Jam menunjukkan pukul 15.37. Di Cibitung, panas jam segini masih seperti menempel di kulit.

Di belakang rumah petak kontrakan yang hanya berukuran 3×6 meter Dahlia sedang mengangkat jemuran. Tangannya cekatan, tapi matanya sesekali melirik ke dalam rumah. Di dalam anak keduanya Alif kelas 4 SD, baru saja pulang. Tasnya tergeletak di lantai, isinya berhamburan, sepatunya yang satu terbalik di pintu belakang.

“Lif, ngajinya jam 4 lho. Jilidnya sudah disiapkan belum?” teriak Dahlia dari belakang.

Alif tidak menjawab. Dia duduk di lantai depan kipas angin, makan nasi dengan telur ceplok yang sudah agak dingin. Keringatnya masih bercucuran. Sehari di sekolah, ditambah harus jalan kaki pulang sejauh satu kilometer, tenaganya sudah habis. Di kepalanya, ada rasa malas yang besar. Jilid 4 halaman 23. Halaman itu sudah tiga hari tidak lulus-lulus. Huruf-hurufnya loncat-loncat, dengungnya ketukar terus.

Bagi anak lain, mungkin itu sepele. Tapi bagi Alif, itu adalah tembok besar.

15.48. Dahlia masuk dari belakang rumah sambil membawa baskom kosong. Dilihatnya Alif masih makan, jilid Tilawati birunya masih di atas lemari, belum tersentuh.

“Lif, kata Ustadzah di TPQ Zawiyah Cibitung kemarin pencapaianmu belum maksimal. Bukan berarti kamu bodoh, Nak. Memang halamannya susah. Tapi kalau tidak diulang di rumah, kapan bisanya?”

Alif menunduk. Dia tidak mau ibunya sedih. Dia juga tidak mau Ustadzahnya kecewa. Ustadzah di TPQ Zawiyah itu tidak pernah marah, tapi tatapannya kalau melihat santrinya belum lancar, ada sedihnya.

Dengan setengah terpaksa, dia mencuci piringnya sendiri di belakang rumah. Air sumurnya dingin. Dia wudhu sekalian, meskipun wudhunya masih berantakan. Dia ambil peci putihnya yang sudah agak kekuningan dan jilid biru itu. Di ujung sampulnya sudah di lakban karena sering jatuh di jalan.

“Bu, berangkat dulu ya,” pamitnya.

“Jalan pelan-pelan, jangan lari. Salam sama Ustadzah,” jawab Dahlia dari belakang rumah, tangannya masih sibuk di dapur.

Perjalanan dari belakang rumahnya ke ruang kelas di TPQ Zawiyah Cibitung itu hanya 7 menit kalau dihitung. Tapi 7 menit itu isinya banyak sekali cerita.

Menit pertama, dia melewati gang sempit di belakang rumahnya. Gang yang kalau hujan beceknya sampai mata kaki. Di situ ada Mbak-mbak yang sedang gosip, melihat Alif lewat sambil bawa jilid.

“Ngaji, Lif?” Sapa mereka.

Alif hanya mengangguk malu-malu.

Menit kedua, dia melewati warung Mang Ujang. Warung itu menjual es mambo warna-warni seharga seribuan. Teman-teman SD-nya yang tidak ngaji, nongkrong di sana, main Mobile Legends. Mereka memanggil Alif.

“Lif, sini mabar dulu! Ngajinya nanti aja!”

Hatinya goyah. Es mambo dan main game tentu lebih enak daripada harus mengeja _a-u ba-u…_ Tapi dia ingat pesan Bapaknya : Alif anak Bapak yang sholeh Yang rajin ya ngajinya, Bapak ingin nanti kalau Bapak sudah tidak ada Alif bisa ngaji untuk Bapak. 

Ustadzah juga bercerita”Langkah kaki ke majelis itu ditimbang sebagai amal.” Dia terus jalan, meskipun matanya masih melirik warung itu.

