
Pagi itu, matahari menyinari halaman
SD Al Insani suara siswa yang bercanda dan berlarian terdengar di setiap dinding sekolah. Tetapi, di balik keramaian itu, ada satu tempat yang justru semakin sepi: perpustakaan sekolah. Buku-buku tersusun rapi di rak, tetapi jarang dilihat dan dibaca. Ketika guru meminta siswa membaca selama lima belas menit, sebagian siswa hanya membolak-balikan halaman, sementara yang lain sibuk memperhatikan jam dinding.
Bu Yana, seorang guru Bahasa Indonesia, merasa prihatin. Ia percaya bahwa buku bukan sekadar kumpulan kata, melainkan jendela dan jembatan ilmu untuk mengenal dunia dan pintu untuk memahami kehidupan.
“Bagaimana mungkin anak-anak mencintai pengetahuan jika membaca terasa seperti membosankan?” gumamnya.
Malam itu, Bu Yana menyusun sesuatu yang berbeda. Ia ingin mengubah kegiatan membaca menjadi lebih menarik, menulis menjadi lebih senang, dan belajar bahasa menjadi cara untuk menumbuhkan rasa cinta dan empati terhadap bangsa.
Keesokan harinya, Bu Yana datang ke kelas dengan membawa sebuah kotak kayu berisi buku cerita, kartu kata, kertas warna-warni, dan beberapa gambar pahlawan nasional.
“Anak-anak, hari ini kita tidak akan belajar seperti biasanya. Kita akan berimajinasi menggunakan kata-kata!” serunya.
Wajah siswa seketika berubah penasaran.
Bu Yana membagi mereka menjadi beberapa kelompok. Ada kelompok penulis cerita, kelompok pembaca berita, kelompok pembuat poster, dan kelompok pendongeng.
Setiap kelompok mendapat satu tantangan: membuat karya bertema persatuan Indonesia.
Kelompok Dika memilih menulis cerita tentang persahabatan dua anak dari daerah berbeda. Kelompok Santi membuat poster dengan beragam ungkapan dalam bahasa daerah yang memiliki makna persaudaraan. Sementara itu, kelompok Bimo menyiapkan pertunjukan dongeng tentang perjuangan para pahlawan.
“Bu, kalau kita menggunakan bahasa daerah, apakah boleh?” tanya Santi.
“Tentu saja boleh! Indonesia kaya sekali akan bahasa daerah. Kita harus bangga terhadap bahasa ibu kita, tetapi jangan lupa bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan yang menyatukan kita semua,” jawab Bu Yana.
Anak-anak mulai bekerja. Mereka membaca buku untuk menemukan ide, berdiskusi untuk menyusun cerita, lalu menuliskan gagasan mereka dengan bahasa sendiri.
Untuk pertama kalinya, membaca tidak lagi terasa membosankan. Buku menjadi sumber inspirasi, teman diskusi, dan bahan untuk menciptakan karya.
Beberapa hari kemudian, Bu Yana mengumumkan sebuah kegiatan istimewa bernama “Festival Literasi Nusantara”.
Setiap kelompok harus menampilkan hasil karya mereka di hadapan teman-teman dan guru. Kelas pun berubah menjadi ruang pameran kecil yang penuh warna.
Di sudut kanan, terpajang poster bertuliskan Berbeda Bahasa, Tetap Satu Bangsa. Di sudut kiri, terdapat kumpulan cerita pendek hasil tulisan siswa. Sementara di depan kelas, beberapa siswa berlatih membacakan puisi tentang keanekaragaman Indonesia.
Ridho, yang biasanya pendiam, mendapat tugas membacakan cerita hasil kelompoknya.
Dengan suara sedikit gemetar, ia mulai bercerita tentang Dika dari Jawa dan Made dari Bali. Keduanya memiliki kebiasaan dan bahasa daerah yang berbeda, tetapi mereka saling membantu dan saling merangkul satu sama lainnya, ketika salah satu mengalami kesulitan.
Ketika cerita selesai, seluruh kelas bertepuk tangan.
“Aku baru tahu, ternyata menulis cerita itu menyenangkan dan menambah pengalaman baru!” kata Riko sambil tersenyum.
Santi kemudian menjelaskan posternya. Ia menunjukkan beberapa ungkapan persaudaraan dalam bahasa daerah, lalu menerangkan maknanya menggunakan Bahasa Indonesia.
“Bahasa daerah mengajarkan kita mengenal dan memahami akar budaya. Bahasa Indonesia membantu kita saling memahami. Keduanya membuat kekayaan Indonesia semakin berarti,” ujarnya.
Bu Yana tersenyum bangga. Ia melihat sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar tugas yang selesai. Anak-anak mulai berani berbicara, menghargai pendapat, membaca untuk mencari pengetahuan, dan menulis untuk menyampaikan gagasan.
