Pagi itu saya memulai hari dengan mengajar tarjamah di kelas SMP. Suasananya cukup serius, tapi menyenangkan. Anak-anak SMP sudah bisa diajak diskusi. Mereka bisa memahami teks, bertanya balik, bahkan kadang membantah dengan argumen yang lucu tapi masuk akal. Berbeda jauh dengan anak TK yang saya hadapi di sesi kedua. Kalau di SMP saya bisa menjelaskan panjang lebar tentang makna kata, di TK saya harus berpikir keras bagaimana caranya agar anak-anak mau duduk tenang dan mendengarkan.Setelah sesi pertama selesai, saya berjalan ke gedung TK. Jaraknya tidak jauh, hanya beberapa langkah dari gedung SMP. Tapi rasanya seperti pindah dunia. Dari kelas yang tenang dan penuh diskusi, saya masuk ke dunia yang penuh energi, suara, dan gerakan.Saya mengajar tilawati kelompok B di kelas Umar. Begitu masuk, kelas masih ramai. Anak-anak bergerak ke kelompok masing-masing. Ada tiga kelas B: Umar, Kholid, dan Abu. Suasananya benar-benar seperti pasar pagi. Ada yang masih ngobrol, ada yang menulis, ada yang lari-lari kecil, ada juga yang berpindah ke kelompok tilawati di kelas lain. Anak-anak kelompok saya mencari posisi duduk, meletakkan botol minum, dan bersiap-siap. Saya harus sabar menunggu mereka tenang.Di kelas Umar ada dua kelompok. Kami memulai dengan bernyanyi bersama. Anak-anak langsung semangat. Setelah itu berdoa, muroja’ah hafalan bersama, lalu membaca peraga tilawati. Dalam satu kelompok ada sepuluh siswa dengan empat jenjang berbeda: jilid paud, jilid 1, jilid 2, dan jilid 3. Mereka saling menyimak bacaan temannya. Belajar di dalam kelas, ada meja dan kursi, tapi tilawati memang belajarnya di lantai dengan karpet. Jadi anak-anak duduk melingkar di atas karpet.Sesuai metode tilawati, siswa duduk membuat lingkaran, saling menyimak bacaan temannya. Tidak maju satu per satu, tapi bergantian keliling dari anak pertama di sebelah kanan sampai anak terakhir di lingkaran. Teknik ini sebenarnya bagus untuk melatih keberanian dan kebiasaan menyimak. Tapi karena ada dua kelompok dalam satu kelas, kadang anak-anak terdistraksi dengan kelompok sebelah. Suara kelompok lain bisa mengganggu konsentrasi. Anak saya yang masih kecil kadang menoleh ke kiri dan ke kanan, melihat teman-temannya di kelompok lain.Di kelompok saya ada satu anak perempuan yang memiliki penyakit jantung bawaan. Dia belajar tilawati paud. Saya harus ekstra hati-hati memperhatikannya. Dia tidak boleh terlalu lelah, tapi tetap semangat belajar. Ada satu siswa yang belajar tilawati 1, satu siswa lain belajar tilawati 3, dan sisanya belajar tilawati 2. Perbedaan jenjang ini membuat saya harus pandai membagi perhatian. Anak yang sudah di jilid 3 bisa membaca lebih lancar, sementara anak paud masih harus dibimbing satu per satu.Ada satu momen yang tidak akan saya lupakan. Waktu itu, tiba-tiba seekor lebah masuk ke dalam kelas. Spontan suasana jadi riuh. Anak-anak ada yang menjerit, ada yang berdiri, ada yang menutupi kepala. Saya harus segera menenangkan mereka sambil mengarahkan lebah keluar. Saya bilang, “Tenang, tenang, lebahnya tidak akan menyengat kalau kita tidak mengganggu.” Sambil mengarahkan lebah dengan kertas, saya pelan-pelan membawanya ke jendela. Setelah lebahnya keluar, barulah kami bisa melanjutkan belajar. Anak-anak masih sedikit gelisah, tapi lama-lama kembali fokus.Kejadian lebah itu mengajarkan saya sesuatu. Anak-anak TK memang mudah terdistraksi, tapi juga mudah kembali tenang kalau kita bisa mengendalikan suasana. Saya tidak bisa memaksa mereka untuk terus fokus. Saya harus kreatif. Kadang saya selipkan lagu di tengah pembelajaran, kadang saya ajak mereka tepuk tangan, kadang saya beri cerita pendek. Dengan cara itu, mereka kembali semangat.Tema “Satu Bahasa dan Satu Bangsa: Menguatkan Budaya Literasi Siswa Melalui Pembelajaran Kreatif” sebenarnya sangat relevan dengan apa yang saya alami. Di kelas SMP, saya mengajak mereka berdiskusi tentang makna kata dan kalimat. Di kelas TK, saya mengajak mereka bernyanyi, berdoa, dan membaca peraga. Dua dunia yang berbeda, tapi tujuannya sama: membangun budaya literasi sejak dini.Satu bahasa, satu bangsa. Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu. Tapi literasi bukan hanya soal membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan memahami, menyimak, dan berkomunikasi. Di kelas tilawati, anak-anak belajar menyimak bacaan temannya. Mereka belajar sabar menunggu giliran. Mereka belajar menghargai teman yang masih lambat membaca. Itu semua adalah bagian dari literasi sosial.Pembelajaran kreatif bukan berarti harus selalu menggunakan teknologi canggih. Kadang kreativitas justru muncul dari keterbatasan. Dengan karpet di lantai, anak-anak duduk melingkar. Dengan peraga tilawati, mereka belajar membaca. Dengan lagu dan tepuk tangan, mereka belajar disiplin. Semua itu sederhana, tapi efektif.Saya sadar, mengajar anak TK tidak sama dengan mengajar anak SMP. Anak SMP bisa diajak berpikir abstrak. Anak TK masih berpikir konkret. Mereka butuh contoh, butuh gerakan, butuh suasana yang menyenangkan. Tapi justru di situlah tantangannya. Bagaimana membuat pembelajaran tilawati tetap menyenangkan meskipun ada dua kelompok dalam satu kelas, meskipun ada anak yang sakit, meskipun ada lebah yang tiba-tiba masuk.Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa literasi tidak bisa dibangun dengan satu cara saja. Anak SMP butuh diskusi dan teks. Anak TK butuh lagu, gerakan, dan cerita. Guru harus fleksibel. Guru harus kreatif. Guru harus sabar.Satu bahasa, satu bangsa. Kalimat itu bukan sekadar slogan. Di kelas tilawati, saya melihat bagaimana anak-anak dari berbagai latar belakang belajar bersama. Ada yang sudah lancar, ada yang masih terbata-bata. Tapi mereka duduk dalam satu lingkaran, saling menyimak, saling mendukung. Itulah wujud kecil dari satu bangsa yang bersatu dalam keberagaman.Lebah yang masuk ke kelas mungkin hanya kejadian kecil. Tapi bagi saya, itu simbol bahwa pembelajaran tidak selalu berjalan mulus. Ada gangguan, ada kejutan, ada kekacauan. Tugas guru adalah mengelola kekacauan itu menjadi sesuatu yang bermakna. Setelah lebah keluar, kami melanjutkan belajar. Anak-anak kembali duduk melingkar, kembali membaca peraga tilawati. Suasana kembali tenang.Saya pulang dengan lelah, tapi puas. Dari kelas tarjamah di SMP sampai kelas tilawati di TK, saya belajar banyak hal. Saya belajar bahwa satu bahasa dan satu bangsa bukan hanya tentang bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, tapi juga tentang bagaimana kita membangun budaya literasi yang inklusif, kreatif, dan menyenangkan. Dari anak SMP yang bisa diajak diskusi sampai anak TK yang masih suka lari-lari, semuanya punya cara sendiri untuk belajar. Tugas kita sebagai guru adalah menemukan cara itu, dan melakukannya dengan hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *