
Membahas soal pendidikan menjadi topik perbincangan yang tidak akan pernah bosannya untuk di diskusikan. Hal itu nampak jelas karena Indonesia merupakan salah satu negara yang relatif sering melakukan perubahan kurikulum jika dibandingkan dengan beberapa negara lain. Beberapa faktor penyebabnya antara lain sebagai bentuk upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan menanggapi tantangan global serta lokal, selain itu juga upaya pemerintah memenuhi kebutuhan dunia pendidikan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Jika kita melihat pada upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan dan menanggapi tantangan global seharusnya hal tersebut juga dapat dirasakan oleh seluruh peserta didik dengan beragam karakteristik dan keunikannya. Kita sebut saja salah satu bagian dari peserta didik itu adalah siswa inklusi, sejak mulai disosialisasikannya pendekatan deep learning dalam kurikulum Merdeka proses pembelajaran bagi siswa inklusi mulai menjadi sorotan dan perhatian. Bagaimana tidak, mereka merupakan bagian dari generasi penerus bangsa yang juga memiliki peluang untuk dapat melejitkan potensi diri mereka untuk kemajuan Indonesia.
Siswa inklusi merupakan peserta didik yang memiliki karakteristik belajar unik dan membutuhkan dukungan yang lebih terarah agar dapat berkembang secara optimal. Di sekolah, mereka seringkali berhadapan dengan berbagai tantangan, mulai dari kesulitan mengikuti alur pembelajaran di kelas, kurangnya strategi diferensiasi, hingga kurangnya pemahaman lingkungan terhadap kebutuhan mereka. Sementara di rumah, orang tua sering mengalami kebingungan dalam memberikan pendampingan yang tepat atau seringkali mengalami cemas yang berlebih terhadap capaian akademik anak. Kondisi ini membuat siswa inklusi dinilai berdasarkan kekurangannya, bukan pada kelebihan yang mereka punya. Padahal, setiap anak menyimpan potensi yang dapat tumbuh dan bersinar apabila diberi kesempatan, dukungan, dan pendekatan yang sesuai dengan kemampuannya. Oleh sebab itu, menjadi penting bagi sekolah dan keluarga untuk menggeser paradigma mereka, dari fokus pada keterbatasan menuju upaya menemukan dan mengembangkan potensi terbaik setiap anak.
Tentu kita masih ingat dengan Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 yang menegaskan bahwa pendidikan inklusif memberi kesempatan seluas-luasnya bagi peserta didik berkebutuhan khusus untuk belajar bersama teman sebaya dalam lingkungan yang sama tanpa diskriminasi . Dengan demikian, pendidikan inklusi bukan hanya pilihan institusi, melainkan komitmen bersama untuk membuka akses, menghapus stigma, dan memastikan setiap anak dapat berkembang sesuai potensinya. Upaya ini tidak semata-mata hanya dilakukan oleh institusi pendidikan dalam hal ini lingkungan sekolah namun juga peran keluarga (orang tua) juga turut memiliki peran utama.
Salah satu langkah penting yang perlu dilakukan oleh institusi sekolah adalah mengidentifikasi potensi dan kebutuhan siswa sejak dini melalui observasi, asesmen, serta komunikasi yang berkesinambungan antara guru, guru BK, dan orang tua. Proses ini akan membantu sekolah memberikan layanan yang tepat sasaran, termasuk dukungan bimbingan dan konseling (BK) yang tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga perkembangan sosial-emosional siswa. Selain itu, sekolah perlu menciptakan lingkungan belajar yang ramah dan adaptif, di mana perbedaan cara belajar dipahami sebagai kekuatan, bukan hambatan. Lingkungan seperti ini membuka ruang bagi setiap anak untuk merasa diterima, percaya diri, dan mampu menunjukkan potensi terbaiknya.
Keluarga memegang peran penting dalam mendukung keberhasilan pendidikan siswa inklusi melalui pemberian dukungan emosional dan motivasi yang berkesinambungan oleh orang tua. Kehangatan keluarga dan rasa keberhargaan yang dibangun membantu anak membangun rasa percaya diri terhadap kemampuan dirinya. Selain itu, komunikasi yang terbuka dan kolaboratif dengan pihak sekolah menjadi kunci dalam menyelaraskan strategi pendampingan sehingga kebutuhan anak dapat terfasilitasi secara tepat. Pendampingan di rumah juga diperlukan untuk membantu anak mengembangkan kemandirian belajar, sekaligus memastikan bahwa intervensi yang diberikan di sekolah mendapat penguatan dalam lingkungan keluarga. Dengan demikian, keterlibatan aktif orang tua memiliki peran signifikan dalam menciptakan ekosistem belajar yang kondusif bagi perkembangan optimal anak.
Sinergi antara rumah dan sekolah merupakan kunci dalam mendukung perkembangan optimal siswa inklusi. Komunikasi yang terbuka dan kolaboratif memungkinkan kedua pihak saling memahami kebutuhan anak secara komprehensif. Melalui rencana dukungan bersama yang disusun secara terarah, strategi pendampingan dapat diterapkan secara konsisten baik di sekolah maupun di rumah. Kolaborasi ini berdampak signifikan terhadap perkembangan anak, membantu mereka tumbuh lebih percaya diri, mandiri, serta mampu menampilkan potensi terbaiknya dalam proses belajar.
Setiap anak memiliki kesempatan untuk “bersinar” ketika diberi ruang untuk tumbuh sesuai potensinya. Sinergi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan menjadi kunci dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi seluruh anak, termasuk siswa inklusi. Oleh karena itu, diperlukan komitmen bersama untuk terus mewujudkan pendidikan yang inklusif, ramah, serta berpihak pada keberagaman agar tidak ada satu pun anak yang tertinggal dalam proses belajar dan perkembangan dirinya sehingga setiap anak dapat tumbuh menjadi individu terbaik versi dirinya.
