Sore itu, sekolah sudah mulai sepi. Hanya tersisa beberapa orang guru yanag satu per satu meninggalkan kampus Al Muslim. Aku masih di ruang kantor, merapikan laptop dan meja kerjaku.

“Bzzz…bzzz!” sayup-sayup terdengar bunyi getaran HP. Aku hampir tidak pernah membunyikan HP ke mode nyaring. “Berisik!” pikirku. Aku mencari-cari posisi HPku karena getarannya belum berhenti. Kalau hanya notif pesan Whatsapp, pasti hanya sebentar.

Ternyata dia tergeletak di bawah tasku. Aku angkat, dan kulihat nama yang kukenal di layar HP. Obrolan singkat, sebuah perintah untuk datang ke Ruang Aula STMIK.

Kejadian itu sangat cepat, singkat, dan padat. Keesokan harinya aku sudah berada di ruang DIgihub bersama belasan guru lainnya, bersiap menerima hibah (atau pinjaman?) tablet dari Samsung. Sejak itu, hidupku penuh dengan tantangan-tantangan baru.

Tablet Samsung itu digunakan sebagai penunjang program baru di Yayasan Al Muslim yang dikenal sebagia SDLS atau Samsung Digital Lighthouse School. Sebagai sekolah pelopor SDLS, guru yang terpilih sebagai Teacher Champion, harus mampu berkomitmen untuk mewujudkan pembelajaran One to One (guru dan siswa menggunakan alat bantu belajar berupa tablet). Dan, aku menjadi salah satunya.

 

Diamanahi sebuah device yang tentu tidak bisa dibilang murah, perasaanku campur aduk. Mampukah seorang Gen X sepertiku berjibaku dengan dunia baru? Berpindah alat bantu pekerjaan, dari sebuh laptop dengan layar yang cukup lebar, ke tablet yang hanya berukuran 12 inch?

Bismillah…meskpun tidak mudah, dunia harus tetap berjalan. Pelatihan demi pelatihan aku ikuti. Tidak secepat guru-guru muda, namun setidaknya aku bisa mengimbangi untuk tidak tertinggal jauh. Dengan fitur-fitur baru yang harus aku kenali, tantangan pekerjaan menjadi semakin tinggi. Aku mulai membiasakan diri bekerja dengan fitur google workspace (docs, sheet, slide, site, form), fitur Samsung Notes sebagai pengganti buku catatan, hingga screen recording untuk membuat video pembelajaran.

Tidak bisa dipungkiri, semua fitur yang tersedia di Samsung Tablet S10+ mampu mengciptakan dunia pembelajaran yang menarik dan interaktif. Guru pun dengan mudah dapat langsung menampilkan materi dan aktivitas pembelajaran melalui sambungan Smart TV hanya dengan menekan tombol “smart view”.

Namun, untuk bisa mengajak siswa berinterakasi dan berkolaborasi dengan fitur yang ada di Samsung tablet butuh waktu yang tidak sebentar. Guru perlu mengenalkan fungsi, manfaat, dan cara mengakses fitur-fitur tersebut dengan jelas dan detail kepada siswa. Keluhan pun tidak bisa dihindari.

Ambil contoh Samsung Notes. Di dalamnya, ada fitur dimana guru dan siswa bisa saling berkolaborasi secara langsung. Hanya saja, kolaborasi tersebut hanya bisa dilakukan secara terbatas (kurang lebih 10 siswa). Maka, solusi yang bisa dilakukan adalah kolaborasi dilakukan oleh perwakilan kelompok. Selain kendala tersebut, siswa pun kesulitan menulis di Samsung Notes karena tidak tersedianya stylus pen pada tablet Samsung A8 atau A9 yang mereka miliki. Siswa berusaha menyediakan stylus pen sendiri namun tingkat sensitifitasnya sangat rendah. Solusinya adalah mereka menulis hanya dengan menggunakan jari. Bisa ditebak, hasil tulisannya sangat beragam.

Semua kendala tersbut menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi. Lambat laun, setelah hampir 1 tahun sejak pencanangan SDLS, guru dan siswa sudah semakin terbiasa dan mahir menggunaakan fitur-fitur yang tersedia di tablet Samsung.

Pada akhirnya, peralihan alat bantu mengajar dari laptop ke tablet, menjadi saranaku, sebagai guru gen X, untuk lebih banyak belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ini adalah tantangan yang berat, namun menjadi lebih ringan ketika banyak dukungan positif yang membantu terlaksananya prorgram SDLS.

The last I can say “I am swamped, but I am grateful”. Thank you, Yayasan Al Muslim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *