Got di samping rumah saya adalah got mati. Posisinya di hook, berdempetan dengan rumah tetangga. Lebarnya tak sampai satu meter, tapi baunya bisa sampai ke ruang tamu. Minggu lalu saya sudah mengeruknya. Saya angkat sendiri plastik-plastik, popok, puntung rokok, dan lumpur hitam yang mengendap. Saya kira setelah itu airnya akan mengalir. Ternyata tidak. Airnya tetap menggenang, keruh, dan diam. Padahal ini bukan musim hujan.

Sore itu saya berdiri lama di samping got. Saya malu. Sebagai guru kelas 3 SD, saya hampir setiap hari menyuruh murid saya untuk menjaga kebersihan. Tapi got di rumah saya sendiri mampet. Ternyata membersihkan saja tidak cukup, kalau kebiasaan membuangnya tidak pernah diubah. Di situlah saya sadar, pelajaran lingkungan yang paling jujur tidak ada di buku tema, melainkan ada di belakang rumah.

            Anak kelas 3 SD belum mengerti apa itu pemanasan global atau pencemaran mikroplastik di laut. Itu terlalu jauh bagi mereka. Dunia mereka masih sedekat belakang rumah. Dunia mereka adalah tempat bermain kelereng, tempat menjemur keset, tempat ibu mencuci piring, dan got kecil tempat air sabun mengalir. Jika kita ingin mereka peduli pada bumi, kita harus mulai dari dunia kecil itu.

            Belakang rumah, atau got samping rumah saya, adalah laboratorium pertama. Di sanalah anak-anak melihat akibat secara langsung. Ketika ibu membuang sisa minyak jelantah ke got, minyak itu membeku dan menutup aliran. Ketika bungkus jajan dibuang sembarangan, ia menyumbat. Anak kelas 3 tidak butuh ceramah panjang. Mereka hanya butuh melihat: “Oh, jadi karena ini got kita mampet.” Itu jauh lebih membekas daripada menghafal definisi sampah anorganik.

             Persoalannya, banyak dari kita sebagai orang tua dan guru yang memutus rantai itu. Di rumah kita marah karena got mampet, tapi di sekolah kita hanya mengajarkan lingkungan lewat gambar di poster. Anak tidak diajak menghubungkan keduanya. Akibatnya, kepedulian hanya menjadi hafalan untuk ujian, bukan kebiasaan.

Maka saya memutuskan untuk membawa got saya ke ruang kelas 3.

Keesokan harinya, saya tidak membuka pelajaran IPA dengan definisi. Saya membuka dengan foto. Saya foto got samping rumah saya yang airnya tidak mengalir itu, dan saya tampilkan di depan kelas. Anak-anak kelas 3 langsung heboh.

“Bu, jorok!”

“Bu, itu di rumah Ibu?”

Saya jawab, “Iya, ini got Ibu. Sudah Ibu keruk, tapi masih mampet. Kira-kira kenapa ya?”

Dan mereka menjawab dengan polos dan jujur. “Karena banyak sampahnya, Bu.” “Karena dibuang minyak, Bu, jadi mampet.”

Dari got itulah, materi mengalir.

Untuk anak kelas 3 SD, saya tidak bisa memberi tugas yang berat. Saya harus membuatnya menjadi permainan dan kebiasaan. Maka saya buat tiga kesepakatan kecil di kelas kami.

Pertama, Gerakan Tumbler dan Sapu Tangan. Anak kelas 3 SD senang sekali membawa botol minum sendiri yang bergambar karakter. Saya ajak mereka untuk tidak lagi jajan minuman plastik di kantin. Kami hitung bersama, jika satu anak mengurangi satu plastik sehari, maka dalam sebulan kami sudah mengurangi 600 plastik di sekolah.

Kedua, Pojok Pilah Bekal. Setiap jam istirahat, kami punya waktu lima menit untuk pilah sampah bekal. Sisa nasi, tulang ayam, dan kulit pisang kami masukkan ke ember kompos kecil di belakang kelas. Bungkus plastik dan kotak susu kami cuci dan masukkan ke karung bank sampah. Anak-anak kelas 3 justru sangat telaten melakukan ini karena mereka merasa seperti bermain masak-masakan.

Ketiga, Botol Jelantah. Ini yang paling penting, belajar dari got saya. Saya bilang kepada mereka, “Siapa yang ibunya habis menggoreng, minyaknya jangan dibuang ke wastafel ya. Nanti gotnya mampet seperti punya Ibu.” Minggu depannya, mereka datang membawa botol bekas air mineral berisi minyak jelantah dari rumah. Wajah mereka bangga sekali. Dari botol-botol itulah mereka belajar bahwa satu liter minyak jelantah yang dibuang sembarangan bisa mencemari ribuan liter air.

               Inilah yang saya maksud dengan menyemaikan sejak dini. Kata “menyemaikan” itu indah, karena artinya menanam benih. Kita tidak sedang memanen. Kita sedang menaruh benih kecil di tanah yang gembur, yaitu hati anak kelas 3 SD.

              Saya tidak berharap setelah proyek ini got di samping rumah saya langsung mengalir deras. Saya juga tidak berharap masalah sampah di lingkungan saya langsung selesai. Tidak.

              Yang saya harapkan jauh lebih sederhana dan lebih lama. Saya berharap seorang anak kelas 3 yang hari ini mengingatkan ibunya, “Bu, minyaknya jangan dibuang di got,” akan terus mengingat itu sampai dia kelas 6, sampai dia SMP, sampai dia nanti punya rumah sendiri yang berdempetan dengan tetangga lain. Benih itu yang akan tumbuh. Kepedulian yang disemai sejak umur 8 tahun akan jauh lebih kuat akarnya daripada kepedulian yang baru diajarkan saat banjir sudah masuk rumah.

               Dulu saya berpikir, untuk mencintai lingkungan kita harus pergi jauh: menanam pohon di gunung atau bersih-bersih di pantai. Ternyata tidak. Tugas terberat seorang guru SD justru ada di tempat yang paling dekat.

Cukup ajak anak menengok ke belakang rumahnya. Lihat gotnya. Lihat tempat sampahnya. Lalu bawa cerita itu ke ruang kelas. Dari sanalah kepedulian yang sesungguhnya tumbuh.

Kini, got di samping rumah saya memang belum sepenuhnya mengalir. Airnya masih menggenang. Tapi di ruang kelas 3 saya, sudah ada 28 pasang mata yang tahu kenapa air itu tidak mengalir. Dan bagi saya, itu adalah aliran yang paling penting. Aliran kesadaran yang semoga tidak pernah mampet lagi.

 
One thought on “Got Mati di Samping Kelas 3: Dari Belakang Rumah ke Ruang Kelas”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *