Bagi saya, menjaga lingkungan bukanlah sesuatu yang baru saya lakukan ketika berada di sekolah. Kepedulian terhadap lingkungan justru berawal dari rumah, dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang saya lakukan setiap hari. Saya percaya bahwa sebelum mengajarkan sesuatu kepada siswa, seorang guru sebaiknya terlebih dahulu membiasakannya dalam kehidupan pribadi. Sebab, anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang kita sampaikan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan rasakan dari perilaku kita.

Di rumah, saya berusaha membiasakan diri untuk selalu menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan. Setelah melakukan suatu kegiatan, saya berusaha mengembalikan barang pada tempatnya. Jika melihat sampah, saya membiasakan diri untuk segera mengambil dan membuangnya pada tempat yang sesuai. Bagi saya, tidak ada istilah “sampah kecil”. Sekecil apa pun sampah yang dibiarkan, jika dilakukan oleh banyak orang, tentu akan membuat lingkungan menjadi kotor.

Kebiasaan sederhana tersebut kemudian saya bawa ke sekolah. Ketika berada di lingkungan SD Al Muslim, saya tidak ingin hanya memberikan nasihat kepada siswa tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Saya berusaha memberikan contoh secara langsung. Ketika berjalan di halaman dan menemukan sampah, saya mengambilnya dan membuangnya ke tempat sampah. Terkadang saya sengaja melakukan hal sederhana tersebut di hadapan siswa. Bukan untuk mendapatkan pujian, tetapi agar mereka melihat bahwa menjaga kebersihan adalah tanggung jawab setiap orang

Saya kemudian mengajak siswa melakukan hal yang sama. Saya mengatakan kepada mereka bahwa sekolah adalah rumah kedua kita. Jika di rumah kita ingin tinggal di tempat yang bersih dan nyaman, maka sekolah pun harus kita perlakukan dengan cara yang sama. Dari situlah saya mulai membangun kebiasaan kepada siswa untuk tidak melewati sampah begitu saja. Jika mereka melihat sampah, mereka belajar untuk mengambil dan membuangnya pada tempat yang sesuai. Kebiasaan tersebut sejalan dengan keyakinan bahwa kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab seluruh warga sekolah.

Di rumah, saya juga berusaha menghemat penggunaan air. Ketika menggunakan air, saya membiasakan diri untuk tidak membiarkan keran terbuka tanpa keperluan. Kebiasaan ini kemudian saya terapkan kepada siswa. Saya mengingatkan mereka untuk menutup keran setelah mencuci tangan dan menggunakan air secukupnya. Saya ingin siswa memahami bahwa air adalah sumber daya yang harus kita gunakan dengan bijaksana. 

Begitu pula dengan listrik. Ketika ruangan tidak digunakan, saya membiasakan untuk mematikan lampu atau perangkat elektronik yang tidak diperlukan. Kebiasaan ini juga saya ajarkan kepada siswa agar mereka memahami arti menghemat energi.

Kebiasaan lain yang saya bawa dari rumah adalah merawat tanaman. Saya menikmati suasana rumah yang memiliki tanaman yang terawat. Menyiram tanaman, membersihkan daun yang kering, dan memastikan tanaman mendapatkan perawatan merupakan kegiatan sederhana yang memberikan rasa nyaman. Kebiasaan tersebut membuat saya berpikir bahwa anak-anak juga perlu mendapatkan pengalaman yang sama di sekolah.

Karena itu, saya mengajak siswa untuk mengenal tanaman yang ada di lingkungan SD Al Muslim. Saya mengajak mereka menyiram tanaman, membersihkan daun yang kering, tidak menginjak tanaman, dan tidak memetik bunga sembarangan. Saya ingin mereka memahami bahwa keindahan taman sekolah bukan muncul dengan sendirinya. Ada tangan-tangan yang merawat, ada waktu yang diberikan, dan ada tanggung jawab yang harus dilakukan.

Saya juga membiasakan diri memilah sampah di rumah. Kebiasaan tersebut kemudian menjadi pembelajaran sederhana bagi siswa. Saya mengenalkan kepada mereka perbedaan sampah organik dan anorganik. Sisa makanan dan kulit buah dapat dikenali sebagai sampah organik, sedangkan botol atau gelas plastik tertentu dapat dikumpulkan untuk dimanfaatkan kembali melalui kegiatan daur ulang. Dengan cara ini, siswa belajar bahwa barang yang sudah tidak digunakan tidak selalu berarti tidak memiliki manfaat.

Namun, perjalanan membangun kepedulian lingkungan tidak selalu mudah. Ada kalanya siswa lupa membuang sampah pada tempatnya. Ada yang lupa mematikan lampu. Ada pula yang tanpa sengaja menginjak tanaman. Dalam situasi seperti itu, saya berusaha tidak sekadar memarahi mereka. Saya memilih mengingatkan, memberikan contoh, dan mengajak mereka memperbaiki kesalahan bersama-sama.

Saya menyadari bahwa membangun karakter membutuhkan proses. Satu kali nasihat mungkin belum cukup. Satu kali kegiatan bersih-bersih mungkin belum menghasilkan kebiasaan. Namun, jika dilakukan berulang-ulang dengan keteladanan dan kesabaran, kebiasaan kecil perlahan dapat menjadi karakter.

Dari pengalaman tersebut, saya semakin yakin bahwa perubahan besar memang dapat dimulai dari rumah, kemudian dibawa ke sekolah melalui keteladanan. Saya sebagai guru tidak ingin hanya menjadi orang yang mengatakan kepada siswa, “Jagalah kebersihan!” Saya ingin menjadi orang yang juga mengambil sampah ketika melihatnya, merawat tanaman ketika melihatnya membutuhkan perhatian, menutup keran setelah digunakan, dan mematikan lampu ketika ruangan tidak diperlukan.

Saya ingin siswa melihat bahwa menjaga lingkungan bukan sebuah tugas yang berat. Ia dapat dimulai dari tindakan yang sangat sederhana: satu sampah yang dipungut, satu tanaman yang disiram, satu keran yang ditutup, dan satu lampu yang dimatikan.

Bagi saya, SD Al Muslim bukan hanya tempat untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat untuk menanamkan kebiasaan baik. Apa yang saya biasakan di rumah menjadi bekal untuk saya contohkan di sekolah. Apa yang saya contohkan di sekolah, saya berharap dapat menjadi kebiasaan yang dibawa siswa ke rumah mereka.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa guru adalah teladan sebelum menjadi pengajar. Ketika kebiasaan baik dimulai dari diri sendiri, kemudian diterapkan secara konsisten kepada siswa, lingkungan sekolah perlahan akan berubah menjadi lebih bersih, hijau, asri, dan nyaman. Keteladanan seperti inilah yang ingin terus saya tumbuhkan di SD Al Muslim.

Saya mungkin tidak dapat mengubah lingkungan dalam satu hari. Namun, saya percaya bahwa satu kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari dapat mengubah banyak hal. Dari rumah saya belajar peduli, di sekolah saya mengajak siswa berbagi kepedulian, dan bersama-sama kami menjadikan SD Al Muslim sebagai rumah kedua yang bersih, hijau, dan penuh tanggung jawab.

Dari diri sendiri, dimulai dari rumah. Dari rumah dibawa ke sekolah. Dari sekolah, tumbuh menjadi kebiasaan. Dan dari kebiasaan kecil itu, lahirlah teladan besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *