
Yang Tumbuh bukan hanya sekedar tanaman, melainkan makna kepedulian, Tanggung Jawab, dan Karakter melalui Kehidupan Sederhana dirumah dan di Sekolah. Sikap peduli lingkungan adalah cara berpikir dan berbuat yang bertujuan mencegah terjadinya kerusakan atau ketidaknyamanan di sekitar kita, serta berusaha memperbaiki kondisi lingkungan yang sudah tidak nyaman. Sekarang ini perhatian orang terhadap lingkungan semakin berkurang, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Masih sangat sedikit orang yang memperhatikan lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Di banyak sekolah masih banyak ditemukan murid yang tidak perhatikan lingkungan sekitarnya. Murid kurang sadar dalam membuang sampah ke tempatnya, masih sering mencoret-coret dinding atau meja, kamar mandi, bahkan sulitnya murid untuk menyiram air saat menggunakan toilet, tidak mengembalikan mainan ke tempatnya, dan masih banyak lagi contoh kebiasaan buruk yang bisa kita lihat akibat ketidakpedulian terhadap lingkungan.
Yayasan Al Muslim sebagai sekolah terbaik di Bekasi, yang sangat peduli terhadap karakter murid dalam mencintai dan mengenal lingkungan dengan pembelajaran bermakna melalui Green Education, menyiapkan khalifah fil ardh yang abdilah rahmatan lil alamin. Murid, orangtua dan guru terus bekerjasama untuk tumbuh kembangnya rasa peduli baik terhadap diri, orang lain dan lingkungan. Mempertahankan lingkungan sekolah mungkin terasa seperti tugas yang mudah di awalnya. Guru mengajak murid untuk membuang sampah ke tempatnya, membersihkan ruangan kelas, menyiram tanaman, merapikan halaman sekolah, mencuci piring makan siangnya dan merapikan alas kakinya sesuai tempat. Namun, bila diamati lebih lanjut, setiap kegiatan tersebut memiliki makna pendidikan yang sangat besar. Ketika seorang anak melihat sampah lalu mengambilnya tanpa harus diminta, itu berarti rasa peduli sedang berkembang dalam dirinya. Ketika seorang anak memberi air pada tanaman karena tahu tanaman itu butuh air, maka timbul rasa tanggung jawab. Sama seperti saat beberapa anak membersihkan taman bersama, mereka belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya pekerjaan satu orang, tetapi tugas yang harus dilakukan bersama-sama.
Mulai dari rumah peran orang tua sebagai guru terbaik, sebelum anak mulai mengenal guru di sekolah, mereka telah belajar dari orang tua di rumah terlebih dahulu. Orang tua adalah guru pertama dan terbaik yang diketahui anak sejak lahir. Anak-anak belajar berbicara, cara bersikap, dan mengerti kebiasaan yang ada di sekitar mereka dari orang tua. Begitu pula dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan. Seorang anak yang sering melihat orang tuanya membuang sampah tepat di tempatnya, mematikan lampu saat tidak dipakai, menghemat air, atau merawat tanaman di halaman rumah akan lebih cepat meniru kebiasaan tersebut. Anak-anak adalah peniru ulung. Apa yang mereka lihat setiap hari biasanya lebih tersimpan dalam ingatan daripada apa yang mereka dengar.

Murid merawat kebersihan kelas, merawat taman mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan melakukan berbagai aksi nyata untuk menjaga lingkungan perlu. Jika rumah dan sekolah memiliki tujuan yang saat tersediakan pengalaman belajar yang konsisten. Mereka memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya aturan di sekolah atau tugas yang diberikan guru, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang harus dilakukan pun mereka mereka berada. Mengajarkan rasa peduli terhadap lingkungan kepada anak tidak cukup hanya dengan menjelaskan teori di papan tulis atau memberikan tugas di lembar kerja. Ketika merasakan tekstur daun, dan melihat langsung bagaimana kehidupan baru tumbuh dari sebuah biji yang dirawat. Melakukan kegiatan menanam dan merawat tanaman, proses belajar tidak lagi terasa seperti tugas berat, melainkan sebuah pengalaman yang nyata dan penuh makna. Ketika anak-anak mengamati secara langsung lingkungan sekitar tanaman penuh gulma dan tanaman pengganggu, tumbuh rasa peduli untuk merawatnya, membersihkannya hingga mereka mampu menyajikan dalam sebuah laporan presentasi dalam ruang kelas. Dengan senang hati memberikan sharing tentang hasil pengamatan selama satu minggu di luar kelas. Dari hal inilah mereka mengerti, rasa ingin tahunya menjadi aksi nyata untuk peduli terhadap lingkungan.

Guru tidak hanya memberikan informasi tentang lingkungan, tetapi juga membantu anak mengalami langsung dan berinteraksi dengan lingkungannya. Anak tidak cukup hanya disampaikan bahwa membuang sampah sembarangan akan membuat lingkungan menjadi kotor. Mereka harus melihat langsung dampaknya, merasakan betapa nyamannya hidup di lingkungan yang bersih, dan mengalami proses perbaikan ketika lingkungan yang kurang dirawat diperbaiki bersama-sama. Pengalaman nyata seperti ini membuat belajar lebih mudah dipahami dan lebih mungkin terbiasa dilakukan.
Sebagai guru Saya yakin bahwa pendidikan lingkungan tidak boleh hanya berhenti pada acara-acara yang hanya sekadar formal. Membawa botol minum sendiri, mengurangi penggunaan plastik yang dipakai sekali, menggunakan air secukupnya, mematikan lampu saat tidak digunakan, memilah sampah, dan merawat tanaman adalah beberapa tindakan kecil. Jika dilakukan terus-menerus, tindakan-tindakan kecil ini bisa membentuk kebiasaan besar. Menariknya, dalam kegiatan tersebut guru sering menemukan bahwa anak-anak bisa memberikan pelajaran yang tidak diprediksi. Anak itu mungkin memperingatkan temannya agar sampahnya ditaruh di tempat yang benar. Anak lainnya mungkin secara sukarela menyiram tanaman yang tampak layu, membawa tempat makan dan minum sendiri, hal-hal kecil seperti ini mungkin tidak terlihat dalam nilai ujian, tetapi sebenarnya merupakan bentuk keberhasilan pendidikan yang sangat penting. Anak mulai tahu untuk melakukan sesuatu bukan karena takut diingatkan, tetapi karena mereka paham bahwa apa yang mereka lakukan bisa mempengaruhi orang lain dan lingkungan sekitar.
Akhirnya, menjaga lingkungan sekolah bukan hanya tentang membuat halaman bersih, taman yang hijau, atau ruang kelas yang rapi. Kita sedang memupuk rasa peduli agar mereka menjadi lebih peka terhadap kondisi di sekitar mereka. Kita sedang menanam rasa tanggung jawab agar mereka tahu bahwa setiap hal yang dilakukan pasti ada dampaknya. Kita sedang membangun kerja sama supaya mereka tahu bahwa perubahan tidak bisa dilakukan sendirian. Mungkin hari ini yang terlihat hanyalah seorang anak sedang menyiram tanaman, beberapa tahun kemudian tahu arti merawat, menghargai, dan menjaga serta bertanggung jawab atas tugasnya. Karena pada akhirnya, pendidikan lingkungan bukan hanya tentang cara membuat bumi tetap hijau. Pendidikan lingkungan adalah cara untuk membina manusia yang ingin menjaga bumi tempat ia tinggal. Peran manusia sebagai khalifah di muka bumi—yang bertugas menjaga dan merawat bumi—ditegaskan melalui tindakan nyata yang bisa dilakukan oleh tangan kecil mereka setiap hari. Mereka mengerti bahwa memperhatikan penggunaan air saat menyiram tanaman, menggunakan wadah bekas sebagai tempat tanam, serta menjaga kebersihan di sekitar tanaman adalah cara nyata untuk menunjukkan rasa syukur. Rasa tanggung jawab yang muncul di dalam kelas perlahan-lahan kembali ke rumah. Dari sebatang tanaman, anak-anak tidak hanya belajar sains tumbuh-tumbuhan, melainkan belajar tentang kesabaran, disiplin, empati, dan tanggung jawab moral.
