Rohmatun Nazilah, S.Pd.
Guru Matematika dan Wali Kelas SMP Al Muslim

Saya mulai memandang plastik secara berbeda ketika melihat bungkus makanan dan kantong sekali pakai terkumpul di bagian samping rumah. Benda-benda itu tampak kecil saat digunakan, tetapi jumlahnya cepat bertambah. Saya tidak mempunyai pengalaman khusus mengelola sampah dan belum pernah memimpin kegiatan lingkungan. Namun, pemandangan sederhana tersebut membuat saya bertanya, ke mana semua plastik ini akan berakhir setelah keluar dari rumah saya?

Pertanyaan itu mengikuti saya sampai ke sekolah. Di SMP Al Muslim, siswa mempelajari Green Education, salah satunya melalui proyek membuat ecobrick. Plastik bekas yang sudah dibersihkan dan dikeringkan dipotong menjadi bagian kecil, kemudian dimasukkan dan dipadatkan ke dalam botol plastik. Botol yang semula dianggap sampah berubah menjadi benda yang dapat dimanfaatkan. Bagi siswa, prosesnya terlihat sederhana. Bagi saya sebagai wali kelas, proses itu membuka ruang pendidikan yang jauh lebih luas.

Saya memang mengajar matematika, bukan Green Education. Karena itu, saya tidak mengambil alih proyek atau menempatkan diri sebagai pengajarnya. Peran saya hadir dalam keseharian kelas diantaranya mendampingi siswa, mengingatkan tanggung jawab mereka, mendengarkan kendala, dan menjaga agar kegiatan tidak berhenti setelah semangat awal mereda. Saya melihat sendiri bahwa membuat ecobrick membutuhkan ketekunan. Plastik harus dipastikan bersih dan kering. Potongannya perlu dimasukkan sedikit demi sedikit dan dipadatkan dengan sabar. Satu botol tidak selesai hanya karena satu orang bekerja sekali.

Sebagai wali kelas, saya berusaha membantu siswa memahami bahwa bagian kecil yang mereka kerjakan tetap penting. Ketika ada yang lupa membawa bahan, kami membicarakan cara mengingatnya. Ketika pekerjaan terasa lambat, saya mengajak mereka melihat kembali tujuan proyek. Saya juga mengingatkan agar plastik yang dibawa bukan sampah kotor yang justru menimbulkan masalah baru. Pendampingan tersebut tampak sederhana, tetapi di situlah saya belajar bahwa kepedulian tumbuh melalui kebiasaan yang terus dijaga.

Latar belakang saya sebagai guru matematika ikut memengaruhi cara saya memandang kegiatan ini. Saat melihat botol-botol ecobrick terkumpul, pikiran saya akrab dengan jumlah, ukuran, perbandingan, dan keteraturan. Siswa dapat melihat secara nyata bahwa banyak potongan plastik diperlukan untuk memenuhi satu botol. Mereka juga dapat membandingkan botol yang padat dengan botol yang masih longgar. Namun, pelajaran terpentingnya bukan sekadar menghitung banyak botol. Setiap botol memperlihatkan banyaknya plastik yang sebelumnya mungkin dibuang tanpa dipikirkan.

Saya tidak ingin ecobrick dipahami sebagai alasan untuk terus memakai plastik sekali pakai. Ecobrick membantu menahan sebagian plastik agar tidak langsung tercecer, tetapi sumber masalah tetap perlu dikurangi. Dari proyek tersebut, percakapan kami berkembang ke kebiasaan di rumah dan sekolah. Kami membicarakan pentingnya membawa botol minum, menggunakan wadah yang dapat dipakai kembali, dan mempertimbangkan kemasan sebelum membeli. Anak-anak mulai memahami bahwa pilihan mereka sebelum menghasilkan sampah sama pentingnya dengan cara menangani sampah sesudahnya.

Perjalanan itu juga mengubah saya. Sebelumnya, persoalan sampah terasa seperti urusan besar yang harus ditangani oleh orang yang ahli. Setelah mendampingi proyek ecobrick, saya menyadari bahwa wali kelas mempunyai tempat penting dalam pendidikan lingkungan. Saya mungkin tidak menyusun materi Green Education, tetapi saya dapat membantu nilai-nilai di dalamnya bertahan dalam keseharian siswa. Saya dapat menghubungkan arahan guru mata pelajaran dengan kebiasaan kelas, serta mengajak siswa merefleksikan alasan di balik tugas yang mereka kerjakan.

Perubahan yang paling berkesan tidak hanya tampak pada botol-botol yang berhasil dipadatkan. Saya melihat tumbuhnya perhatian terhadap benda yang sebelumnya dianggap tidak berguna. Siswa belajar memilah, membersihkan, menyimpan, dan mengolahnya dengan lebih bertanggung jawab. Kelas juga mempunyai bahan percakapan yang nyata tentang lingkungan. Ketika kepedulian mulai muncul dalam percakapan dan pilihan sehari-hari, lingkungan sekolah pun terasa lebih terawat.

Sebagai bagian dari Al Muslim, saya memaknai kepedulian tersebut sebagai latihan menjaga amanah Allah. Anak-anak tidak cukup hanya mengetahui bahwa kebersihan itu baik. Mereka perlu mengalami proses yang membuatnya paham mengapa satu tindakan kecil harus dilakukan berulang. Ecobrick memberi mereka pengalaman itu. Sebotol plastik yang padat menyimpan banyak potongan sampah, tetapi juga menyimpan kesabaran, kerja sama, dan keputusan untuk tidak membiarkannya tercecer.

Sekarang, ketika melihat plastik di bagian samping rumah, saya teringat pada botol-botol ecobrick yang dikerjakan siswa. Ada hubungan yang nyata antara keduanya. Rumah menjadi tempat saya mulai menyadari masalah, sedangkan ruang kelas menjadi tempat kepedulian itu tumbuh bersama. Saya pun belajar bahwa menjadi wali kelas bukan hanya memastikan kegiatan berjalan. Saya ikut menjaga agar sebuah proyek berubah menjadi kebiasaan berpikir.

Saya belum menjadi orang yang sepenuhnya bebas dari plastik sekali pakai, dan siswa pun masih berada dalam proses belajar. Justru dari ketidaksempurnaan itulah kami mempunyai alasan untuk terus mencoba. Kami memulai dari plastik yang ada di sekitar, mengolahnya melalui proyek Green Education, lalu membawa kesadarannya kembali ke rumah. Barangkali perubahan lingkungan memang bermula seperti ecobrick yaitu satu potongan kecil dimasukkan dengan sabar, dipadatkan bersama, hingga akhirnya membentuk sesuatu yang lebih kuat.

Hasil ecobrick yang telah dibuat

Siswa mengumpulkan hasil ecobrick dalam proyek Green Education

Produk yang dibuat dari ecobrick

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *