“Bu, kalau ingin menunjukkan rasa cinta kepada Indonesia, harus menulis banyak kata, ya?”
Pertanyaan Keenan membuat saya tersenyum. Di hadapannya terbentang layar tablet untuk membuat poster digital kemerdekaan. Ia sudah membayangkan Indonesia yang ingin ditampilkan, tetapi masih mencari kata-kata yang tepat untuk menceritakannya.
Saya mengajaknya memperhatikan kembali gambar di layar. “Kalau gambarmu sudah bercerita, kata-kata apa yang bisa membantu orang lain memahami maksudmu?”
Keenan kembali menatap layarnya. Di balik kebingungan sederhana itu, ada proses belajar yang bermakna. Ia sedang menyusun gagasan, mengungkapkan perasaan, dan mencari cara agar orang lain memahami ceritanya. Bagi saya, momen itu menunjukkan bahwa literasi tidak selalu bermula dari halaman buku. Terkadang, literasi tumbuh ketika seorang anak memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, tetapi masih belajar menemukan kata-katanya.
Pengalaman tersebut hadir dalam lomba poster digital kemerdekaan di SD Al Muslim pada Selasa, 18 Agustus 2026. Kegiatan ini diikuti murid kelas 4–6 yang diberi kesempatan menuangkan gagasan tentang Indonesia melalui aplikasi Samsung Notes. Dalam waktu 90 menit, mereka memadukan gambar dan tulisan untuk menyampaikan pesan kebangsaan.

Di balik setiap karya, ada proses berpikir yang tidak selalu terlihat. Murid menentukan gagasan utama, memilih kata yang sesuai, dan menata ilustrasi agar pesan mudah dipahami. Mereka belajar bahwa poster bukan sekadar kumpulan warna yang menarik, melainkan media untuk menyampaikan pikiran dan mengajak pembaca memahami sebuah makna.

Salah satu cerita hadir dalam poster digital “Aku dan Indonesia” karya Keenan Athifa Ghazzani Prasetyo.
Keenan memadukan bendera Merah Putih, Monas, dan seorang anak yang mengenakan pakaian adat. Melalui ilustrasi tersebut, ia menghadirkan Indonesia sebagai negeri dengan identitas, sejarah, dan kekayaan budaya.
Gambarnya menjadi cara untuk menyampaikan kebanggaan terhadap tanah air. Pembaca diajak mengenali Indonesia melalui simbol-simbol yang akrab, sedangkan kata-kata membantu memperjelas cerita yang ingin dibagikan. Dari karya Keenan, saya melihat bagaimana gambar dapat menjadi awal sebuah cerita dan bahasa membantu cerita itu menjangkau orang lain.

Cerita berbeda hadir dalam poster “Semangat Pahlawan” karya Ayyana Qaireen Levana Samudra dari kelas 6 Umar bin Abdul Aziz.
Melalui ilustrasi sosok yang memberi hormat serta tulisan “Semangat Pahlawan” dan “81 Dirgahayu Indonesia”, Qaireen mengajak pembaca mengenang perjuangan para pendahulu. Kemerdekaan yang dinikmati hari ini lahir dari keberanian dan pengorbanan yang patut dihargai.
Bagi murid, semangat kepahlawanan dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana: belajar dengan sungguh-sungguh, membantu teman, menjaga lingkungan, dan menghormati perbedaan. Ketika sejarah dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, murid tidak hanya mengenali simbol kemerdekaan, tetapi juga belajar memahami nilai dan tanggung jawab di baliknya.
Keenan dan Qaireen menyampaikan cerita yang berbeda. Keenan menonjolkan identitas dan keberagaman Indonesia, sedangkan Qaireen mengangkat semangat perjuangan. Perbedaan itu justru memperlihatkan bahwa setiap anak memiliki cara sendiri untuk memahami dan mencintai bangsanya.
Di sinilah semangat “Satu Bahasa, Satu Bangsa” menemukan maknanya. Indonesia memiliki beragam budaya, pengalaman, dan cara pandang. Bahasa Indonesia mempertemukan keberagaman itu agar setiap orang dapat menyampaikan pikiran dan memahami satu sama lain. Kita tidak harus memiliki cerita yang sama untuk menjadi bagian dari bangsa yang sama.
Melalui kegiatan ini, murid berlatih menggunakan bahasa untuk menjembatani gagasan dan pemahaman. Mereka belajar bahwa kata-kata yang tepat dapat memperjelas pesan, menyentuh perasaan, dan mengajak orang lain melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda. Literasi pun tidak berhenti pada membaca dan menulis, tetapi berkembang menjadi kemampuan memahami, mengolah informasi, serta berkomunikasi secara bermakna.
Teknologi menjadi sarana yang mendukung proses kreatif tersebut. Murid dapat menuangkan ide, menggabungkan ilustrasi dengan tulisan, dan memperbaiki karya hingga pesan yang ingin disampaikan terasa lebih jelas. Namun, yang terpenting bukanlah teknologi yang digunakan, melainkan bagaimana murid memanfaatkannya untuk berpikir, berkarya, dan menyampaikan gagasan.
Dalam proses itu, guru berperan mendampingi murid melalui pertanyaan sederhana, seperti “Apa yang ingin kamu ceritakan melalui poster ini?” atau “Apakah pembaca akan memahami pesanmu?” Pertanyaan tersebut mengajak murid meninjau karyanya dari sudut pandang orang lain. Mereka belajar bahwa komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan pikiran, tetapi juga tentang membantu orang lain memahami maknanya.
Pengalaman ini menguatkan keyakinan saya bahwa budaya literasi tumbuh ketika anak memiliki ruang untuk bercerita. Saat murid mengangkat sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka, membaca dan menulis terasa lebih bermakna. Mereka tidak sekadar menyelesaikan tugas, tetapi belajar menggunakan bahasa untuk berbagi gagasan, menyampaikan pengalaman, dan membangun hubungan dengan orang lain.
Saya kembali teringat pada pertanyaan Keenan di awal kegiatan. Barangkali, yang ia cari bukanlah banyaknya kata untuk memenuhi poster, melainkan kata-kata yang mampu mewakili perasaannya tentang Indonesia.
Mencintai tanah air tidak selalu membutuhkan kalimat panjang. Terkadang, gambar sederhana dan ungkapan singkat dapat membawa makna mendalam. Yang penting adalah keberanian mengungkapkan gagasan dan kesediaan memahami cerita orang lain.
Satu bahasa bukan berarti satu cerita, melainkan kesempatan untuk saling memahami di tengah beragam cerita.
Hari itu, Merah Putih hadir di layar tablet murid-murid SD Al Muslim. Saya berharap, bersama gambar dan tulisan yang mereka buat, tumbuh pula keberanian untuk bersuara, kemauan untuk mendengarkan, dan kepedulian untuk menghargai sesama.
Sebab, Indonesia membutuhkan generasi yang bukan hanya pandai merangkai kata, tetapi juga memahami maknanya. Dari sebuah poster sederhana, semoga anak-anak belajar bahwa bahasa dapat mempertemukan gagasan, literasi menumbuhkan kepedulian, dan kreativitas menjadi jalan untuk merawat persatuan.
