Celotehan ringan seorang guru Tilawati TK tentang belajar, sabar, dan budaya literasi

“Bu Guru, aku mau duduk dekat Bu Guru!”

“Enggak, aku duluan!”

“Bu, crayon-ku hilang!”

“Bu, Bimo enggak baca doa!”

“Bu, pensilku patah. Tolong rautkan!”

“Bu, aku minta kertas mewarnai lagi!”

Dan masih banyak lagi suara mungil yang berlomba-lomba memanggil nama yang sama: Bu Guru!

Begitulah suasana kelas TK saya sepekan ini. Niat hati ingin menuntaskan pembelajaran Tilawati Jilid 2 dalam waktu 60 menit, tetapi kenyataan berkata lain. Waktu terus berjalan, sementara tahapan pembelajaran belum juga selesai. Baru membuka peraga, sudah ada yang berebut tempat duduk. Baru mengajak membaca, muncul laporan tentang crayon yang hilang. Belum lagi komentar antarsiswa yang rasanya lebih cepat daripada suara saya saat memberi contoh bacaan.

“Bu, Bimo enggak ikut baca doa!”

“Bu, Hana enggak baca hafalan An-Nazi’at!”

Saya tersenyum, meskipun dalam hati mulai bertanya, Ini sedang belajar Tilawati atau sedang membuka sidang pelanggaran tata tertib?

Enam puluh menit terasa seperti enam jam. Akhirnya, waktu istirahat saya dan waktu makan snack anak-anak ikut menjadi korban. Pembelajaran harus dituntaskan, pikir saya. Bukankah guru yang baik harus memastikan muridnya mencapai target?

Namun, sepanjang perjalanan pulang, tubuh saya terasa lelah sekali. Pikiran saya pun sibuk mengulang kejadian di kelas. Saya merenung, apakah saya gagal mendampingi anak-anak belajar? Mengapa tahapan yang sudah direncanakan dengan rapi justru berantakan oleh hal-hal kecil?

Di antara lelah dan renungan itu, saya mulai menyadari sesuatu. Mungkin yang perlu saya tuntaskan bukan sekadar halaman Tilawati, melainkan juga kemampuan anak-anak untuk mendengarkan, berbicara, membaca, dan menghargai orang lain.

Bukankah semua itu bagian dari literasi?

Selama ini, ketika mendengar kata literasi, pikiran saya sering langsung tertuju pada buku cerita, kegiatan membaca, atau anak yang mulai lancar mengenal huruf. Padahal, literasi juga tumbuh dari percakapan sederhana. Dari anak yang belajar menyampaikan keinginan dengan santun, mendengarkan temannya berbicara, dan memahami bahwa setiap orang berhak mendapatkan giliran.

Keesokan harinya, saya mencoba mengubah strategi.

Sebelum membuka peraga Tilawati, saya mengajak anak-anak membuat kesepakatan kelas sederhana. Kami sepakat menggunakan tiga kalimat ajaib: “Tolong, maaf, dan terima kasih.” Saya juga mengenalkan aturan mengangkat tangan sebelum berbicara dan menunggu giliran.

Tentu saja, kesepakatan itu tidak serta-merta membuat kelas berubah menjadi perpustakaan yang hening. Namanya juga anak TK! Ada saja kejutan yang membuat saya ingin tertawa sekaligus mengelus dada.

Namun, saya mencoba lebih kreatif. Untuk mengatasi rebutan tempat duduk, saya membuat giliran duduk dekat guru. Untuk membiasakan anak menyimak, saya mengajak mereka bermain “Telinga Siap, Mulut Siap”. Saat membaca doa dan hafalan, kami berlatih bersama tanpa sibuk mencari siapa yang tidak ikut.

Saya pun mulai menyelipkan cerita pendek, permainan kata, dan pertanyaan sederhana dalam pembelajaran. Anak-anak diajak menceritakan pengalaman, menyebutkan benda di sekitar, serta mengungkapkan perasaan mereka dengan bahasa yang baik.

Dengan begitu, pembelajaran tidak hanya berisi kegiatan membaca huruf demi huruf, tetapi juga kesempatan untuk membangun komunikasi dan kebiasaan literasi.

Saya belajar bahwa satu bahasa bukan sekadar bahasa yang sama-sama kita ucapkan. Satu bahasa adalah jembatan untuk saling memahami. Satu bangsa tumbuh ketika anak-anak belajar menghargai perbedaan, mengendalikan diri, dan hidup bersama dalam suasana saling menghormati.

Di kelas kecil saya, semangat itu dimulai dari hal sederhana: tidak berebut tempat duduk, tidak sibuk mengomentari teman, dan berani berkata, “Bu, boleh saya minta tolong?”

Saya juga belajar bahwa target pembelajaran memang penting, tetapi anak-anak bukan mesin yang bisa dipacu untuk menyelesaikan halaman demi halaman. Mereka sedang belajar membaca, sekaligus belajar menjadi manusia yang mampu berbahasa dengan baik.

Kini, jika suara “Bu, Bu, Bu…” kembali memenuhi kelas, saya ingin belajar mendengarnya dengan hati yang lebih lapang. Sebab, di balik setiap panggilan itu, ada anak yang sedang belajar menyampaikan kebutuhan dan mencari perhatian.

Tentu, saya tetap harus menjaga waktu. Waktu belajar, istirahat, dan makan snack adalah hak anak-anak yang perlu dihargai. Pembelajaran yang kreatif bukan berarti semua kegiatan harus selesai dengan mengorbankan waktu istirahat, melainkan bagaimana guru mengelola kelas agar tujuan belajar tercapai dengan lebih menyenangkan.

Saya belum menjadi guru yang sempurna. Tilawati Jilid 2 pun masih menyimpan pekerjaan rumah bagi saya. Namun, satu hal kini semakin saya pahami: keberhasilan pembelajaran bukan hanya tentang berapa banyak halaman yang selesai dibaca, melainkan juga tentang nilai-nilai baik yang tumbuh dalam diri anak.

Dan jika suatu hari nanti anak-anak itu tumbuh menjadi generasi yang gemar membaca, santun berbicara, mampu menyimak, serta menghargai sesama, mungkin di situlah kemenangan kecil saya sebagai guru.

Sebab, sebelum mereka fasih membaca rangkaian huruf, saya ingin mereka belajar membaca keadaan, memahami perasaan, dan menggunakan bahasa untuk menebar kebaikan.

Sementara untuk urusan crayon yang hilang, pensil yang patah, dan kertas mewarnai yang habis?

Ah, sepertinya itu tetap menjadi bagian dari paket lengkap menjadi guru TK!

Karena di kelas kecil itu, saya bukan hanya mengajar anak-anak membaca. Saya sedang belajar membaca kehidupan dengan satu bahasa, satu hati, dan sejuta kesabaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *