singkat waktu pasca pendidikan yang dituntaskan fato yang sampai menginjak
semester akhir tersebut, dia mulai melebarkan sayap dunia permusikannya ke kerabat
dekat maupun ke masyarakat umum. Pada sisi lain fato pun sempat menjadi pendidik
di sekolah sebagai bentuk tanggung jawab moral atas latar belakang pendidikannya
itu. Perjalanan tidak mudah apalagi fato sudah memiliki pendamping hidup, tentunya
sebagai kepala rumah tangga dia harus mencari nafkah untuk keluarga kecilnya itu.

Kesenian ada dalam jiwa fato dan fato sangat menjiwai kesenian musik, tentunya fato
bisa ke titik sampai saat ini tidak serta merta berjalan dengan landai, diawal
kegemarannya pada musik sempat mendapatkan penolakan dari ayahnya namun
bukan fato namanya jika tidak memiliki pikiran yang cerdas, dia mampu meyakinkan
ke ayahnya akan hobi nya tersebut dan siap mempertanggung jawabkan di dunia dan
tentunya kepada tuhan. Kenapa demikian?, karna musik yang dimainkan oleh fato
adalah bagian dari syiar itu sendiri.

Waktu berjalan tidak terasa dan fato hingga kini masih menekuni dan melebarkan
dunia musiknya itu hingga memiliki grup musik pribadi, ini adalah hasil dari
perjuangan fato sejak kecil, pun pada saat ini fato masih berfokus menjadi seorang
pendidik namun ada sedikit perbedaan yang mana fato tidak mengampu pelajaran
sesuai dengan latar belakang akademiknya melainkan menjadi guru seni. Entah ini
bentuk takdir yang seperti apa, seketika fato bisa menjalankan hobinya dan sekaligus
mengajarkan hobinya kepada murid.

Hari-hari fato menjalani kehidupannya dengan progresif, murid-murid yang akan
tampil dalam pentas seni atau bahkan akan mengikuti lomba kesenian disitulah fato
menegaskan ilmunya dan melatih muridnya untuk menjadi lebih baik lagi dalam
talentanya. Namun sering terlintas pada pikiran fato terkait dilema antara syiar atau
syairkah yang harus ditekuni, kenapa demikian bisa terbesit dikarenakan rupanya fato
pun kerap melakukan kajian-kajian agama di masyarakat. Hal yang wajar apa yang
sering dipikirkan fato namun kembali lagi bagaimana menakar porsi kegiatan dia agar
supaya sesuai dengan dilema yang sering melintas tersebut. Hingga kini fato masih
menjalankan kegiatannya yang beragam tersebut, selagi raga masih sehat dan dapat
membahagiakan keluarka tercinta kenapa harus menghentikan salah satunya.

Penulis: M. Aris,S.Pd.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *