
Pagi itu saya memulai hari dengan mengajar tarjamah di kelas SMP. Sesi pertama berjalan lancar. Murid-murid sudah bisa diajak berdiskusi, meskipun kadang perlu diarahkan. Mereka bertanya tentang arti lacak makna, mencoba menerjemahkan, dan sesekali berdebat kecil soal makna. Saya bisa berkata, “Coba cari dulu di kamus, jangan buru-buru bertanya.” Mereka menanggapi dengan mencari kata, mencatat, lalu kembali bertanya ketika menemui kesulitan. Suasana kelas hidup karena ada tanya jawab, keberanian berpendapat, dan kemauan mendengarkan teman. Di SMP, literasi tumbuh melalui percakapan serius, latihan memahami makna, dan kebiasaan mencari jawaban sebelum bertanya.
Setelah sesi pertama selesai, saya berjalan menuju gedung TK. Saya mengajar tilawati kelompok B. Sesampainya di kelas, suasana masih ramai. Ada yang mengobrol, menulis, berlari kecil, dan berpindah ke kelompok lain. Murid-murid kelompok saya mencari posisi duduk, meletakkan botol minum, dan mengatur buku. Saya biarkan beberapa saat sambil mengarahkan mereka duduk melingkar. Dalam satu kelas ada dua kelompok. Kelompok saya berisi sepuluh murid dengan empat jenjang jilid berbeda. Ada yang masih di jilid paud, jilid satu, jilid dua, dan jilid tiga. Satu murid perempuan memiliki penyakit jantung bawaan dan belajar di Tilawati paud. Saya harus mengajar ekstra hati-hati. Penyakit itu tidak bisa dianggap remeh. Ia mudah lelah, mudah sesak, dan tidak boleh terlalu banyak bergerak berat atau terkejut.
Sejak awal saya mencatat posisi duduknya dalam lingkaran. Saya letakkan dia tidak jauh dari saya, tidak dekat pintu, dan tidak berada di jalur murid yang berlarian. Ketika bernyanyi, saya tidak memaksanya bergerak aktif. Saat teman-temannya berdiri atau bertepuk tangan, saya beri izin tetap duduk sambil bernyanyi pelan. Saya sering menoleh untuk memastikan wajahnya tidak pucat, napasnya tidak cepat, dan dia tidak kelelahan. Kalau lelah, saya minta berhenti sebentar, minum, lalu bergabung lagi. Saya tidak pernah memaksanya membaca keras dalam waktu lama. Giliran membacanya saya buat singkat, tetapi rutin. Yang penting dia aman, nyaman, dan tetap belajar seperti teman-temannya.
Ada satu murid di Tilawati satu, satu murid di Tilawati tiga, dan sisanya belajar di Tilawati dua. Perbedaan jenjang bukan hal mudah. Dalam satu lingkaran saya harus melayani murid yang baru mengenal huruf hijaiyah berharakat fathah sampai murid yang sudah lancar membaca potongan ayat. Metode tilawati mengatur murid duduk melingkar, saling menyimak, dan membaca bergantian berkeliling dari murid pertama di sebelah kanan sampai murid terakhir. Tidak ada sistem maju satu per satu ke depan; semua duduk bersama, mendengarkan, dan menunggu giliran. Sebelum membaca buku Tilawati, kami bernyanyi. Murid-murid suka bagian ini. Setelah bernyanyi, kami berdoa bersama, muroja’ah hafalan, dan membaca peraga tilawati. Baru setelah itu murid membaca buku sesuai jilidnya.
Sambil membaca, mereka saling menyimak bacaan temannya. Di sinilah tantangannya. Kadang murid saya terdistraksi dengan kelompok sebelah. Ada yang menoleh, ikut mendengarkan kelompok lain, atau mengobrol dengan teman di kelompok sebelah. Saya harus sering mengingatkan, “Ayo fokus ke lingkaran kita,” atau “Dengarkan temanmu yang sedang membaca.” Saya juga memindahkan posisi duduk beberapa murid agar tidak saling mengganggu. Kadang saya memberi isyarat tangan, kadang mendekat dan berbisik agar tidak mempermalukan murid. Perlahan mereka belajar menahan diri, menunggu giliran, dan menyimak. Di kelas TK, literasi tidak hanya soal membaca huruf; ia juga soal belajar mendengarkan, sabar, dan menghargai teman yang sedang berlatih.
Ada satu momen yang tidak akan saya lupakan. Tiba-tiba seekor lebah masuk ke kelas. Suasana jadi riuh. Murid-murid menjerit, berdiri, dan menutupi kepala. Saya langsung teringat murid dengan penyakit jantung bawaan. Saya bergerak ke arahnya sambil berkata tenang, “Tenang, tetap duduk, tidak apa-apa.” Saya pastikan dia tidak berdiri atau terkejut berlebihan. Sambil menenangkan murid lain, saya tetap dekat dengannya. Saya bilang, “Tenang, semua duduk lagi. Lebahnya cuma lewat.” Saya ambil kertas dan pelan-pelan mengarahkan lebah ke jendela. Murid-murid masih takut, ada yang berteriak kecil, ada yang bersembunyi di balik temannya. Setelah lebah keluar, kami melanjutkan belajar. Kejadian itu singkat, tetapi menguras tenaga. Murid-murid perlu beberapa menit untuk tenang dan fokus lagi. Saya memeriksa murid tadi, memastikan dia baik-baik saja, tidak sesak, dan tidak ketakutan. Alhamdulillah dia tenang karena sejak awal saya minta tetap duduk dan tidak banyak bergerak.
Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa pembelajaran literasi bukan hanya soal membaca huruf dan kata. Literasi yang hidup hadir di tengah situasi nyata. Murid TK belajar membaca dengan mata, mulut, telinga, tangan, dan seluruh tubuh. Mereka belajar mendengarkan teman, menunggu giliran, menyimak bacaan, dan mengendalikan diri saat ada gangguan. Di kelas SMP, literasi tumbuh melalui diskusi dan pemahaman makna. Di kelas TK, literasi tumbuh melalui nyanyian, doa, hafalan, peraga, dan lingkaran tilawati. Keduanya penting. Bagi murid dengan penyakit jantung bawaan, literasi tumbuh melalui rasa aman, kehati-hatian guru, dan kesempatan belajar setara tanpa memaksakan tubuhnya.
Tema satu bahasa dan satu bangsa bukan hanya tentang bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dalam pembelajaran tilawati, satu bahasa juga berarti satu kebiasaan membaca yang dibangun bersama. Murid-murid dari berbagai latar belakang duduk dalam satu lingkaran, mendengarkan bacaan temannya, dan belajar menghargai perbedaan kemampuan. Ada yang masih di jilid paud, ada yang sudah di jilid tiga. Ada juga yang harus belajar hati-hati karena kondisi kesehatannya. Mereka tidak saling mengejek, tetapi saling menyimak dan menjaga. Di situlah budaya literasi tumbuh. Literasi bukan hanya kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan mendengarkan, memahami, dan hidup bersama.
Pembelajaran kreatif tidak selalu berarti teknologi canggih atau media rumit. Bernyanyi sebelum belajar, berdoa bersama, muroja’ah hafalan, membaca peraga, dan duduk melingkar adalah bentuk kreatif yang sederhana tetapi efektif. Murid merasa senang, tidak tertekan, dan tetap belajar. Ketika lebah masuk, kreativitas guru diuji dalam situasi tak terduga. Menenangkan murid, mengarahkan lebah keluar, melindungi murid yang perlu perhatian khusus, lalu mengembalikan fokus ke buku Tilawati adalah keterampilan mengajar yang tidak tertulis di buku panduan. Guru perlu fleksibel, sabar, dan peka. Perbedaan jenjang jilid bukan penghalang. Distraksi kelompok sebelah bukan masalah besar. Bahkan lebah yang masuk kelas bisa menjadi pelajaran tentang ketenangan, kerja sama, dan kepedulian. Akhirnya, satu bahasa dan satu bangsa dalam pembelajaran literasi berarti membangun kebiasaan membaca yang sama: sabar, saling menyimak, menghargai, dan menjaga. Dari kelas tarjamah di SMP sampai kelas tilawati di TK, semuanya bagian dari perjalanan membangun budaya literasi.
