Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola belajar mengajar secara signifikan, termasuk dalam pembelajaran Al Qur’an. Anak-anak kini lebih akrab dengan gawai dibandingkan dengan mushaf, sehingga menimbulkan tantangan baru bagi pendidikan Al Qur’an. 

 

Dalam kitab adab hamalatil Qur’an karya imam An-Nawawi, disebutkan bahwa guru Al Qur’an adalah pewaris sanad adalah rantai guru yang bersambung sampai ke rasullalah SAW. inilah yang membuat belajar Al Qur’an tidak sah hanya lewat You Tube atau aplikasi. Harus ada guru yang mendengarkan langsung, membenarkan makhraj, dan mengijazahkan bacaannya. Inilah yang disebut Talaqqi Musyafahah.

 

Di era digital, banyak anak merasa sudah pintar karena aplikasi memberi nilai 100. Padahal aplikasi tidak bisa merasakan gerakan huruf ‘Qof’ dan ‘Kaf’ yang salah. Di sinilah letak sakralnya guru Al Qur’an. tidak mematikan peran guru Al-Qur’an, justru memperkuatnya. Jika guru mata pelajaran umum bisa tergantikan oleh video pembelajaran, maka guru Al-Qur’an tidak akan pernah bisa tergantikan. Hal ini disebabkan karena belajar Al-Qur’an mensyaratkan adanya talaqqi musyafahah atau belajar tatap muka langsung untuk menjaga keabsahan sanad yang bersambung hingga Rasulullah SAW. Teknologi seperti aplikasi AI hanya berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti guru.

 

Terjadi transformasi peran guru Al-Qur’an di era digital dari sekadar mu’allim (pengajar bacaan) menjadi empat peran baru yang lebih kompleks, yaitu: (1) sebagai mushohih dan penjaga sanad, (2) sebagai murabbi karakter dan filter moral dari paparan konten negatif digital, (3) sebagai digital facilitator yang melek teknologi, dan (4) sebagai penumbuh mahabbah atau kecintaan terhadap Al-Qur’an, bukan hanya mengejar target kuantitas hafalan.

 

Tantangan terbesar guru Al-Qur’an saat ini bukanlah membuat murid bisa membaca, melainkan membuat murid betah dan cinta berlama-lama bersama Al-Qur’an di tengah persaingan atensi dengan media sosial yang dirancang untuk membuat candu. Oleh karena itu, kunci keberhasilan pendidikan Al-Qur’an di era digital terletak pada kolaborasi antara kekokohan metode tradisional (adab dan sanad) dengan kreativitas pemanfaatan teknologi modern.

 

Akhirnya, secanggih apapun teknologi di masa depan, Al-Qur’an akan tetap membutuhkan hati manusia untuk menjaganya. Dan guru Al-Qur’an adalah penjaga hati itu.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *