Hartini Yuningsih, S. Pd

Masuk dunia pendidikan adalah hal yang mungkin aku anggap sebagai ketentuan dari Allah yang maha baik. Cerita ini berawal saat lulus SMA ada temanku yang mengajak untuk daftar sekolah keguruan, aku menyambut dengan semangat karena jiwaku bersama anak-anak sangat dekat. Keluarga yang sangat senang jika banyak anak-anak kumpul di rumahku. Akhirnya aku masuk Pendidikan Guru Taman Kanak Bani Saleh Bekasi di tahun 1998. Selama menimba ilmu disana aku diberikan teori maupun praktek bagaimana menjadi guru, sebuah profesi yang sangat mulia. Di Bani Saleh aku mengenyam pendidikan selama 2 tahun, dan karena merasakan belum puas untuk terus belajar, aku melanjutkan pendidikan Sarjana di Universitas Negeri Jakarata mengambil jurusan Pendikan Anak dengan program studi Pendidikan Anak Usia Dini, dengan materi kuliah perkembangan anak usia dari 0 sampai 8 tahun. Semua aku jalankan dengan semangat, dan dibarengi kuliah sambil mengajar.

Tahun 2001 aku mulai bergabung di Lembaga Pendidikan Yayasan Al Muslim Tambun, awalnya aku ditawari teman untuk bergabung disini, qodarulloh aku diterima dan secepatnya diposisikan sebagai walikelas 1 SD. Saat itu kuliahku belum selesai, jadi butuh perjuangan bukan? dua kegiatan dalam waktu yang bersamaan. Usiaku saat itu 21 tahun. Menjadi guru di Yayasan Al Muslim saat itu dengan konsep pembelajaran sehari penuh, cukup membuatku untuk lebih adaftasi lagi, baik dari segi fisik maupun mental. Pembelajaran di tahun awal 2000 masih sangat konvensional, sumber belajar utama hanya dari buku penerbit dan lembar kerja yang dicetak dari penerbit.

Sejak datangnya virus Covid 2019 yang mewabah dunia, dan ini sangat berdampak juga pada dunia pendidikan. Belajar tidak boleh berhenti dengan adanya kejadian ini, beruntungnya Yayasan Al Muslim selalu terdepan, sebelum arahan pemerintah untuk belajar di rumah, Kami para guru dibekali dengan materi digital. Perlahan tapi pasti, Al Muslim tetap memberikan pelayanan dengan pendampingan guru walau kondisi terbatas. Kami melakukan zoom meeting untung menyapa anak-anak, menjelaskan materi dengan berbagai aplikasi. Alhamdulillah semua tertangani. Berangkat dari semua kejadian tersebut, Al Muslim terus bergerak menjadi pelopor sekolah Digital, Para guru dan murid terus belajar menghadapi era globalisasi dengan Digital.  Tantangan di era digital diimbagi dengan pembelajaran karakter didalam kesehariannya. Al Muslim tetap mengedepankan pendidikan karakter yang berakhlakul karimah diantaranya muatan islami pada pembelajaran Tilawati Tahidz yang merupakan kurikulum unggulan. Kurikulum khas lainnya ada pembelajaran Leadership yang mencakup materi serta praktek menumbuhkan karakter positif pada peserta didik.

Pembelajaran yang mencakup secara keseluruhan tesebut menjadikan bahwa Yayasan Al Muslim siap berkompetensi di setiap bidangnya, terbukti dalam setiap kegiatan yang diikuti bersama sekolah lainnya, Al Muslim selalu menunjukkan eksistensinya untuk terus berkiprah yang terbaik.

Di Usia 47 tahun ini, lembaga pendidikan Al Muslim terus berkontribusi mencetak generasi yang berkarakter hebat. Semua jajaran akademik yang ada didalamnya saling mendukung demi kemajuan Al Muslim. Di usia yang sama dengan Al Muslim, aku berharap masih bisa berperan serta memajukan tempat yang selama ini menjadi rumah keduaku. Bayangkan saja, sejak usia 21 tahun sampai dengan sama usia Milad Yayasan Al Muslim aku masih bertahan disini, kulabuhkan separuh usiaku di Yayasan Al Muslim demi kecintaanku kepadanya membentuk generasi penerus bangsa. Para Alumni telah banyak yang berkabar tentang kesuksesannya, semua atas kontribusi Yayasan Al Muslim. Aku sangat bangga mendenger cerita bahagia anak-anak didikku.

Doaku untuk Yayasan Al Muslim,  Allah izinkan terus berkembang menjadi lembaga pendidikan Islam yang berkarakter, mampu mencerdaskan generasi penerus yang berakhlakul karimah, dan keberadaannya tetap menjadi lembaga yang diminati masyarakat luas, Aamiin Ya Robbal’alamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *