“Mah, aku ada tugas bikin prakarya” pagi itu, saya yang sedang terburu-buru menyiapkan sarapan untuk keluarga,  mendapat kabar dari anak laki laki saya mengenai penugasannya. “Prakarya apa dek?” tanya saya. “gak tau mah, kata bu guru dari barang yang tidak terlihat, emang ada ya mah?” jawab dia. Seketika saya berfikir. “masa itu doang dek perintahnya?” tanya saya kembali memastikan mengenai penugasannya. “iya mah itu doang, gatau deh nanti aja mikirnya mau makan dulu” jawab anak saya yang sedang terburu-buru juga. Setelah kami semua selesai sarapan, kami pun berangkat ke lokasi masing masing. Anak saya berangkat  ke sekolah menggunakan sepeda karena jarak yang lumayan dekat, Saya dan Ayahnya berangkat menuju tempat kerja.

 Hari pun berjalan seperti biasanya, dan lengkap di rumah kembali pada jam 5 sore. Pada saat kami berkumpul untuk makan malam, anak saya datang dengan sebuah dahan ranting berwarna coklat rapuh di tangannya. “Ngapain bawa ranting men? Mau bikin sarang burung?” Tanya ayahnya sembari tertawa. Saya pun ikut tertawa. “yeeee engga pah, ini mau buat prakarya” jawab anak saya. Saya pun bertanya “loh, kok ranting pohon de? Katanya yang tidak terlihat” tanya saya merasa bingung. Anak saya tersenyum lalu berkata “tadi pas di sekolah, aku kan lagi duduk di bawah pohon sama abi ngobrolin tugas ini, terus abi pergi duluan ke kantin katanya laper, nah terus aku sendirian tuh, pas aku lagi jalan mau masuk kelas, aku liat bapa bapa petugas kebersihan sekolah lagi nyapu dahan ranting banyaaakkk bangettt, terus aku kepikiran, apa maksud bu guru itu benda yang sering gak di perhatiin ya, abis itu aku langsung pergi nyamperin bapaknya dan minta rantingnya beberapa terus aku kumpulin, tapi aku juga gak tau sih mau di buat apa hehe” jelas anak saya panjang lebar. “Yaudah sekarang makan dulu, nanti dipikirin mau di buat apa” ucap saya mengingatkan untuk makan terlebih dahulu” makan malam itu pun di lanjutkan dengan perbincangan ringan.

 Malam larut pun tiba, seperti biasanya sebelum tidur saya menyempatkan diri untuk membaca al qur’an terlebih dahulu. Walau sambil mengantuk, saya yakin ayat ayat ini yang kelak menjadi saksi bahwa saya selalu mengingat Allah di berbagai keadaan. Setelah saya rasa kantuk yang berat mulai menyerang, saya pun menutup al qur’an tersebut dan hendak berwudhu kembali sebelum tidur. Ketika saya melewati ruang tamu, mata saya ter arah pada kaligrafi ayat kursi yang terpajang di dinding rumah kami. Dan seketika itu pula saya teringat akan ranting yang anak saya bawa ketika makan malam tadi. Sebuah ide pun muncul “bagaimana dengan kaligrafi” gumam saya sebelum pergi ke kamar mandi, berwudhu, dan kemudian tidur.

  Hari minggu pun tiba. Pagi itu selepas sholat subuh,  saya mengajak anak saya untuk membicarkan tugasnya. “dek, gimana kalau rantingnya di buat kaligrafi?” tawar saya kepadanya. “kaligrafi kan susah mah, aku gapernah bikin kaligrafi” jawab anak saya merasa keberatan atas saran yang saya berikan. “nanti mamah bantu kok, kita bikinnya yang mudah saja, seperti nama ALLAH atau nabi MUHAMMAD gitu dek” tawar saya kembali. “okedehh mahh nanti pagian aja ya mulai ngerjainnya”. “iyaa deek” jawab saya. Pukul 8 pagi setelah sarapan, saya dan anak saya duduk di ruang tamu dan mulai mengerjakan tugas yang memang tidak mudah untuk di kerjakan. Sembari mengerjakan, saya bercerita singkat kepada anak saya. “dek, adek tau gak kisah sahabat nabi yang masuk surga karena menyingkirkan dahan pohon di tengah jalan?” tanya saya memulai bercerita. “emang ada mah? beneran cuma nyingkirin aja? Tanya anak saya mulai tertarik. “iya dee, jadi ada hadits riwayat mulim yang bunyinya:

مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيقٍ، فَقَالَ: وَاللهِ لَأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِينَ لَا يُؤْذِيهِمْ فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ

Nah artinya  “Dikisahkan ada seorang pria melewati dahan sebuah pohon di badan jalan. Ia lantas berkata, ‘Demi Allah, aku akan menyingkirkan dahan ini agar tidak menghalangi kaum Muslimin.’ Berkat amal itu, ia dimasukkan ke surga,” (HR. Muslim).  “wah berarti kesempatan masuk surga itu bisa dateng dari mana aja ya mah” tanya anak saya. “iya dek, betul banget makannya kalo ada kesulitan yang menyulitkan orang lain bisa kita bantu ringankan, siapa tau itu yang jadi golden ticket kita buat ke surga kan” terang saya dengan senyum merekah. Anak saya pun mengangguk dan kami pun melanjutkan membuat kaligrafi tersebut.  Kami pun selesai membuat pada pukul 2 siang.

   Keesokan harinya, ketika saya sedang mengangkat jemuran, anak saya turun dari sepedanya dan langsung menghampiri saya. “mahhhh, aku dapet nilai 95” ucap anak saya sangat antusias. “ohh iyaa???? Alhamdulillah hasil kerja keras adek dapet nilai bagus” ucap saya memberikan apresiasi. “Kata bu guru juga, minggu depan akan ada pameran hasil karya tiap kelas. Adek diminta menjadi perwakilan kelas untuk dilombakan, tapi adek Cuma bawa kaligrafi itu, terus nanti adek menjelaskan ke juri di atas panggung kenapa adek mengambil karya ini gitu” ,”masyaallah, keren bangett dekk, yasudah nanti di persiapkan ya” ucap saya memberi apresiasi kembali. “siapp mah, nanti bantuin adek biar bisa tampil maksimal minggu depan”. Pinta anak saya “iya adek nanti mamah bantuin” ucap saya sembari tersenyum. Hari demi hari pun berlalu, saya pun menyempatkan datang ke acara perlombaan anak saya. “Peserta selanjutnya, Kelas 9D” tepuk tangan dukungan pun terdengar begitu banyak. Selanjutnya saya memperhatikan anak saya menjelaskan karya tersebut dimana ia juga menyampaikan hadits yang saat itu saya ceritakan kepadanya, “Saya membuat kaligrafi lafadz allah yang terbuat dari kumpulan ranting ini sebagai pengingat kepada kita bagaimana suatu keindahan, suatu kebaikan yang allah berikan bisa datang dari mana saja, cukup sekian yang dapat saya sampaikan, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. “wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”. Ucap para audiens di penghujung penampilan anak saya. Tepuk tangan pun terdengar begitu ramai dan ucapan “keren kiki keren” pun tak kalah banyaknya.

 Pengumuman pemenang lomba pun hampir tiba. Semua peserta merasakan deg degan yang sama termasuk anak saya dan teman-teman sekelasnya. “kalo gak menang gak papa lah ya mah” ucap anak saya menenangkan dirinya. “lohh, mamah juga gak memaksa adek untuk menaangg,  adek bisa tampil aja mamah udah bangga, menang kalah itu sudah diatur oleh allah, tugas kita hanya berusaha, oke?” ucap saya menyemangati dan memastikan anak saya untuk tetap tenang. “Okee pemenang perlombaan Kreasi Antar Kelas kali ini diaraih oleh Kelas 9D dengan kreasi Ranting Kayu” saya pun terkejut begitu juga anak saya yang tidak menyangka bahwa dirinya bisa menang. Anak saya pun naik keatas panggung dan mengambil hadiah. Sorak sorai teman-temannya di bawah panggung mengiringinya. Usai menerima hadiah, merekapun berfoto bersama dengan wali kelas. Terlihat senyum ceria tampak di wajahnya, syukur atas karunia-Nya dan prestasi yang telah diraih.

“Congratulation my boy, Mama is so proud of you!” sambal menepuk pundaknya dengan bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *