Gavin adalah salah satu siswa SMP Al Muslim Kelas VII. Di belakang rumah Gavin, terdapat beberapa tanaman yang tumbuh tidak terawat. Ada tanaman hias yang diletakan di sudut halaman, pot-pot lama yang mulai berdebu, dan beberapa tanaman yang tertutup tanaman liar. Tanaman-tanaman itu sebenarnya masih hidup, tetapi tidak dimanfaatkan dengan baik.
Suatu sore, Gavin memperhatikan keadaan tersebut. Ia merasa sayang melihat tanaman yang seharunya bisa memperindah lingkungan justru dibiarkan begitu saja.
“Kalau tanaman ini dirawat dan ditata, pasti bisa menjadi lebih indah,”pikirnya.
Gavin kemudian teringat kegiatan di sekolah. Saat pelajaran GE, Bu Azizah sebagai guru GE memberikan tugas kepada setiap siswa untuk membawa tanaman hias dari rumah. Tanaman tersebut akan digunakan untuk membuat taman kelas karena tedapat ruang kosong di depan kelas yang belum dimanfaatkan.
“Anak-anak, kita akan membuat taman kelas bersama-sama,” jelas bu Azizah. “Setiap siswa diminta membawa tanaman hias yang ada dirumah. Kita akan menata ruang kosong di depan kelas agar terjadi lingkungan yang indah, nyaman, dan bisa dimanfaatkan sebagai taman bermain siswa SMP.
Gavin langsung teringat tanaman-tanaman di belakang rumahnya. Ia pun meminta izin kepada ibunya untuk membawa berapa tanaman yang masih layak.
Keesokan harinya, Gawin membawa beberapa tanaman hias dari rumah. Ada tanaman berdaun hijau, tanaman berbunga, dan tanaman yang tumbuh di dalam pot lama. Ia membersihkan pot-pot tersebut agar terlihat lebih rapi.
Di sekolah, teman-teman Gavin juga dating membawa tanaman dari rumah masing-masing. Ada yang membawa bunga, tanaman obat, tanaman gantung, dan tanaman hias berukuran kecil. Semua tanaman dikumpulkan di depan kelas.
Ruang kosong di depan kelas itu sebelumnya hanya berupa halaman yang belum tertata. Siswa sering melewatinya, tetap belum banyak yang memanfaatkannya untuk kegiatan bersama. Melihat banyaknya tanaman yang terkumpul, Gavin dan teman-temannya mulai membayangkan sebuah taman yang indah.
“Bagaimana kalau tanaman yang tinggi kita letakkan di belakang, sedangkan yang kecil di depan?” usul Gavin.
“Setuju! Pot-pot juga bisa kita susun agar ada jalan kecil untuk bermain,” jawab Salma.
Bu Azizah membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Ada kelompok yang membersihkan lahan, menggemburkan tanah, menata pot, membuat hiasan taman, dan menyiapkan papan nama. Gavin bergabung dengan kelompok penataan tanaman.
Mereka bekerja dengan penuh semangat. Tanaman yang dibawa dari rumah ditata berdasarkan ukuran dan jenisnya. Pot-pot bekas dicat dengan warna-warna cerah. Batu-batu kecil disusun sebagai pembatas taman, sementara beberapa tanaman gantung dipasang di sudut yang sesuai.
Agar taman dapat dimanfaatkan sebagai tempat bermain siswa SMP, mereka juga menyiapkan ruang terbuka kecil di tengah taman. Ruang itu tidak dipenuhi pot sehingga siswa dapat duduk, membaca, berbincang, atau bermain permainan ringan tanpa merusak tanaman.
“Kalau tamannya sudah jadi, kita bisa duduk santai disini saat isitirahat,” kata Ero.
“Bisa juga untuk membaca buku atau bemain bersama. Tapi kita harus tetap menjaga tanaman,” tambah Gavin.
Setelah beberapa jam bekerja, ruang kosong di depan kelas berubah menjadi taman yang indah. Tanaman hijau berjejer rapi, bunga-bunga menghiasi sudut taman, dan pot-pot berwarna-warni membuat halaman terlihat lebih hidup. Di bagian tengah terdapat ruang terbuka yang nyaman untuk digunakan siswa.
Guru GE mengajak seluruh siswa melihat hasil kerja mereka.
“Bagaimana perasaan kalian melihat mtanan ini ?” kata Bu Azizah.
“Seneng, Bu. Ternyata tanaman yang ada di rumah yang tidak terawat, bisa dimanfaatkan untuk membuat lingkungan sekolah lebih indah,” jawab Gavin.
Bu Azizah mengangguk. “ Inilah contoh kepedulian lingkungan. Kalian tidak hanya membawa tanaman, ttapi juga belajar bekerja sama, bertanggung jawab, dan memanfaatkan ruang kosong menjadi tempat yang bermanfaat.”
Sejak taman itu selesai, siswa membuat jadwal piket untuk menyiram tanaman, membersihkan daun kering, dan menjaga pot agar tetap rapi. Meraka juga sepakat menggunakan taman dengan tertib. Siswa boleh duduk, membaca, berbincang, atau bemain permainan ringan, tetapi tidak boleh mengjnjak tanaman, merusak pot, atau membuang sampah sembarangan.
Beberapa minggu kemudian, taman di depan kelas semakin indah. Tanaman tumbun subur, bunga mulai bermekaran, dan suasana sekolah terasa lebih sejuk. Saat istirahat, beberapa siswa duduk di ruang terbuka taman sambil membaca. Sebagian lainnya bemain bersama dengan tetap menjaga kebersihan dan ketertiban.
Gavin tersenyum Ketika melihat tanaman dari belakang rumahnya kini tumbuh subur di sekolah. Ia menyadari bahwa sesuatu yang semula tidak dimanfaatkan ternyata dapat memberikan manfaat besar jika dirawat dengan baik.
Dari Belakang rumah ke ruang kelas, kepedulian itu tumbuh. Dari ruang kelas, kepedulian itu menyebar. Dari kebiasaan kecil sejak dini, lahirlah generasi yang mencintai lingkungan, bertanggung jawab, serta siap menjaga bumi untuk masa depan.
