Setiap kali membuka lembaran Al-Qur’an dan menyimak lantunan ayat-ayat suci dari para Siswa, ada ruang kecil di dalam hati yang mendadak sunyi. Bagi seorang guru Al-Qur’an, mengajar bukan sekadar menyampaikan hukum tajwid atau membenarkan makhraj huruf. Mengajar adalah sebuah perjalanan spiritual yang panjang—penuh perjuangan, rasa lelah, dan kesucian. Di jalan yang tak mudah ini, memiliki seorang sahabat sejati dalam berjuang adalah salah satu anugerah terbesar yang menjaga langkah tetap kokoh.

Perjalanan bersama kami bermula di awal tahun 2017. Kala itu, kami berdua melangkah ke tempat pengabdian ini dengan penuh semangat dan harapan. Tahun itu menjadi saksi bagaimana kami membangun segalanya dari nol—mualai melaksakan rutinitas mengajar, hingga saling menyimak bacaan Al Qur’an agar tetap terjaga.

Di tengah beratnya masa-masa awal tersebut, kehadirannya selalu menjadi penawar rasa lelah. Sahabat saya ini adalah sosok yang sangat hangat dan humoris, memiliki bakat alami untuk menghidupkan suasana. Setiap kali kelas mulai terasa tegang atau rasa lelah melanda setelah berjam-jam menyimak bacaan siswa, ia dengan mudah melontarkan lelucon ringan atau seloroh jenaka yang mencairkan suasana. Humor-humor ringannya tak pernah gagal menghadirkan tawa tulus, baik bagi para siswa maupun ke teman-teman, membuat proses belajar Al-Qur’an yang berat terasa begitu menyenangkan dan penuh kehangatan.

Dulu, ruang guru dan selasar sekolah tak pernah sepi dari gelak tawanya. Ia selalu punya cara unik dan ceria untuk menyemangati siswa yang hampir putus asa, atau menghibur teman-teman saat beban terasa makin berat. Bersamanya, visi membumikan Al-Qur’an di hati generasi muda terasa begitu hidup dan berwarna.

Kini, sosok yang penuh keceriaan itu tak lagi berada di sisi. Suasana yang dulu riuh oleh canda tawa kini berganti menjadi keheningan yang dalam. Perjalanan yang kami tapaki bersama sejak tahun 2017 kini harus kami lanjutkan. Kehilangannya meninggalkan ruang hampa yang nyata—tak ada lagi celoteh jenaka yang menyapa di sela-sela istirahat mengajar, tak ada lagi momen ringan yang melembutkan hari-hari yang berat.

Namun, pengabdian kepada Al-Qur’an tidak boleh berhenti. Kehilangan ini mengingatkan saya bahwa setiap sahabat dalam perjalanan spiritual adalah titipan yang amat berharga. Dedikasi dan kebahagiaan yang kami bangun sejak tahun 2017 tidak boleh pudar. Kenangan akan gelak tawa dan semangatnya yang tak pernah padam kini menjadi warisan indah yang terus menguatkan langkah saya ke depan.

Rasa rindu akan kehadirannya yang ceria kini terus hidup dalam doa-doa sunyi di antara sujud. Semoga Allah mengumpulkan kembali kami, para pejuang Al-Qur’an, dalam kebahagiaan abadi di bawah naungan rahmat-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *