Menyemaikan kepedulian lingkungan sejak dini pada anak usia dini

Kiko punya tempat favorit di rumah. Bukan di depan TV, tapi di belakang rumah.Di sana ada kebun kecil milik Ibu. Ada pohon tomat yang -merah, bayam hijau, cabai kecil, dan bunga matahari yang tinggi.Setiap sore jam 4, tugas Kiko adalah menyiram tanaman dengan gambar biru kecilnya.

“Kiko, melihat ! Cacing ini teman baik tanah,” kata Ibu sambil menunjukkan tanah yang gembur.

Kiko tertawa, “Ih geli Bu, tapi tanahnya jadi subur yah?”

Ibu mengangguk. “Iya. Kalau kita sayang tanah, tanah akan sayang kita.”

Dari sinilah Kiko belajar, sampah daun bisa jadi kompos, dan air bekas cucian beras bisa untuk menyiram tanaman.

Ketika di hari minggu, Ibu memanggil Kiko.

“Kiko, bibit bayam ini sudah cukup besar. Bagaimana kalau besok kamu bawa ke sekolah? Biar teman-temanmu juga belajar menanam.”

Kiko bingung. “Tapi gimana bawanya Bu? Nanti rusak.”

Akhirnya mereka punya ide. Mereka memakai pot dari botol plastik bekas yang sudah dipotong dan dihias Kiko dengan stiker bintang.

“Ini namanya pot daur ulang. Kita mengurangi sampah, lho,” kata Ibu.

Kiko punya tempat favorit di rumah. Bukan di depan TV, tapi di belakang rumah.

Di sana ada kebun kecil milik Ibu. Ada pohon tomat yang merah-merah, bayam hijau, cabai kecil, dan bunga matahari yang tinggi.

Setiap sore jam 4, tugas Kiko adalah menyiram tanaman dengan gembor biru kecilnya.

“Kiko, lihat! Cacing ini teman baik tanah,” kata Ibu sambil menunjukkan tanah yang gembur.

Kiko tertawa, “Ih geli Bu, tapi tanahnya jadi subur ya?”

Ibu mengangguk. “Iya. Kalau kita sayang tanah, tanah akan sayang kita.”

Dari sinilah Kiko belajar, sampah daun bisa jadi kompos, dan air bekas cucian beras bisa untuk menyiram tanaman.

Suatu hari Minggu, Ibu memanggil Kiko.

“Kiko, bibit bayam ini sudah cukup besar. Bagaimana kalau besok kamu bawa ke sekolah? Biar teman-temanmu juga belajar menanam.”

Kiko bingung. “Tapi gimana bawanya Bu? Nanti rusak.”

Akhirnya mereka punya ide. Mereka memakai pot dari botol plastik bekas yang sudah dipotong dan dihias Kiko dengan stiker bintang.

“Ini namanya pot daur ulang. Kita mengurangi sampah, loh,” kata Ibu.

Kiko memeluk potnya. “Aku akan jaga dia sampai ke sekolah.”

Senin pagi, Kiko berangkat ke TK Tunas Bangsa dengan hati-hati. Pot kecilnya ia pangku di dalam tas, takut tumpah.

Di jalan, ia bertemu Lila.

“Kiko, kamu bawa apa?” tanya Lila.

“Bibit dari belakang rumahku. Nanti kita tanam di kelas,” jawab Kiko bangga.

Lila jadi semangat. “Aku besok mau bawa bibit dari rumahku juga ah!”

Tanpa sadar, Kiko sudah menyebarkan semangat peduli lingkungan bahkan sebelum sampai di sekolah.

Sesampainya di kelas, Bu Sari menyambut.

“Anak-anak, hari ini kita punya tamu istimewa. Bibit bayam dari kebun belakang rumah Kiko!”

Anak-anak berkumpul melingkar di halaman depan kelas. Bu Sari sudah menyiapkan bak kayu berisi tanah.

“Hari ini kita belajar jadi petani kecil,” kata Bu Sari.

Kiko menunjukkan cara yang diajarkan Ibu: buat lubang kecil, masukkan akar pelan-pelan, tutup dengan tanah, siram sedikit.

Tangan-tangan kecil itu ikut membantu. Ada yang kebanyakan air, ada yang tanahnya berantakan. Semua tertawa.

“Kotor tidak apa-apa, yang penting kita belajar merawat kehidupan,” kata Bu Sari.

Hari itu, halaman kelas yang tadinya kosong, sekarang punya 10 pot baru.

Sejak hari itu, ada peraturan baru di kelas Kiko.

Setiap pagi, ada jadwal “Tim Penyiram”. Mereka bergantian menyiram tanaman.

Bu Sari juga membuat papan “Jurnal Hijau”. Setiap anak menggambar pertumbuhan tanamannya.

Minggu pertama, bibit masih kecil.

Minggu kedua, daunnya bertambah dua.

Minggu ketiga, “Bu Guru! Bayamku sudah bisa dipanen!”

Anak-anak belajar, merawat lingkungan butuh sabar, konsisten, dan kasih sayang. Tanaman bayam itu akhirnya dimasak bersama di sekolah menjadi sayur bening. Mereka makan hasil tanaman sendiri.

“Enak! Karena kita tanam sendiri!” kata Kiko.

Bu Sari tersenyum. “Lihat anak-anak, dari satu bibit kecil dari belakang rumah, sekarang kepedulian kita tumbuh sampai ke ruang kelas, bahkan sampai ke piring makan kita.”

Sejak itu, TK Tunas Bangsa terkenal sebagai TK yang paling hijau dan bersih. Dan semua berawal dari kebun kecil di belakang rumah Kiko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *