Literasi merupakan salah satu kemampuan yang perlu dikembangkan sejak usia dini. Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan menyimak, berbicara, memahami informasi, mengungkapkan gagasan atau ide, serta membangun komunikasi dengan orang lain.

Lewat tema lomba “ Satu Bahasa Dan Satu Bangsa : Menguatkan Budaya Literasi Siswa Melalui Pembelajaran Kreatif”, saya percaya bahwa budaya literasi paling kokoh dibangun dari keberanian anak-anak untuk bercerita dari hati.

Sebelum melakukan pembelajaran inti, saya melakukan kegiatan pendahuluan yang diisi dengan icebreaking. Tujuannya membangun suasana belajar yang kondusif, menyenangkan, serta memotivasi anak agar lebih percaya diri untuk berinteraksi dengan teman-temanya.

“teman-teman, sebelum kita mulai, mari kita bermain teput fokus dulu yaa” seru saya.

Suara tepuk tanganpun memenuhi kelas Abu dan menandakan antusias dan semangat anak-anak. Dalam kegiatan tepuk fokus, anak-anak diminta untuk berkonsentrasi dan menyimak kata yang diucapkan oleh guru. Setelah mendengar nama anggota tubuh yang di sebutkan, anak harus segera memegang anggota tubuh tersebut dengan cepat dan tepat. Setelah suasana kondusif, saya mengeluarkan sebuah kerdus sederhana yang sudah dihias. Namanya “Kotak Misteri Emosi”. Melihat kardus itu, anak-anak langsung penasaran dan bertanya, itu apa bu? Buat apa apa kardusnya? Dan beberapa pertanyaan lainnya.

“Kotak Misteri Emosi” yaitu permainan mengambil kartu gambar emosi dari sebuah kotak misteri, kemudian menceritakan pengalaman pribadi yang berkaitan dengan emosi tersebut.

Satu per satu anak-anak maju untuk mengambil kartu. Dengan mata tertutup, mereka mengambil satu kartu dari dalam kardus. Dikartu itu, terdapat gambar ekspresi wajah lengkap dengan tulisannya. Ternyata dengan cara sederhana ini bisa membuat anak-anak penasaran sekaligus belajar membaca kata.

Waktu gilirannya ananda Bumi, dia dapat kartu dengan gambar ekpresi cemberut yang ada tulisan “KESAL”. Saya tersnyum dan menyemangati Bumi buatk baca tulisannya itu lalu menceritakan kenapa dia pernah merasakan begitu.

Bumi membaca tulisannya dulu, lalu dengan polosnya dia bercerita, “ aku pernah kesel banget sama kakak aku, soalnya pas lagi nonton TV, remotenya yang di tanganku di ambil kakak terus ganti saluranya, lagi asyik-asyik nonton di ganti dengan ekpresi keselnya. Teman-temannya mendenganrkan dengan antusias dan sesekali mengiyakan tanda paham rasa kesel yang dirasakan Bumi. Di situ saya melihat bagaimana gambar dan tulisan dikartu membuat anak-anak belajar literasi kata, sekaligus dapat memahami kata tersebut serta membuat ceritanya.

Dari pengalaman kegiatan “ Kotak Misteri Emosi” memberikan pembelajaran berharga bagi saya bahwa pembelajaran kreatif dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan budaya literasi sejak usia dini.

Melalui sebuah kotak sederhana, kartu gambar dan kesempatan untuk bercerita secara sederhana. Mereka juga memperoleh kesempatan untuk belajar menyimak, berbagi pengalaman, serta menghargai cerita teman-temannya.

Bagi saya, menguatkan budaya literasi bukan sekadar mengajarkan naka mengenal huruf dan kata, melainkan membangun kebiasaan berbahasa yang bermakna. Anak-anak perlu merasa bahwa dia didengar, ceritanya di hargai, dan setiap pengalamannya dapat menjadi bagian dari proses belajar.

Sejalan dengan “Satu Bahasa Dan Satu Bangsa : Menguatkan Budaya Literasi Siswa Melalui Pembelajaran Kreatif”, saya percaya bahwa ketika anak-anak diberi kesempatan untuk bercerita, sesungguhnya kita sedang membantu mereka belajar mamahami diri sendiri, memahami orang lain, dan membangun kebersamaan melalui bahasa. Dari permainan sederhana, tumbuh keberanian untuk berbicara. Dari cerita kecil, tumbuh kemampuan berliterasi. Dan dari kebiasaan saling mendengarkan, tumbuh semangat kebersamaan sejak usia dini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *