Manusia diciptakan oleh Allah sebagai Khalifah Fil Ardh. Khalifah fil Ardh bukan hanya sebagai pemimpin di muka bumi, namun secara luas khalifah fil Ardh berarti sebagai wakil Allah dan pengelola, pemelihara di Bumi Allah. Inilah sebenarnya yang menjadi tanggung jawab besar bagi manusia sebagai makhluk yang dikaruniai hati dan akal fikiran untuk mengelola bumi.

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”

            Jika kita membuka Mushaf, Allah tidak pernah menyebut bumi sebagai milik kita. Tapi bumi sebagai amanah yang harus kita jaga dan pelihara.

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا

Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik

(Q.S. Al A’raf 56 )

Ayat ini turun jauh sebelum ada istilah pemanasan global, sebelum ada sampah plastik di selokan belakang rumah kita. Islam sudah lebih dulu mengajarkan: merawat lingkungan adalah ibadah, merusaknya adalah penghianatan terhadap peran kita sebagai khalifah.

            Khalifah bukan penguasa, tapi penjaga. Dan penjagaan itu tidak dimulai dari seminar Internasional, tapi di dua tempat paling dekat dengan anak – anak kita : di belakang rumah dan di dalam ruang kelas.

1. Madrasah Pertama : Belakang Rumah

Dikatakan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda :

“ Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, kecuali baginya itu adalah sedekah “ ( H.R Bukhari –  Muslim ).

Mari kita merenung. Di belakang rumah yang sempit, ketika seorang ibu mengajak anaknya menyiram tanaman cabai, tomat, menanam bayam, atau sekedar membuat kompos dari sisa kulit buah, sebenarnya ia sedang mengajarkan Tauhid.

Kesadaran tentang hidup tidak sendiri, kita berdampinga dengan makhluk Allah yang perlu kita jaga dan rawat. Karena sejatinya ketika kita memperlakukan tanaman dengan baik maka tanaman pun memberikan sesuatu yang lebih baik yaitu dalam bentuk buah yang bisa kita nikmati. Itulah Karunia Allah yang sangat luar biasa yang perlu kita syukuri.

Apa yang bisa kita semaikan di rumah ?

a. Mematuhi Perintah Allah “Walaa Tusrifuu ( وَلَا تُسْرِفُوْاۚ )”

Allah sangat membenci perilaku berlebihan. “ Makan dan minumlah, dan jangan berlebih – lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih – lebihan “ ( QS. Al A’raf ayat 31 ).

Mengajarkan anak untuk makan secukupnya agar tidak berlebih, mematikan keran air wudhu yang masih mengalir deras bahkan ketika wudhu untuk tidak boros air, mematikan lampu saat tidak dipakai. Itu bukan soal pelit, tapi soal adab, etika kepada Sang Pemberi Rizki yaitu Allah SWT. Perilaku inilah yang mestinya bisa diajarkan dan diterapkan dirumah.

b. Menghidupka Sunah Air Wudhu.

Ketika berwudhu air yang pergunakan adalah air suci dan mensucikan. Gunakan air wudhu secukupnya, tidak boros. Mengapa harus terbuang ke got ? Tampung air Wudhu ke dalam ember, gunakan untuk menyiram tanaman belakang rumah. Anak akan belajar : dalam Islam, bahkan air bekas ibadah pun masih membawa keberkahan dan kemanfaatan untuk makhluk lain.

c. Kompos Sebagai Sedekah Bumi.

Sisa nasi, kulit pisang, jeruk, daun kering jangan langsung dibuang. Tampung dan jadikan kompos. Katakan pada anak, “ Kita sedang mengembalikan makanan ke bumi, seperti bumi memberi makan kepada kita “

Di belakang rumah, anak belajar bahwa Allah itu Khaliq, Maha Pencipta, dan setiap daun yang tumbuh adalah makhluk yang terus bertasbih.

2. Madrasah Kedua : Ruang Kelas

Belajar di kelas bukan hanya tentang hitungan matematika maupun fisika. Lebih dari itu belajar memahami lingkungan justru lebih penting karena berkaitan dengan akhlak dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Sehingga dampak yang besar akandirasakan di kemudian hari.

Jika dirumah anak belajar cinta terhadap lingkungan, ketika berangkat ke sekolah ia belajar tanggung jawab kolektif.

Rasulullah SAW bersabda “ Kebersihan adalah sebagian dari iman.” Kalimat ini sering kita lihat di dinding kelas, tapi jarang lita hidupkan ruhnya.

Ruang kelas yang peduli lingkungan dalam perspektif Islam bukan hanya kelas yang bersih, tapi kelas yang sadar.

a. Sampah Bukanlah Kotoran Semata tapi sesuatu yang harus dipilah.

Di setiap kelas pasti ada pemisahan tong sampah untuk sampah organik dan anorganik. Tugas guru adalah bagaimana membangun kesadaran  siswa bahwa sampah bukanlah hal yang kotor semata, tapi perlu kita tempatkan pada posisi semestinya. Ajarkan bahwa membuang sampah sembarangan adalah bentuk kedzoliman kecil kepada petugas kebersihan atau OB, kepada teman bahkan kedzoliman kepada bumi. Dalam islam, menyingkirkan duri dari jalan saja adalah bagian dari iman dan kepedulian lingkungan, apalagi membuang sampah pada tempatnya.

b. Meneladani Akhlak Nabi sebagai Pecinta Alam.

Nabi Muhammmad SAW melarang menebang pohon secara sia – sia bahkan saat perang. Beliau melarang buang air kecil di air yang menggenang. Beliau sangat lembut kepada pohon dan hewan. Kecintaan beliau kepada lingkungan adalah akhlak nabawi. Ceritakan kepada siswa – siswa dengan Sirah Nabawi. Agar siswa bisa meneladani akhlak tersebut.

c. Gerakan Kecil yang Besar Pahalanya.

Buat program “ Satu kelas satu tanaman “. Setiap kelas merawat satu pot tanaman. Ajak siswa untuk rutin menyiram satu pot tanaman dengan bergantian dan terjadwal. Buat bank sampah mini, hasilnya bisa di salurkan untuk santunan atau sosial.

Buat ajakan motivasi yang tertempel di dinding “ Membuang satu sampah meraih satu pahala
 Disinalh anak memahami surat Al Qashas ayat 77 :

“ Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi “

Peran manusia untuk menjadi penjaga alam semesta akan terwujud jika kesadaran akan tugas dan amanah dijalankan sebagai mana mestinya. Sikap peduli terhadap lingkungan bisa kita contohkan kepada generasi yang akan datang, yang akan melanjutkan estavet khalifah di bumi. Ingat warisan bukan hanya mata pelajaran saja, jauh lebih penting lagi karakter peduli terhadap alam dan sadar tugas sebagai khaliifah, penjaga bumi, kita wariskan kepada anak – anak kita. Dan kelak  kita bisa melihat dan tersenyum tatkala warisan itu dijalankan oleh penerus kita dan itulah jariyah kebaikan yang akan terus mengalir sampai akhir hayat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *