Layar ponsel itu terdiam, menampilkan cuplikan video amatir yang buram namun mengerikan. Seorang remaja yang seharusnya masih mengenakan seragam pramuka dengan rapi, justru memegang senjata tajam dengan sorot mata penuh amarah. Hanya karena masalah sepele “sebuah senggolan tak sengaja saat sahur” , nyawa melayang di ujung aspal. Berita lain menyusul “seorang siswa sekolah dasar dianiaya oleh kakak kelasnya sendiri”. Kepala hanya tergeleng. Ada sesuatu yang retak, bahkan mungkin hancur pada kemanusiaan anak-anak kita.

Sebagai pendidik, kasus-kasus yang terjadi mengusik nurani. Setiap hari kita berdiri di depan, menjelaskan rumus-rumus rumit, menghafal tahun-tahun sejarah, dan mengoreksi tata bahasa. Namun, di luar gerbang sekolah, anak-anak yang sama justru kehilangan kendali atas emosinya. Tawuran antar sekolah pecah seperti festival tahunan yang meresahkan warga, seolah nyawa tak lebih berharga dari sekadar identitas kelompok yang semu. Pertanyaan besar kemudian menghantam wajah kita: Apa yang salah dengan pendidikan kita?

Sekolah mungkin terlalu sibuk mengejar angka di atas kertas. Terfokus pada nilai ujian, banyaknya lulusan yang masuk PTN favorit, keterserapan di dunia kerja, dan tumpukan dokumen administratif yang melelahkan. Namun lupa bahwa di balik seragam putih-merah, putih-biru atau putih-abu itu, ada jiwa-jiwa yang sedang mencari arah, ada emosi yang belum matang, dan ada kekosongan nilai yang gagal kita isi. Ketika pendidikan hanya berhenti pada transfer ilmu pengetahuan tanpa pembinaan adab, maka yang tercipta adalah robot-robot cerdas yang kehilangan nurani.

Kasus pembacokan dan pengeroyokan itu adalah alarm keras bagi kita semua. Ini adalah bukti kegagalan kita dalam mengajarkan pengelolaan emosi dan penyelesaian konflik secara baik. Anak-anak kita tumbuh di era informasi yang mudah untuk diakses. Video, game, dan tampilan yang banjir akan kekerasan baik secara verbal ataupun non verbal, namun kering akan teladan berseliweran secara bebas dan terbuka. Mereka melihat bagaimana konflik diselesaikan dengan otot, bukan otak. Mereka melihat ego lebih penting dari sebuah empati. Dan disekolah mereka ditempa menjadi robot cerdas bukan manusia yang memanusiakan sesama. Lalu kemana lagi mereka harus mencari?

Sekolah seharusnya tidak boleh hanya menjadi gedung dingin yang memisahkan siswa dari realitas sosial. Kita tidak boleh diam dan hanya berkata, “Itu kejadian di luar jam sekolah.” Pendidikan adalah tanggung jawab yang tidak mengenal jam operasional. Jika seorang siswa tega melukai temannya, itu berarti kita gagal menanamkan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Kita gagal mengajarkan bahwa keberanian bukanlah saat tangan dapat melukai orang lain, melainkan saat hati sanggup menahan amarah dan memaafkan ketidaksengajaan.

Mungkin, kita perlu kembali menengok filosofi pendidikan yang memanusiakan manusia. Kita perlu mengajarkan literasi emosi, bagaimana mengenali rasa marah, bagaimana mengolah kekecewaan, dan bagaimana berempati pada luka orang lain. Pendidikan harus menjadi tempat di mana karakter “Waluya”. benar-benar dihidupkan. Anak yang “Waluya Berakhlak” tidak akan mungkin tega menganiaya adiknya sendiri. Anak yang “Waluya Berbudaya” akan menjunjung tinggi harmoni ketimbang mencari permusuhan di jalanan. Inilah saatnya bagi kita, para pendidik, untuk melakukan refleksi total.

Kita tidak boleh diam membisu atau sekadar mengelus dada setiap kali berita duka itu muncul. Diamnya seorang pendidik adalah pengkhianatan terhadap masa depan. Kita harus bersuara melalui tindakan, mengubah kurikulum kaku menjadi interaksi yang penuh makna, dan menjadikan setiap sudut sekolah sebagai laboratorium karakter. Kita harus lebih sering bertanya “Bagaimana perasaanmu hari ini?” daripada “Sudahkah kau selesaikan tugasmu?”. Karena pada akhirnya, tujuan tertinggi dari pendidikan bukanlah menciptakan manusia yang pintar berhitung, melainkan menciptakan manusia yang memiliki hati untuk memahami sesamanya. Sekolah harus menjadi rumah kedua yang aman, tempat di mana empati dipraktikkan, bukan sekadar dihafalkan definisinya. Kita perlu memperkuat ikatan antara guru, siswa, dan orang tua. Pendidikan adalah sebuah ekosistem. Jika akarnya busuk, maka buah yang dihasilkan akan beracun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *