Oleh: Hartini Yuningsih, S. Pd

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan literasi merupakan kompas yang menentukan arah. Tanpa literasi yang baik seseorang akan mudah tersesat oleh berita yang tidak benar, bahkan bisa tertinggal oleh persaingan. Oleh karena itu, meningkatkan literasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus dimulai dari rumah dan sekolah. Saya seorang ibu maupun pendidik terus berupaya menguatkan budaya literasi melalui berbagai pembelajaran. Di sekolah, maupun kegiatan di kelas setiap levelnya anak-anak giat diberikan pembelajaran literasi yang kreatif. Saat awal sosialisa si program dimana kita ada pertemuan antara guru dan orangtua murid diadakan komunikasi untuk program literasi yang ada di sekolah, diantaranya menyiapkan buku cerita sesuai ketentuan minimal satu buah untuk disimpan di kelas. Di kelas sesuai levelnya akan ada waktu husus untuk membaca perorangan maupun klasikal, bahkan ada pertemuan membaca secara keseluruhan yaitu gabungan beberapa level kelas yang biasa dinamakan readhanton.
Ada beberapa hal menarik di sekolah kami untuk menunjang pembelajaran kreatif diantaranya pojok baca, di setiap kelas memiliki pojok baca yang di desain bersama para siswa dan walikelas. Setiap siswa antusias membaca dan bergantian dari buku ke buku lainnya. Bahkan di setiap kesempatan para siswa bisa membaca di perpustakaan SD dan dapat meminjam untuk dibawa pulang. Ada pula pohon literasi yang dipampang besar didepan kelasku, disitu tertera judul buku-buku yang telah dibaca dari perpustakaan milik SD Al Muslim, bahkan murid yang dengan kesadaran diri rajin untuk membaca di sela-sela jam istirahat akan diberikan hadiah dan apresiasi pustakawan cilik yang diberi kesempatan mengunjungi perpustakaan nasional.
Pada kegiatan lain anak-anak diberikan fasilitas hasil karya tulisannya dapat di cetak kedalam buku, dapat buku tunggal maupun antologi. Jadi, setiap pengalaman yag dilakukan oleh para siswa dapat dituangkan langsung melalui tulisannya, bisa berupa cerita pendek maupun cerita bergambar. Habit yang biasa dilakukan anak Sd untuk dicetak tulisannya adalah kegiatan belajar diluar yaitu jelajah literasi. Pengalaman belajar seharian diluar sekolah inilah yang nantinya dikembangkan oleh siswa dengan gaya menulis kosakata yang dimiliki masing-masing. Mereka juga akan belajar untuk mempresentasikan cerita yang ditulis dihadapan masing-masing teman di depan kelas, sehingga literasinya terus terpantau melalui proses dari tahun ke tahun, dan ini berlaku mulai dari kelas 1 SD.
Pada kegiatan ekspo atau puncaknya penghargaan sekolah, diumumkan prestasi-prestasi terbaik diantaranya adalah prestasi literasi terbaik yaitu dapat membuat buku dan dicetak ke penerbit. Kegiatan ini ternyata sangat memberi makna yang baik bagi diri siswa maupun sekolah, Sekolah Al Muslim Bekasi terbukti sekolah yang memberikan kontribusi besar terhadap Literasi pendidikan Indonesia, dan pernah di sematkan di Kota Padang. Suatu kebanggan tersendiri bagi saya yang ikut berperan serta menggerakkan pembiasaan literasi ini.
Dari cerita yang saya jelaskan, sedikit saya beri kesimpulan bahwa Meningkatkan literasi sekolah tidak selalu membutuhkan biaya yang mahal atau fasilitas yang mewah. Melalui gerakan membuat cerita satu buku kita membuktikan bahwa langkah kecil yang dilakukan bersama-sama secara konsisten mampu membawa perubahan besar. Mari kita jadikan buku sebagai sahabat terbaik siswa, demi masa depan generasi bangsa yang cerdas, kritis, dan berwawasan luas!

