Hari Jumat bagi anak-anak kelas 9 SMP selalu punya warna yang berbeda. Di tengah padatnya persiapan menuju jenjang sekolah lanjutan, tumpukan tugas, dan dinamika remaja usia belasan, jam pembelajaran Al-Qur’an di pagi hari hadir sebagai jeda.
Mengajar remaja kelas 9 di Sekolah Al Muslim memberi saya banyak sudut pandang baru. Mereka bukan lagi anak-anak kecil yang bisa diminta duduk tenang, tetapi juga belum sepenuhnya dewasa. Latar belakang mereka sangat beragam: ada yang di rumah terbiasa bertutur dengan bahasa daerah, ada yang lebih fasih menyelipkan istilah bahasa Inggris, hingga yang tipenya sangat pendiam di pojokan kelas.
Setiap Jumat pagi, setelah menyimak bacaan dan mengulas materi tajwid bersama, suasana kelas yang tadinya tenang biasanya mendadak berubah menjadi riuh. Layar proyektor di depan kelas menyala, menampilkan kode ruangan permainan online: Quizizz.
Dulu, beberapa orang mungkin berpikir bahwa belajar tajwid dan literasi Al-Qur’an harus selalu dijalani dengan cara yang kaku dan formal. Namun di kelas kami, Quizizz menjadi jembatan kreatif yang mencairkan suasana.
“Bu, mana kodenya? Ayoo bu… nggak sabar nih!” seru salah satu anak dari barisan tengah sambil menggoyang-goyangkan tabletnya-nya.
“Tadi kodenya berapa bu?”
“Bentar bu.. masih muter”
Begitu tombol start ditekan, musik khas Quizizz berbunyi dan jemari mereka langsung sibuk bergerak di atas layar gawai. Pertanyaan yang muncul seputar hukum bacaan hingga contoh bacaan tajwid dan ghorib. Di layar tablet yang kupegang, grafik perolehan skor naik turun secara cepat. Ruangan kelas mendadak ramai oleh celetukan-celetukan polos mereka.

“Aduh! Nomor tiga ini jawabannya apa sih? Aku tahu materinya, tapi malah lupa!” sahut seorang murid di pojok kanan sambil menepuk jidatnya sendiri.
“Iya nih, kok kayaknya nggak ada jawabannya di pilihan? Salah kunci ya ini?” timpal temannya dari barisan sebelah, disusul tawa renyah dari teman-teman di sekitarnya.
“Nomer 5 ngga ada jawabannya bu!”
“Nomer 10 C bukan bu?”
“Bu.. jawaban nomor 11 apa bu?”
Aku hanya mengulum senyum melihat tingkah dan celetukan mereka. Tak lama, tawa pecah saat ada yang salah memencet jawaban karena terburu-buru, dan sorak-sorai terdengar ketika nama teman yang biasanya diam tiba-tiba masuk ke papan peringkat atas.
Yang menarik dari momen kuis interaktif ini bukanlah soal siapa yang mendapat skor tertinggi. Lewat cara yang santai dan dekat dengan dunia digital mereka, pemahaman tajwid yang tadinya dianggap rumit berubah menjadi sesuatu yang mengasyikkan. Anak-anak yang memiliki latar belakang bahasa ibu atau kebiasaan yang berbeda-beda pun melebur dalam semangat yang sama, belajar memahami aturan bacaan Al-Qur’an tanpa rasa tegang.
Di Al Muslim, kami percaya bahwa menumbuhkan budaya literasi Al-Qur’an pada remaja tidak bisa dilakukan dengan cara yang memaksakan. Kita perlu masuk ke dunia mereka, menggunakan media yang mereka gemari, tanpa mengurangi kekhidmatan dan esensi dari apa yang dipelajari.
Literasi di kelas 9 SMP ini bukan cuma soal bisa membaca teks Arab dengan benar, tetapi juga tentang bagaimana mereka belajar mencintai prosesnya, mengasah fokus, serta membangun kebersamaan yang hangat lewat tawa dan interaksi jujur di kelas.
Ketika jam pelajaran usai dan gawai kembali disimpan rapi di dalam tas, suasana hangat itu masih tersisa. Jumat pagi di kelas 9 Al Muslim selalu membuktikan satu hal, dalam satu bahasa Al-Qur’an dan kebersamaan yang inklusif, belajar literasi bisa terasa begitu seru, hidup, dan penuh makna.
