Nama saya Ari Widiastuti, S.Pd. Sejak Juni 2007, saya menjadi bagian dari keluarga besar Yayasan Al Muslim. Jika dihitung hingga hari ini, sudah hampir 19 tahun saya menjalani perjalanan sebagai seorang guru. Waktu yang tidak singkat. Begitu banyak wajah yang pernah hadir di hadapan saya, begitu banyak cerita yang tertinggal di ruang kelas, dan begitu banyak pengalaman yang akhirnya membuat saya memahami bahwa menjadi guru bukan sekadar mengajar.

Menjadi guru berarti terus belajar menjalani berbagai peran dalam kehidupan.

Di sekolah, saya adalah guru. Namun, ketika dipercaya menjadi wali kelas, peran itu terasa lebih luas. Saya bisa menjadi ibu, teman, bahkan sahabat bagi siswa. Sementara ketika pulang ke rumah, saya harus kembali menjalankan peran sebagai istri dan ibu bagi tiga anak. Pergantian peran itu tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika tubuh terasa lelah, pekerjaan sekolah belum sepenuhnya selesai, tetapi di rumah masih ada keluarga yang membutuhkan perhatian.

Saya sering merasa bahwa kehidupan seorang guru dan seorang ibu memiliki kesamaan: keduanya sama-sama harus hadir, bahkan ketika sedang lelah.

Pagi hari di sekolah menjadi awal dari rutinitas yang selalu saya nikmati. Hari tidak langsung dimulai dengan buku pelajaran dan penjelasan materi. Bersama siswa, kami mengawali pagi dengan tadarus, kemudian dilanjutkan dengan salat dhuha dan doa bersama. Setelah itu, barulah kegiatan pembelajaran berlangsung hingga menjelang waktu zuhur.

Bagi saya, kegiatan tersebut bukan sekadar rutinitas. Ada sesuatu yang sedang dibangun sedikit demi sedikit dalam diri siswa: kebiasaan, kedisiplinan, kedekatan kepada Allah, dan rasa kebersamaan.

Namun, ada satu momen yang menurut saya justru menjadi salah satu bagian paling hangat dari kehidupan di sekolah: waktu makan siang.

Setelah berjamaah salat zuhur, siswa bergegas menuju tempat makan. Suasana yang sebelumnya cukup tertib berubah menjadi lebih santai. Makanan disiapkan secara sederhana dengan konsep prasmanan. Nasi, lauk-pauk, sayur, dan makanan lainnya ditata rapi pada tempat yang telah disediakan, lalu siswa bergantian mengambil makanan sesuai dengan kebutuhannya, ada yang berbagi makanan, ada yang tertawa karena cerita temannya, dan ada pula yang tiba-tiba datang menghampiri saya hanya untuk bercerita.

Di situlah saya sering menemukan sisi lain dari siswa.

Ada yang tiba-tiba curhat tentang masalahnya. Ada yang bercerita tentang keluarganya. Ada yang mengeluhkan tugas yang belum selesai. Ada yang hanya ingin didengarkan. Ada pula yang memang datang untuk melontarkan lelucon dan membuat teman-temannya tertawa.

Kadang-kadang saya hanya mendengarkan sambil tersenyum.

Saya menyadari bahwa mungkin bagi mereka, momen makan siang itu sederhana. Tetapi bagi saya, percakapan-percakapan kecil tersebut sangat berarti. Dari sanalah saya mengenal siswa bukan hanya sebagai nama yang tercatat dalam daftar presensi, tetapi sebagai pribadi dengan cerita, harapan, kekhawatiran, dan impiannya masing-masing.

Menjadi wali kelas semakin memperkuat pengalaman itu.

Saat ini saya dipercaya menjadi wali kelas XII IPS. Di kelas XII, tanggung jawab sebagai wali kelas terasa semakin besar karena siswa sedang berada di penghujung perjalanan mereka di SMA. Mereka tidak hanya memikirkan pelajaran, tetapi juga kelulusan, perguruan tinggi, masa depan, bahkan perpisahan dengan teman-teman yang selama tiga tahun telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Salah satu tantangan yang cukup menyita perhatian adalah karya tulis. Sebagai salah satu syarat kelulusan, setiap siswa harus menyelesaikan karya tulisnya. Tentu saja, ada guru pembimbing yang mendampingi proses tersebut. Namun, sebagai wali kelas, saya juga memiliki peran penting untuk memantau perkembangannya.

