SATU BAHASA DAN SATU BANGSA: MENGUATKAN BUDAYA LITERASI SISWA MELALUI PEMBELAJARAN AL QUR’AN

Assalamu’alaikum anak-anak hebat…

            Seperti biasa di sesi tiga pada pukul 10.10 tempatnya di Aula Khalid Bin Walid, saya masuk kelompok belajar Tilawati yaitu pembelajaran Alqur’an siap dimulai. Sebelum mulai pembelajaran kita semua selalu berdo’a terlebih dahulu dalam keadaan sudah berwudhu dan duduk rapi semua menunduk. Saya selalu memberikan motivasi kepada anak- anak mengapa kita harus membaca Alquran. Di kelas 4 ini anak- anak baru saja lulus tiawati jilid lanjut ke jenjang Alqur’an.

              Tapi pagi itu saya sengaja tidak langsung membuka membuka Al qur’an dan memeberikan materi, tetapi saya kasih pertanyaan kepada anak- anak sebagai motivasi “Mengapa kita harus membaca Alqur’an?”,  Biar masuk surga bu “jawab Rani”, biar ngumpulin pahala bu “ jawab Zidan” , biar dapat syafa’at bu “sahut anak yang lain”, waahh Maa Syaa Alloh semua jawabannya benar anak- anak hebat ucap saya. Alhamdulillah kita semua bisa membaca Al Qur’an disekolah di jam Tilawati setiap hari.

             “Bu, ini jam Quran, kok suruh baca buku?” tanya Keysha. Saya tersenyum. “Justru dari sinilah belajar baca Qur’an kita mulai, Nak.” Saya ceritakan, jadi sebelum kita membaca Al Qur’an kita akan belajar dulu materi tanda baca suapaya tahu dan faham dimana kita harus berhenti. Atau dalam istilah bahasa Indnesia nya “tanda baca yaitu: ada titik, koma, tanda tanya juga tanda seru dan lain sebagainya”.

           “Jadi anak-anakku, kita membaca Al Qur’an harus  tartil, kita baca dulu materi tanda baca (waqof dan ibtida) yang ada dibuku tajwid. Setelah itu saya bacakan materi yang ada di buku tajwid lali anak- anak menirukannya. Setelah mengulang beberapa kali barulah kita buka Alqur’an untuk tilawah dan mempraktekan tanda baca yang tadi sudah di pelajari bersama.

          Allah sendiri menyuruh kita jadi generasi literasi. Generasi yang suka membaca.”

” Bu, ini ada tanda mim kecil, berarti kita harus berhenti ya bacanya?” ucap Aisyah. 

“eh ni di baris ketiga juga ada tanda Qof Lam bu “, berarti kita lebih baik berhenti ya bu tapi kalo Masih kuat nafas nya boleh Lanjut saja”, ucap Rani, 

“wah dibaris kelima juga ada tanda Lam Alif  di atas ayat ,berarti  kita berhenti tidak mengulang bacaan “? ucap Qiran.

Ya betul Aisyah , Rani juga Qiran , sesuai yang tadi Kita baca di buku Tajwid Dan sudah kita baca bersama- sama. “Jawab saya”.

Tapi saya lihat kenyataan di kelompok Tilawati saya saat waktu baca bergiliran, banyak yang masih terbata-bata. Karena memang anak-anak baru naik jenjang Alquran jadi wajar. Dan dari sinilah saya tetap memberikan semangat dan memotivasi mereka bahwa dari setiap huruf yang dibaca akan mendapatkan satu pahala dan berbuah menjadi sepuluh kebaikan, jika masih terbata-bata Alloh kasih dua pahala. “Jadi ya udah biar dapat banyak pahala bacanya tidak usah lancar aja bu”, “celoteh Zayin.”  “ Ehhh bukan seperti itu maksud pemahaman disini nak, “sahut saya.” tapi Alqur’an memberikan kebaikan kepada siapapun orang yang mau belajar dan membaca Alqur’an dan mengamalkan nya. 

         Di kelompok Tilawati saya banyak anak-anak yang berkata, “oh ibu orang sunda ya ?”  dan anak- anak pun saling sahut menyahut .”Ayah dan ibu saya juga Sunda bu”,”sahut Rani”, kalo orang tua saya Jawa Betawi bu”, “jawab Rafa”, dan kalo mamah saya dari Padang bu,jawab Qiran”. Karena saya terkadang suka keceplosan bicara dengan nada dan bahasa sunda. Dan orang tua mereka masing-masing pun pastinya punya bahasa yang beranekaragam sesuai dengan kota atau nama daerah mereka. 

             Saya sampaikan kembali kepada anak-anak,coba perhatikan, “ walaupun kita semua dari suku dan bahasa yang berbeda,” tetapi kita semua bisa di satukan oleh Al Qur’an yang hanya menggunakan satu bahasa yaitu Bahasa Arab.Itu semua adalah bahasa Allo berbicara kepada kita semua dengan bahasanya yang di susun dengan baik. Bisa kita fahami dan mengerti karena kita punya pemersatu: Bahasa Indonesia. Inilah satu bahasa kita. Dalam Alquran kita ada namanya Quran terjemah. Lalu saya berpikir, bagaimana kalau literasi Qur’an saya gabungkan dengan cinta bahasa Indonesia?

               Fatma berkata: “Bu, artinya kita beda suku tapi harus berteman, jangan berantem. Kita kan satu bangsa Indonesia.”

Aisyah pun berkata: “Allah sayang sama semua suku, jadi kita harus pakai satu bahasa yang sopan.”

Mereka tidak hanya Tilawah, mereka sedang berliterasi makna.

Cinta Quran yang menyuruh IQRA.

Cinta Bahasa Indonesia yang menyatukan. Menjadi faham makna yang terkandung dalam AlQur’an.

            Senang membaca Alquran itu yang harus kita banggakan. Ternyata kuncinya sederhana, Bu. Untuk menguatkan literasi, jangan buat anak takut salah ketika membaca Alqur’an. Buat mereka jatuh cinta dulu dengan Alloh dan Rosulnya juga cinta negara juga bahasa dan bangsanya.

Karena ketika seorang anak sudah berkata “Saya Indonesia, bahasa saya Indonesia, saya suka baca AlQur’an”, maka dia akan dengan bangga membuka Qur’annya, dan membaca terjemahan nya supaya tahu apa yang Alloh perintahkan dalam Alquran untuk bekal mereka di masa depan dan bangsanya sendiri.Kelak kalian menjadi Khalifatullahu Fil Ard yang Rahmatan Lil ‘Alamiin, Aamiin…….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *