Refleksi 14 Tahun Mengabdi Menuju Al Muslim Emas
Assalamualaikum, rekan-rekan civitas akademika Yayasan Al Muslim dan para pembaca setia CERITAMU.ID😊
———-
Perkenalkan, saya salah satu saksi hidup perjalanan Yayasan ini sejak Juli 2012. Sebagai lulusan Pendidikan Matematika yang sempat mencicipi serunya mengajar di Yayasan ini mulai dari Jenjang SMP, SMA, hingga SMK. Rasanya seperti ada sejuta memori yang terlintas saat mendengar tema besar celotehan ringan tentang Al Muslim pada bulan Maret ini yaitu Menuju Al Muslim Emas: Refleksi 47 Tahun dan Harapan Pendidikan Masa Depan.
———-
Angka 47 bukan sekadar angka dalam deret aritmatika bagi saya. Hal ini merupakan salah satu bukti ketangguhan sebuah Yayasan yang masih berdiri dan sedang menuju seperempat abad usianya. Jika mencoba melihat ke belakang, 47 tahun lalu, Yayasan Al Muslim mungkin masih berupa benih kecil. Sekarang? Yayasan ini sedang berlari kencang menuju usia emas. Saya mencoba merefleksi 14 tahun pengabdian menuju Al Muslim emas.
———-
Menghitung Hari, Refleksi Sejak 2012
Masih teringat jelas diingatan saya saat pertama kali mengajar di Al Muslim tahun 2012. Sebagai Generasi Milenial yang baru saja lulus dan penuh idealisme, saya dihadapkan pada sebuah papan tulis, spidol, dan deretan wajah haus ilmu mulai dari anak-anak SMP, SMA hingga SMK.
Mengajar Matematika memiliki tantangan yang sangat unik. Banyak yang mengatakan Matematika adalah mata pelajaran “monster” atau terkenal pelajaran yang paling menakutkan. Akan tetapi di Al Muslim, saya belajar bahwa mengajar bukan hanya soal memindahkan rumus dari buku ke kepala siswa. Namun, hal ini merupakan persoalan tentang bagaimana saya sebagai seorang guru dapat membangun suatu koneksi. Saya pernah berada di titik dimana harus menjelaskan materi fungsi linear ke siswa SMP yang sedang mencari jati diri, lalu beberapa jam kemudian saya harus beralih mengajar siswa SMK yang lebih fokus pada aplikasi praktis untuk persiapan menghadapi dunia kerja. Rasanya seperti roller coaster yang melaju cepat, namun meskipun begitu saya mencoba menghadapi dengan sikap tenang sebagai seorang guru pembelajar.
Keberagaman jenjang yang saya ajar di Al Muslim mengajarkan saya akan satu hal, bahwa Pendidikan itu sifatnya dinamis. Al Muslim selama 47 tahun berupaya menjadi Yayasan yang tidak kaku. Yayasan ini merubah sistem pembelajaran dari sistem konvensional menuju digitalisasi, dari teacher-centered menjadi student-centered. Yayasan dulu bisa bertahan melewati pandemi, dan sekarang Yayasan berdiri tegak menyongsong masa depan. Bahkan di awal tahun 2025 Al Muslim mendapatkan predikat Samsung Digital Lighthouse School, sebuah program transformasi yang menjadikan Al Muslim sebagai mercusuar keunggulan digital dalam dunia pendidikan. Predikat ini bukan sekadar tentang adopsi teknologi, melainkan tentang membangun sebuah visi penuh harapan. Jika dulu saya mengajar menggunakan papan tulis dan spidol, kini saya difasilitasi oleh Yayasan mengajar dengan perangkat Tablet dan Stylus Pen.
———-
Tantangan Matematika Masa Depan, Bukan Sekadar Kalkulasi
Dahulu, mungkin saya sebagai guru Matematika bangga jika siswa hafal sebuah konsep Teorema Phytagoras, yaitu a2 + b2 = c2. Tapi di era menuju Al Muslim Emas, apakah itu sudah cukup? Tentu tidak.
Dunia pendidikan masa depan menuntut lebih dari sekadar menghitung. Jika kita berbicara soal Computational Thinking, literasi data, dan pemecahan masalah kompleks. Sebagai guru Matematika, saya melihat ada harapan ke depannya, bahwa anak-anak Al Muslim tidak lagi nantinya akan bertanya, “Bu, untuk apa kita belajar logaritma?” karena mereka sudah bisa melihat dan merasakan secara langsung aplikasinya dalam algoritma teknologi yang mereka gunakan sehari-hari.
Pendidikan masa depan di Al Muslim haruslah menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai Islami yang kokoh dengan kemajuan teknologi yang berlari secepat deret geometri.
———-
Harapan Menuju Al Muslim Emas
Saya mencoba merangkum beberapa harapan saya untuk Al Muslim saat mencapai usia emasnya nanti, diantaranya:
- Ekosistem Digital yang Humanis, dimana Al Muslim memang sedang menuju digitalisasi penuh. Namun, harapan saya, teknologi hanya menjadi alat. Sejatinya Ruh pendidikan tetap ada pada interaksi hati antara guru dan murid. Saya berharap Al Muslim akan melahirkan lulusan yang tidak hanya jago coding, tetapi juga tetap rendah hati dan rajin mengaji.
- Kurikulum yang Fleksibel, seperti variabel x dalam aljabar yang bisa berubah nilai sesuai konteksnya, kurikulum Yayasan harus adaptif. Saya berharap Al Muslim menjadi pionir di mana setiap anak bisa mengeksplorasi potensi uniknya tanpa merasa terbebani oleh standar tunggal.
- Guru sebagai Fasilitator Bahagia, tentunya sebagai bagian dari guru milenial, saya berharap rekan-rekan pendidik di Al Muslim terus diberikan ruang untuk berinovasi. Guru yang bahagia akan melahirkan murid yang luar biasa.
———-
Mari Terus Melaju
Empat puluh tujuh tahun telah membentuk pondasi Yayasan. Perjalanan saya sejak 2012 hanyalah sekelumit cerita dari ribuan cerita hebat lainnya di Yayasan ini. Menuju Al Muslim Emas bukan hanya tugas pengurus Yayasan atau pimpinan sekolah, tapi tugas kita semua sebagai guru, karyawan, orang tua, dan siswa.
Matematika mengajarkan kita bahwa untuk mendapatkan hasil yang besar, seringkali kita harus memulai dari variabel-variabel kecil yang dikerjakan dengan teliti. Begitu juga dengan masa depan Al Muslim. Setiap sapaan pagi guru ke murid, setiap inovasi kecil di ruang kelas, dan setiap doa yang dipanjatkan dalam ibadah kita, adalah variabel yang akan mengakumulasi kejayaan Al Muslim di masa depan.
Selamat merayakan perjalanan 47 tahun, Yayasan Al Muslim. Mari kita para pendidik terus bergerak, berinovasi, dan mendidik dengan hati. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal siapa yang paling pintar, siapa yang paling hebat, atau siapa yang paling berprestasi, tetapi siapa yang paling bermanfaat bagi sesama.
Sampai jumpa di gerbang Al Muslim Emas!
Salam hangat,
Seorang Guru Matematika yang Masih Terus Belajar.