Di sinilah saya belajar bahwa menjadi wali kelas terkadang berarti menjadi orang yang paling sering ditanya ketika sesuatu belum selesai.

“Bu, bagaimana karya tulisnya?”

“Bu, si A belum bimbingan.”

“Bu, ini sudah sampai bab berapa?”

Dan ketika waktu pengumpulan semakin dekat, nama wali kelas seolah menjadi nama yang paling mudah dicari.

Saya pun harus mengingatkan, menanyakan perkembangan, memotivasi, bahkan sesekali sedikit “mengejar” mereka.

“Sudah sampai mana?”

“Jangan ditunda lagi.”

“Coba hari ini diselesaikan.”

“Kalau ada kesulitan, ceritakan. Jangan diam saja.”

Terkadang mungkin mereka merasa saya terlalu banyak mengingatkan. Namun, di balik setiap pengingat itu ada harapan sederhana: saya ingin mereka menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai.

Sebab, mendampingi siswa bukan hanya tentang membantu mereka mendapatkan nilai yang baik. Ada proses yang jauh lebih penting, yaitu mengajarkan mereka bertanggung jawab terhadap pilihan dan tugas yang mereka miliki.

Menjadi guru selama hampir 19 tahun membuat saya semakin memahami bahwa tidak semua pelajaran berlangsung di ruang kelas.

Ada pelajaran yang terjadi ketika saya duduk mendengarkan siswa bercerita saat makan siang.

Ada pelajaran yang hadir ketika saya mengingatkan siswa yang mulai kehilangan semangat.

Ada pelajaran yang tumbuh ketika saya melihat siswa yang dulu pemalu perlahan berani berbicara.

Dan ada pelajaran yang justru saya dapatkan dari mereka: tentang kesabaran, ketulusan, perjuangan, dan bagaimana setiap anak memiliki cara yang berbeda untuk bertumbuh.

Saya juga belajar bahwa menjadi guru sekaligus istri dan ibu bukanlah perkara membagi waktu menjadi bagian-bagian yang sama. Ada kalanya sekolah membutuhkan lebih banyak tenaga. Ada kalanya keluarga membutuhkan lebih banyak perhatian. Di antara keduanya, saya terus belajar menemukan keseimbangan.

Ketika berada di sekolah, saya berusaha memberikan yang terbaik untuk siswa. Ketika pulang ke rumah, saya kembali menjadi istri dan ibu. Dua dunia yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama membutuhkan hati saya.

Setelah 19 tahun, saya menyadari bahwa mungkin inilah yang membuat profesi guru begitu istimewa. Kita tidak hanya mengajar anak-anak, tetapi ikut menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.

Suatu hari nanti, siswa-siswa kelas XII IPS ini akan meninggalkan sekolah. Mereka mungkin akan melanjutkan kuliah, bekerja, atau menempuh jalan kehidupan yang berbeda-beda. Mungkin mereka tidak akan mengingat semua materi yang pernah saya ajarkan. Mungkin mereka juga lupa berapa kali saya mengingatkan tentang karya tulis.

Tetapi saya berharap mereka mengingat satu hal: pernah ada seorang guru yang peduli kepada mereka.

Karena pada akhirnya, menjadi guru bukan hanya tentang apa yang kita ajarkan di dalam kelas. Menjadi guru adalah tentang hadir, mendengarkan, mendampingi, mengingatkan, menguatkan, dan menyimpan banyak cerita tentang anak-anak yang pernah kita temui dalam perjalanan hidup.

Dan setelah 19 tahun, saya bersyukur pernah dan masih dipercaya menjadi bagian dari perjalanan itu.

Saya adalah guru. Namun, di hadapan siswa, saya belajar bahwa menjadi guru bukan hanya tentang mengajarkan ilmu, tetapi juga tentang terus belajar dari mereka. Dari siswa, saya belajar tentang kesabaran, ketulusan, keberanian, perjuangan, dan cara melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa setiap siswa juga bisa menjadi guru bagi saya. Mereka mengajarkan banyak hal tanpa harus berdiri di depan kelas dan melalui mereka, saya terus belajar menjadi pribadi dan guru yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *