Genap satu tahun sejak kulangkahkan kaki di Bekasi. Jauh dari keluarga, kampung halaman, suasana, hingga hijau rindangnya. Merajut asa di dunia yang baru namun tak lagi asing. Awalnya sulit, butuh waktu untuk beradaptasi terutama dari sejuk dan dinginnya udara kampung dengan panasnya daerah industri. Hijau dedaunan di depan, samping, hingga belakang rumah tak lagi terlihat. Tergantikan oleh tembok perumahan yang kokoh berdiri. Padat. Bahkan tidak menyisakan sekedar ruang kecil untukku bisa menata ruang santai dengan nuansa hijau alami dari rerumputan.
Satu, dua hari pertama, masih kucari suasana yang teramat kusuka. Di pojok kamar, kujelajahi galeri, mencari sisa-sisa ruang hijau yang tertangkap kamera. Tak kurasa, senyumku mengembang tatkala satu per satu kenangan mulai melintas tiap kugeser potret hijau di layar ponselku. Beralih, merambah lebih jauh, kini berbagai tutorial berkebun di perkotaan mulai memenuhi beranda. Mulai dari hidroponik, berkebun secara vertikal, hingga tanaman yang mudah dibudidayakan. Membayangkan tangan ini mulai menata satu demi satu tunas yang mulai tumbuh.
Semuanya langsung berubah. Seolah terobati, pandanganku tak berhenti mengagumi hamparan rumput hijau yang membentang luas di Yayasan Al Muslim. Hijau dan rimbunnya dedaunan bergerak pelan diterpa angin, seolah menyapa hati kecilku yang rindu dengan semilir ini. Dari hari ke hari, kekaguman itu kian dalam atas segala kekuasaan dan kebesaran Allah – Sang Maha Pencipta yang melukis alam melalui pesan indah-Nya:
”Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).” (Q.S. An-Naml ayat 60)
Menyapa tanaman sudah menjadi kebiasaanku. Dengan gerakan pelan, kubiarkan jari jemariku menyentuh dedaunan yang mudah digapai. Entah mengapa rasanya menyenangkan. Sesekali, saat istirahat, kududukkan tubuhku di bawah pohon mangga yang sudah mulai berbuah. Sambil menyantap bekal dan melihat kaki-kaki lincah yang penuh semangat mengitari lapangan dan sekitarnya. Ada yang bermain bola, kejar-kejaran dengan teman, bermain di rumah pohon, bermain tanah, hingga mataku tertuju pada gerombolan anak yang terlihat sibuk di bawah pohon mangga. Kuperhatikan lebih dalam, kulihat seorang anak memegang ranting dan sesekali melompat. Penasaran, kulangkahkan kaki mendekati mereka.

“Mas… Mba… lagi ngapain?” tanyaku pada mereka.
“Ini bu… lagi ambil mangga bu” jawab mereka sambil menunjukkan 2 buah mangga seukuran ibu jari di tangan mereka.
“Ya Allah… Cantik… Ganteng… itu kan masih kecil, belum matang. Jadi ngga boleh diambil” jawabku.
“Ngga papa bu, kan masih banyak” jawab mereka polos.
“Sekarang masih banyak, tapi kalau diambilin terus lama-lama habis. Ngga boleh mukul-mukul pohon juga ya… Kita aja kalau dipukul sakit, tanaman juga sama sayang…”
“Lihat.. Mangganya kan juga belum matang, kalau diambil sekarang mangganya ngga bisa dimakan. Lebih baik kita rawat dengan baik, disiram setiap hari, dikasih pupuk, biar pohonnya tumbuh sehat. Terus kalau Mangganya sudah besar dan matang baru kita makan.”
“Iya bu.. Saya pernah makan mangga sebesar ini di kampung” jawab salah satu siswa SD tersebut sambil menggambarkan besarnya mangga dengan kedua tangannya.
“Rasanya enak kan?”
“Iya bu… Enak, manis banget. Saya makan banyak banget sampai kenyang”
“Aku juga bu… Aku pernah makan mangga Thailand yang besar banget”
“Aku juga bu…”
“Aku juga bu…” Jawab mereka dengan antusias.
“Nah, makanya kita jaga sama-sama pohon-pohon di sekolah dan dimanapun. Biar nanti mangga di sekolah ini bisa tumbuh besar dan manis seperti mangga di kampung dan yang biasa kalian makan. Ngga cuma pohon mangga aja, tapi pohon dan tanaman yang lain juga”
Anak-anak itu pun mengangguk sambil tersenyum lebar. Dua buah mangga kecil yang tadi ada di genggaman mereka ditaruh pelan-pelan di atas tanah. Ada rasa hangat yang menyelusup halus di dadaku melihat pemandangan sederhana itu. Jawaban polos anak-anak hari itu menyadarkanku pada satu hal, mereka bukannya berniat merusak, mereka hanya belum tahu cara menghargai siklus kehidupan di sekitar mereka.
Melalui lembar-lembar daun hijau di sekolah, aku juga belajar sebuah pelajaran berharga, menumbuhkan jiwa hijau tidak membutuhkan langkah raksasa yang rumit. Semuanya berawal dari rasa peduli baik akan hal-hal kecil dan keberanian untuk memulai dari diri sendiri. Jika sehelai daun mampu memberi oksigen dan kesegaran bagi sekitarnya, kita pun tentu mampu memberi dampak positif bagi lingkungan tempat kita tumbuh dan belajar.
