Ada tempat-tempat dalam hidup yang bukan sekadar menjadi ruang bekerja, namun perlahan tumbuh menjadi segmen dari perjalanan hidup itu sendiri. Tempat yang tidak hanyak berlalu begitu saja, tetapi menorehkan alur cerita, pelajaran, dan memori yang membentuk siapa diri kita hari ini. Tanpa terasa, Al Muslim lah tempat itu yang menjadi perjalanan hidup saya yang penuh dengan makna.
Hampir 18 tahun berada di lingkungan ini, saya merasa bukan sekadar bekerja di sebuah sekolah, tetapi menjadi saksi perjalanan sebuah keluarga besar yang terus tumbuh dan berkembang. Tahun berlalu silih berganti, siswa pundatang dan pergi namun semangat yang hidup di dalamnya tetap terasa sama. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat siswa yang dulu diajar kini telah dewasa, bahkan kembali sebagai orang tua yang menyekolahkan anaknya di tempat yang sama.
Perubahan demi perubahan hadir sebagai bagian dari perjalanan panjang sebuah lembaga pendidikan yang terus belajar mengikuti perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi fondasinya sejak awal.
Saya teringat masa ketika seragam siswa di Al Muslim identik dengan celana panjang bagi semuanya. Kini, aturan dan penampilan siswa berkembang mengikuti dinamika zaman. Perubahan juga terlihat dalam sarana pembelajaran. Dahulu papan tulis manual dengan kapur atau spidol membersamai para guru dalam menyampaikan pelajaran. Kini, papan tulis digital hadir membantu proses belajar mengajar menjadi lebih interaktif dan dinamis.
Jika menengok kembali ke tahun-tahun awal saya mengajar, sekitar tahun 2008, fasilitas digital di sekolah masih sangat terbatas. Saat itu, khususnya di jenjang SMP, para guru menggunakan komputer PC secara bergantian. Penggunaannya dibagi ke dalam tiga kelompok berdasarkan rumpun mata pelajaran. Situasi tersebut sangat berbeda dengan kondisi sekarang. Kini setiap guru difasilitasi perangkat yang sangat mendukung proses pembelajaran. Teknologi menjadi bagian dari keseharian guru dalam merancang pembelajaran yang lebih kreatif dan bermakna.
Tak hanya dari sisi fasilitas, para guru pun mendapatkan banyak kesempatan belajar untuk memperkaya kompetensi. Pelatihan, berbagi praktik baik, hingga penguatan keterampilan teknologi menjadi bagian dari upaya bersama untuk terus berkembang.
Saya masih ingat sekali saat pandemi datang dan dunia pendidikan berubah cepat. Proses pembelajaran yang sebelumnya berlangsung di kelas seketika harus beralih ke ruang-ruang virtual. Saat itu, jujur saya sempat merasa ada kekhawatiran dalam diri, apakah saya mampu mengikuti perubahan yang terjadi begitu cepat?
Seiring waktu berjalan, kekhawatiran tersebut perlahan berubah menjadi pengalaman belajar yang sangat berharga. Adanya dukungan sekolah, rekan-rekan guru, serta berbagai pendampingan yang diberikan, menjadikan setiap tantangan dapat dilalui. Pengalaman tersebut menyadarkan saya bahwa dalam dunia pendidikan, belajar bukan hanya milik siswa. Guru pun terus belajar, beradaptasi, dan bertumbuh bersama perubahan zaman.
Kini Yayasan Al Muslim telah menapaki usia 47 tahun.
Usia ini bukan sekadar angka namun menjadi simbol kedewasaan sebuah lembaga pendidikan yang telah melalui berbagai musim kehidupan. Empat puluh tujuh tahun berarti ribuan hari pengabdian.
kelas yang dipenuhi proses belajar, serta cita-cita dan mimpi siswa yang perlahan menemukan jalannya.
Anak-anak yang dahulu datang dengan langkah kecil dan penuh rasa ingin tahu kini telah menjadi bagian dari Masyarakat, menjadi pemimpin, profesional, pendidik, dan orang tua yang menanamkan nilai yang sama kepada generasi berikutnya.
Tentu perjalanan panjang ini selalu menemukan tantangan. Dunia pendidikan terus berubah, teknologi berkembang dengan sangat cepat serta gaya belajar generasi muda pun mengalami banyak pergeseran. Namun justru dari perubahan itulah sebuah lembaga pendidikan belajar untuk terus bertumbuh.
Di era yang serba cepat saat ini, pendidikan bukan sekadar menyiapkan siswa agar pandai secara akademik. Anak-anak perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, kreativitas, berkolaborasi, serta ketangguhan menghadapi perubahan. Namun yang tidak kalah penting, mereka juga membutuhkan nilai-nilai yang menuntun agar ilmu yang dimiliki membawa kebaikan. Di sinilah peran pendidikan menjadi sangat mulia.
Guru tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran, tetapi menanamkan keteladanan. Sekolah tak hanya menjadi tempat belajar, tetapi ruang tumbuh bagi karakter. Ilmu berjalan beriringan dengan akhlak. Ilmu tanpa akhlak membuat kehilangan arah, sementara akhlak yang kuat akan menuntun ilmu menjadi penerang bagi kehidupan.
Memasuki usia ke-47, langkah menuju Al Muslim Emas bukan sekadar slogan. Ia adalah visi tentang masa depan pendidikan yang ingin diwujudkan. Al Muslim Emas adalah tentang melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tapi juga berkarakter, mampu berpikir kritis, bekerja sama, dan beradaptasi dengan perubahan tanpa meninggalkan nilai-nilai kebaikan. Generasi yang memahami bahwa keberhasilan sejati adalah tentang seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan bagi orang lain.
Perjalanan tersebut tentunya membutuhkan kebersamaan seluruh pihak, baik yayasan, guru, tenaga non kependidikan, orang tua, serta masyarakat yang terus memberikan dukungan, karena sejatinya Pendidikan adalah saling bekerja sama.
Saat menoleh ke belakang, 47 tahun perjalanan ini memberikan pembelajaran penting bahwa tiap langkah kecil yang dilakukan dengan niat baik akan membawa dampak besar di masa yang akan datang. Selama niat tersebut tetap dijaga, perjalanan ini akan terus berlanjut.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mempersiapkan anak-anak untuk menghadapi masa depan, tetapi tentang menanamkan nilai yang akan mereka bawa dalam kehidupannya.
“Sebab sekolah hebat tak hanya melahirkan siswa yang cerdas, tetapi menjadi tempat tumbuhnya individu yang berkarakter dan memberi manfaat bagi orang lain.”
Selamat Milad ke-47 Yayasan Al Muslim.
Semoga setiap langkah yang dilalui menjadi cahaya bagi perjalanan berikutnya, dan setiap ilmu yang diajarkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir tanpa henti.