Menit keempat, dia harus melompati selokan kecil. Sandal jepitnya yang sudah tipis hampir putus. Dia lompat, hampir terpeleset. Jilidnya hampir jatuh ke selokan. Dia peluk erat. Bagi dia, jilid itu bukan sekedar buku, itu amanah.

Menit keenam, dia sudah sampai di halaman TPQ Zawiyah. Dari luar, dia sudah mendengar suara anak-anak lain mengaji bersahutan. Ada yang lancar, ada yang masih terbata bata seperti dia. Suara Ustadzah membimbing: “Dengungnya ditahan, Nak… dua harokat.”

Di titik ini, Alif berhenti di belakang bangunan TPQ Zawiyah. Tidak langsung masuk. Dia berdiri di balik tembok belakang kelas. Napasnya ngos-ngosan. Dari celah jendela belakang, dia mengintip ke dalam ruang kelas.

Ruang kelas itu sangat sederhana. Tidak ada AC, hanya dua kipas angin yang bunyinya berisik. Karpetnya sudah tipis di tengah karena sering diduduki. Papan tulis putihnya sudah banyak bekas spidol yang tidak hilang. Tapi di dalam ruangan itu, ada 12 anak seusianya yang duduk melingkar, semuanya memegang jilid masing-masing.

Ustadzahnya duduk di tengah. Wajahnya teduh.

Alif melihat dari belakang. Dari belakang, semua anak terlihat sama. Punggungnya kecil-kecil, pecinya ada yang miring, jilbab anak perempuannya ada yang kedodoran. Tidak ada yang istimewa. Tapi begitu mereka membuka mulut dan melantunkan huruf hijaiyah, ruangan sederhana itu berubah jadi tempat yang paling mulia di seluruh Cibitung.

Alif menarik napas panjang. Rasa malu karena belum naik halaman itu tiba-tiba hilang, berganti rasa ingin ikut di dalam lingkaran itu.

Dia masuk. Membuka pintu pelan-pelan.

“Assalamualaikum, Ustadzah,” ucapnya lirih.

“Waalaikumsalam, Alif. Sini, duduk. Ustadzah sudah tunggu halaman 23-mu,” jawab Ustadzahnya sambil tersenyum. Tidak ada nada marah sama sekali.

Alif duduk di pojok. Dibukanya jilid 4 halaman 23 yang sudah lecek itu.

Awalnya masih salah. Dengungnya masih kepleset. Ustadzah sabar mengulanginya tiga kali, empat kali. Teman di sebelahnya yang sudah jilid 5, ikut membantu menunjukkan makhrojnya.

Dan entah kenapa, sore itu, di ruang kelas yang pengap itu, lidah Alif tiba-tiba ringan.

“Kho… kho…”

Lancar.

Ustadzahnya langsung mengangkat jempol. “Alhamdulillah, bagus! Besok kita naik halaman 24 ya.”

Tidak ada tepuk tangan meriah. Tidak ada hadiah. Hanya sebuah coretan pena di buku prestasi: _Alhamdulillah, halaman 23 LULUS._

Tapi bagi Alif, coretan itu lebih berharga dari kemenangan Mobile Legends di warung tadi.

Jam 17.10, ngaji selesai. Anak-anak berhamburan keluar. Alif pulang lagi melewati jalan yang sama. Dari ruang kelas kembali ke belakang rumah. 7 menit lagi.

Tapi di perjalanan pulang, langkahnya berbeda. Lebih ringan. Sandal jepitnya masih hampir putus, selokannya masih harus dilompati, warung Mang Ujang masih ramai. Tapi di dalam dadanya, dia membawa sesuatu: dia sudah tidak tertinggal lagi.

Sesampainya di belakang rumah, ibunya sedang menyapu.

“Gimana, Lif? Lancar?”

Alif tersenyum lebar, menunjukkan buku prestasinya yang ada coretan LULUS.

Ibunya tidak bisa baca tulisan Arab, tapi dia tahu arti senyum itu. Dari belakang rumah yang sempit, dengan segala kekurangannya, anaknya baru saja pulang dari sebuah kemenangan kecil di ruang kelas.

Dan kemenangan kecil itulah yang suatu hari nanti, akan menjadi kemenangan besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *